Alat Bukti Perdata : Pengakuan

Loading...

Pembahasan Mengenai Alat Bukti Pengakuan Sebagai Alat Bukti Perdata

Hai Pembaca, Kali ini Informasi Ahli akan membahas mengenai alat bukti pengakuan sebagai alat bukti perdata.
 
Pengertian Pengakuan adalah keterangan yang baik tertulis maupun lisan, yang membenarkan peristiwa, hak atau hubungan hukum yang dikemukakan pihak lawan.
 
Macam Macam Pengakuan ada 2, yaitu pengakuan yang dilakukan di depan sidang pengadilan dan pengakuan yang dilakukan di luar sidang pengadilan.
 
1. Pengakuan Di Depan Sidang Pengadilan
Pengakuan di depan sidang pengadilan menurut UU merupakan bukti yang sempurna terhadap siapa yang melakukannya, baik sendiri maupun dengan perantaraan orang lain yang telah mendapat kuasa khusus untuk itu.
 
Dengan demikian, apabila tergugat melakukan pengakuan di depan sidang pengadilan terhadap gugatan penggugat, penggugat tidak perlu lagi mengadakan pembuktian karena dengan pengakuan tergugat tersebut sudah cukup untuk membuktikan peristiwa atau hubungan hukum yang menimbulkan hak baginya. Dengan adanya pengakuan tergugat tersebut maka perselisihannya dianggap selesai, sekalipun mungkin sekali pengakuan tersebut tidak benar, namun hakim tidak perlu meneliti kebenaran pengakuan tersebut.
 
Jadi, pengakuan pada hakikatnya bukanlah merupakan pernyataan mengenai kebenaran sesuatu hal, melainkan lebih merupakan kehendak untuk menyelesaikan perkara. Oleh karena itu, pengakuan itu pada hakikatnya bukanlah merupakan alat bukti.
 
Pengakuan hanyalah mengikat terhadap pihak yang melakukannya, tidak mengikat terhadap pihak lain, maka apabila dalam suatu perkara perdata pihak tergugat terdiri dari 2 orang atau lebih, pengakuan salah seorang tergugat tersebut tidak mengikat terhadap tergugat lainnya. Berdasarkan yurisprudensi tetap mengenai hukum pembuktian dalam acara khususnya pengakuaan, hakim berwenang menilai suatu pengakuan sebagai tidak mutlak karena diajukan tidak sebenarnya. Pengakuan salah seorang tergugat atau turut banding yang memihak kepada penggugat atau terbanding, karena tidak disertai alasan-alasan yang kuat, menurut hukum tidak dapat dipercaya.
2. Pengakuan Di Luar Sidang Pengadilan
Pengakuan yang dilakukan di luar sidang pengadilan menurut UU tidak merupakan bukti yang mengikat, tetapi bukti bebas. Apabila pengakuan di luar sidang pengadilan dilakukan secara tertulis, tulisan yang memuat pengakuan tersebut dapat digolongkan sebagai bukti tulisan yang bukan akta, yang juga memiliki kekuatan bebas. Pengakuan di luar sidang pengadilan dapat ditarik kembali.
 
Wirjono Prodjodikoro mengatakan bahwa sebaiknya dalam menghadapi pengakuan dengan tambahan itu, hakim memiliki kebebasan untuk menetapkan sampai di mana kekuatan pembuktian pada pengakuan tersebut, sama seperti pengakuan di luar sidang pengadilan. Apabila hakim yakin (dengan cara bagaimanapun juga) bahwa penggugatlah yang jujur, penggugat harus dilindungi. Jika hakim yakin bahwa tergugatlah yang jujur, tergugatlah yang harus dilindungi, yaitu dengan memberikan beban pembuktian kepada pihak lawan.
 
Ilmu Pengetahuan membagi macam macam pengakuan menjadi 3, yaitu :
1. Pengakuan Murni adalah pengakuan yang sifatnya sederhana dan sesuai sepenuhnya dengan tuntutan pihak lawan.
2. Pengakuan dengan kualifikasi adalah pengakuan yang disertai dengan sangkalan terhadap sebagian tuntutan.
3. Pengakuan dengan klausula adalah pengakuan yang disertai dengan tambahan yang bersifat membebaskan.
 
Alat bukti perdata selanjutnya akan dibahas dalam tulisan yang lain, silahkan di lihat di daftar isi atau related posts di bawah. Sekian dari Informasi ahli mengenai alat bukti pengakuan sebagai alat bukti perdata, semoga tulisan informasi ahli mengenai alat bukti pengakuan sebagai alat bukti perdata dapat bermanfaat.

Sumber : Tulisan Informasi Ahli :

– Riduan Syahrani, 2009. Buku Materi Dasar hukum Acara Perdata. Penerbit PT Citra Aditya Bakti : Bandung.
Gambar Alat bukti pengakuan
Gambar Alat bukti pengakuan