Loading...

Filsafat Hukum : Aliran Legal Realisme

Pembahasan Mengenai Aliran Legal Realisme Dalam Filsafat Hukum

Hai Pembaca, Kali ini Informasi Ahli akan membahas mengenai aliran legal realisme dalam filsafat hukum.
 
Pencetus aliran Legal Realisme ini adalah John Chipman, Gray, Oliver Wendell Holmes, Karl Llewellyn, Jerome Frank dan William James. Inti ajaran yang disampaikan bahwa legal realisme ini sebenarnya bukan sebuah aliran, melainkan lebih pada suatu gerakan dalam cara berpikir tentang hukum. Legal realisme sebenarnya dapat digolongkan dalam positivisme, namun lebih menempatkan hakim sebagai sumber hukum yang terpenting bukan undang-undang.
 
Konsepsi yang diajarkan legal realisme adalah mengenai hukum yang berubah-ubah dan sebagai alat untuk mencapai tujuan, oleh karena itu setiap bagiannya harus diselidiki mengenai tujuan maupun hasilnya, berarti keadaan sosial lebih cepat berubah daripada hukum. Dalam rangka suatu penyelidikan realisme memisahkan antara Sollen dan Scin, hal itu dimakudkan agar penyelidikan itu mempunyai tujuan, maka hendaknya diperhatikan adanya nilai-nilai, sedangkan penyelidikan akan nilai-nilai itu harus dilakukan secara objektif, tidak boleh dipengaruhi oleh kehendak pengamat maupun tujuan kesusilaan.
 
Ajaran legal realisme tidak mendasarkan pada konsep-konsep hu­kum tradisonal, tetapi lebih pada melukiskan apa yang dilakukan sebena­rnya oleh pengadilan dan perilaku orang-orangnya. Untuk itu dirumuskan definisi dalam peraturan yang merupakan ramalan umum tentang apa yang akan dikerjakan oleh pengadilan. Berdasarkan keyakinannya itu maka aliran realisme menggolongkan perkara dan keadaan hukum yang lebih kecil jumlahnya daripada penggolongan masa lampau yang jumlahnya lebih besar.
 
Inti ajaran realisme walaupun tergolong paham positivisme hukum, dia tidak menempatkan undang-undang sebagai sumber hukum yang utama, sedangkan yang menjadi sumber hukum utama adalah hakim, karenanya hakim dijadikan sebagai titik pusat perhatian dan penyelidikan tentang hukum. Pembentukan perundang-undangan masih sangat dipengaruhi oleh unsur logika, unsur kepribadian dan prasangka, di samping unsur-unsur lainnya yang sangat berpengaruh sangat besar, contohnya faktor politik, ekonomi dan lain sebagainya.
 
Aliran legal realisme berpendapat bahwa tidak ada hukum yang mengatur suatu perkara sampai adanya putusan hakim terhadap perkara itu. Hakim dianggap sebagai pemikir yang ulung serta menguasai segalanya, sehingga tugasnya hanya melaksanakan hukum dengan menggunakan logika dan sylogisme, karenanya hakim diberi keleluasaan untuk menggu­nakan analogi dalam memutuskan suatu perkara. Walaupun faktor-faktor non-yuridis lainnya juga sangat berpengaruh terhadap pembentukan hukum, tetapi semboyannya adalah semua hukum adalah hukum yang dibuat oleh hakim (all the law is judggemade law).
 
Peranan hakim begitu besar dalam pembentukan hukum, sehingga perlu diselidiki lebih mendalam tentang kualitas individu hakim itu. Wa­laupun pembentukan hukum itu merupakan proses logika, tetapi proses logika itu harus bersandarkan pada keadilan, jangan sampai proses logika saja dapat terpengaruh dari dari faktor-faktor non-yuridis. Peranan ha­kim yang begitu besar harus bisa dijadikan alat untuk membangun masyarakat, oleh karenanya hukum yang dibuat harus dapat melindungi kepentingan umum, kepentingan masyarakat dan kepentingan pribadi.
 
Sekian dari informasi ahli mengenai aliran legal realisme dalam filsafat hukum, semoga tulisan informasi ahli mengenai aliran legal realisme dalam filsafat hukum dapat bermanfaat.

Sumber : Tulisan Informasi Ahli :

– Agus Santoso, 2014. Hukum, Moral, Dan Keadilan. Yang Menerbitkan Kencana Prenada Media Group : Jakarta.
Gambar Aliran Legal Realisme Dalam Filsafat Hukum

Gambar Aliran Legal Realisme Dalam Filsafat Hukum

 
Filsafat Hukum : Aliran Legal Realisme | ali samiun |