Proses Lahirnya Hukum Adat

Loading...

Pembahasan Mengenai Proses Lahirnya Hukum Adat

Hai Pembaca, Kali ini Informasi Ahli akan membahas mengenai proses lahirnya hukum adat.
 
Kata “Adat” berasal dari bahasa Arab yang berarti kebiasaan. Terjadinya hukum bermula dari pribadi manusia yang menimbulkan “kebiasaan pribadi” kemudian ditiru orang lain, maka perlahan kebiasaan itu menjadi “adat” yang harus berlaku bagi semua anggota masyarakat, sehingga menjadi “hukum adat”.
 
Hukum adat, merupakan terjemahan dari adapt recht. Nomenklatur ini pertama kalinya diperkenalkan secara ilmiah oleh Prof. Dr. C Snouck Hurgronje. Kemudian pada tahun 1893, Prof. Dr. C. Snouck Hurgronje dalam bukunya yang berjudul “De Atjehers” menyebutkan istilah hukum adat sebagai “adat recht” (bahasa Belanda) yaitu untuk memberi nama pada satu sistem pengendalian sosial (social control) yang hidup dalam Masyarakat Indonesia.
 
Istilah ini kemudian dikembangkan secara ilmiah oleh Cornelis van Vollenhoven yang dikenal sebagai pakar Hukum Adat di Hindia Belanda (sebelum menjadi Indonesia). Menurut Van Vollenhoven, Hukum adat merupakan nomenklatur yang terbaik yang menunjukkan sebagai suatu sistem hukum asli yang sesuai dengan alam pikiran masyarakat yang mendiami seluruh penjuru Nusantara, meskipun nomenklatur itu bukanlah penamaan asli Indonesia.
 
Hukum Adat adalah sistem hukum yang dikenal dalam lingkungan kehidupan sosial di Indonesia dan negara-negara Asia lainnya seperti Jepang, India, dan Tiongkok. Sumbemya adalah peraturan-peraturan hukum tidak tertulis yang tumbuh dan berkembang dan I dipertahankan dengan kesadaran hukum masyarakatnya. Karena peraturan-peraturan ini tidak tertulis dan tumbuh kembang, maka hukum adat memiliki kemampuan menyesuaikan diri dan elastis.
 
Hilman Hadikusuma mengatakan bahwa dalam perundang-undangan, istilah Hukum adat itu baru muncul pada tahun 1920 yang dikenal pada abad ke 20. Jauh sebelum dipakai dalam perundang-undangan, istilah hukum adat semakin sering dipakai dalam literature (kepustakaan) tentang Hukum Adat, dikenal pada jilid 1 dalam buku Van Vollenhoven, “Het Adatrecht van Nederlandsch Indie“, maka tidak ada lagi buku mengenai hukum asli (tradisionil) di Indonesia yang memakai istilah lain dari pada istilah Adatrecht untuk menyatakan hukum adat itu.
Menurut van Vollenhoven yang dikutip Moh. Koesnoe dalam Catatan-catatan Terhadap Hukum Adat Dewasa Ini dalam hasil telaahnya ternyata memisahkan adat (yaitu adat yang tanpa akibat hukum) dari hukum adat (yaitu adat yang mempunyai akibat hukum).
 
Istilah Hukum Adat ini juga diperkenalkan di kalangan banyak orang yang hanya terdengar kata “adat” saja. Kata “adat” ini, sebenarnya berasal dari bahasa Arab yang berarti kebiasaan. Berdasarkan hal tersebut, dilihat dari perkembangan hidup manusia, terjadinya hukum bermula dari pribadi manusia yang diberi oleh Tuhan akal pikiran dan perilaku. Perilaku yang terus menerus dilakukan perorangan menurut Hilman menimbulkan “kebiasaan pribadi”.
 
Bila kebiasaan pribadi itu ditiru orang lain, maka ia juga akan menjadi kebiasaan orang itu. Lambat laun diantara orang yang satu dan orang yang lain di dalam kesatuan masyarakat ikut pula melaksanakan kebiasaan itu. Kemudian apabila seluruh anggota masyarakat melakukan perilaku kebiasaan tadi, maka lambat laun kebiasaan itu menjadi “adat” dari masyarakat itu. Jadi adat adalah kebiasaan masyarakat, dan kelompok-kelompok masyarakat lambat laun menjadikannya sebagai adat yang harus berlaku bagi semua anggota masyarakat, sehingga menjadi “hukum adat”. Jadi hukum adat adalah adat yang diterima dan harus dilaksanakan dalam masyarakat bersangkutan.
 
Jika populasi kelompok masyarakat terus mengalami pertumbuhan kemudian terjadi pula penggabungan antara kelompok masyarakat yang satu dan lainnya karena pertalian perkawinan dalam suatu kelompok keluarga, lalu membentuk persekutuan hukum yang disebut sebagai persekutuan hukum adat, maka secara berangsur-angsur terbentuklah sistem pemerintahan yang dapat disebut sebagai suatu negara. Pada tingkatan kenegaraan, barulah menjelma menjadi sebuah hukum negara. Karena sifatnya tertulis, maka hukum negara tersebut menjadi hukum perundangan.
 
Dengan demikian proses kelahiran hukum adat cikal bakalnya dimulai dari suatu kebiasaan pribadi. Perkembangan semnjutnya terjadi karena adanya interaksi antar sesama manusia yang melahirkan peniruan sehingga berkembang menjadi suatu kebiasaan. Dari situlah kemudian lahir menjadi adat sehingga membuahkan hukum. Inilah yang dimaskud oleh Hilnvan Hadikusuma sebagai alur pemberlakuan hukum adat yang dimulai dari manusia melalui pikiran, kehendak dan prilakunya sehingga kemudian berubah menjadi suatu kebiasaan. Dari kebiasaan berkembang menjadi adat dan selanjutnya menjadi hukum adat atau hukum rakyat.
 
Tata alur inilah yang menunjukkan proses beralihnya istilah adat (adatrecht) menjadi hukum adat sebagai sebuah proses keteraturan yang diterima sebagai kaidah. Menurut Suryono Soekanto, jika suatu kebiasaan diterima sebagai kaidah, maka kebiasaan tersebut memiliki daya mengikat menjadi tata kelakuan. Adapun ciri-ciri pokoknya adalah (1) merupakan sarana untuk mengawasi perikelakuan masyarakat, (2) tata kelakuan merupakan kaidah yang memerintahkan atau sebagai patokan yang membatasi aspek terjang warga masyarakat, (3) tata kelakuan mengidentifikasikan pribadi dengan kelompoknya, dan (4) tata kelakuan merupakan salah satu sarana untuk mempertahankan solidaritas masyarakat.
 
Otje Salman Soemadiningrat mengatakan adanya syarat untuk menjadikan kebiasaan sebagai hukum yaitu sebagai berikut :
Pertama; masyarakat meyakini adanya keharusan yang harus dilaksanakan (beseefvan behoren), Kedua; pengakuan atau keyakinan bahwa kebiasaan tersebut bersifat mengikat (kewajiban yang harus ditaati) atau dikenal dengan prinsip opinio necessitas. Ketiga; Adanya pengukuhan yang dapat berupa pengakuan dan (erkenning) dan atau penguatan (ibekrachtiging) dari keputusan yang berwibawa (atau pendapat umum, yurisprudensi, dan doktrin.
 
Sekian dari informasi ahli mengenai proses lahirnya hukum adat, semoga tulisan informasi ahli mengenai proses lahirnya hukum adat dapat bermanfaat.

Sumber : Tulisan Informasi Ahli :

– A. Suriyaman Mustari Pide, 2009. Hukum Adat : Dulu, Kini dan Akan Datang. Yang Menerbitkan Pelita Pustaka : Makassar.
Gambar Proses lahirnya hukum adat
Gambar Proses lahirnya hukum adat