Loading...

Filsafat Hukum Islam

Pembahasan Mengenai Aliran Filsafat Hukum Islam

Hai Pembaca, Kali ini Informasi Ahli akan membahas mengenai aliran filsafat hukum islam.
 
Ajaran Filsafat Hukum Islam hampir tidak ada dalam literatur filsa­fat hukum di Indonesia, semua penulis filsafat hukum tidak memasukkan filsafat hukum Islam dalam berbagai karya ilmiahnya. Entah karena apa hal itu bisa terjadi, apakah filsafat hukum Islam dianggap lebih rendah nilainya dibandingkan dengan hukum yang dianggap modern yang diberlakukan di beberapa negara Barat, seperti Belanda, Jerman, Amerika dan Inggris. Ajaran filsafat hukum islam bukan saja tidak diajarkan dan dilaksanakan melainkan telah mendapatkan serangan dari berbagai pihak dan ironisnya serangan-serangan itu datang dari umat Islam sendiri.
 
Filsafat hukum yang diajarkan oleh para filsuf berkisar tentang sejarah hukum, hakikat hukum dan teori hukum. Aliran hukum alam yang  semula mendominasi pemikiran tantang hukum berpendapat bahwa hu­kum itu berlaku universal dan abadi, mengetahui sejarah hukum alam berarti mengetahui sejarah umat manusia dalam usahanya untuk mencari keadilan yang mutlak. Hukum alam terdiri dari hukum alam yang irasional dan rasional. Hukum alam yang irasional berasal dari Tuhan, sedangkan hukum alam yang rasional berasal dari rasio manusia, sedangkan rasio manusia itu berasal dari Tuhan juga, dengan demikian hukum alam itu berasal dari Tuhan juga.
 
Rasa pesimis hendaknya dihilangkan, karena pada kesempatan ini akan diulas mengenai filsafat hukum Islam dan menjadikannya hukum Is­lam itu sejajar dengan hukum yang lainnya. Senada dengan itu, Lippman berpendapat bahwa Common Law, Civil Law, dan Islamic Law merupakan tiga tradisi hukum yang utama saat ini, mencakup kegiatan hukum dan filosofi dari mayoritas bangsa-bangsa di dunia. Bahwa jika hukum konvensional menginginkan akan keadilan yang hakiki, maka demikian pula halnya hukum Islam tidak mungkin diadakan jika tidak berdasar atas keadilan.

Filsafat Hukum Islam mengambil pandangan tentang hukum bersifat teleologis, yang menyatakan bahwa adanya hukum adalah mempunyai maksud tertentu, tidak dapat disangkal bahwa setiap sistem hukum diorientasikan untuk mencapai tujuan tertentu yang menuntun pelaksanaan. Hukum Islam atau Syariat adalah sistem ketuhanan yang dinobatkan untuk menuntun umat manusia menuju ke jalan damai di dunia ini dan bahagia di hari kiamat. Mengatur dengan kekuatan bukan tujuan syariat, keadilan adalah tujuan utama. Keadilan menurut syariat adalah perintah yang lebih tinggi karena tidak hanya memberikan setiap orang akan haknya tetapi juga sebagai rahmat dan kesembuhan dari sakit. Berlaku adil dianggap sebagai langkah takwa setelah iman kepada Allah.
 
Hukum dalam pandangan Islam berasal dari bahasa Arab, yaitu Hukum, yang berarti putusan pengadilan (hakim) atau putusan yang ditetapkan sebagai undang-undang. Menurut Hisako Nakamura, seorang peneliti dari Jepang, Hukum adalah Suatu kompilasi yang komprehensif dari putusan dan pendapat dari ulama terhadap berbagai masalah dengan menunjuk pada syariat (contohnya apakah suatu perbuatan manusia itu masuk fardu, mandub, mubah atau haram dalam sudut pandang agama). Dalam bahasa Indonesia terhadap syariat Islam digunakan istilah hukum syariat atau hukum syara, sedangkan untuk fikih Islam digu­nakan hukum fikih atau hukum Islam.
 
Kata hakim secara etimologi berarti “orang yang memutuskan hu­kum.” Dalam istilah fikih, kata hakim juga dipakai sebagai orang yang memutuskan hukum di pengadilan yang sama maknanya dengan qadhi. Dalam kajian ushul fiqih, kata hakim berarti pihak penentu dan pembuat hukum syariat secara hakiki. Para ulama ushul fiqih sependapat bahwa yang menjadi pembuat hukum hanyalah Allah melalui wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, berupa Al-Quran yang berisi tentang perintah dan/atau langangan, bahwa Allah-lah sebenarnya pemberi keputusan yang paling baik dan paling adil.
 
Sumber Sumber Hukum Islam adalah Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW, kedua sumber hukum Islam itu disebut juga dalil pokok hu­kum Islam karena keduanya merupakan petunjuk (dalil) utama kepada hukum Allah. Ada juga dalil lain selain Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW, seperti ijma dan qiyas yang dikembangkan oleh ahli hukum kebangsaan Mesir, digunakan sebagai pendukung Al-Quran dan Sunnah. Adapun mengenai keharusan berpegang pada keempat sumber tersebut merupakan wajib yang harus diikuti dalam menjalankan hukum Islam.
 
1. Al-Quran
 
Pengertian Al-Quran adalah perkataan Allah yang diturunkan oleh Ruhul Amin ke dalam hati Rasulullah Muhammad bin Abdullah, dengan lafaz bahasa Arab berikut artinya. Agar menjadi hujah bagi Rasulullah SAW bahwa dia adalah seorang utusan Allah SWT. Menjadi Undang-Undang Dasar bagi orang-orang yang mendapat petunjuk dari Allah. Dengan membaca Al-Quran itulah maka orang menghampirkan diri kepada Allah dan menyembahnya.
 
Al-Quran kemudian dibukukan dalam bentuk kodifikasi yang sekarang dikenal sebutan kitab suci Al-Quran. Ditulis dengan jelas menggunakan lafaz bahasa Arab dengan tata bahasa yang sangat tinggi, berurutan dimulai dari surat al-Faatihah dan ditutup dengan surat an-Naas, serta telah diterjemahkan dengan bahasa Indonesia beserta tafsirnya agar dapat dipelajari oleh setiap generasi. Bahwa Al-Quran sebagai bukti hujah terhadap setiap orang. Hukum Al-Quran itu sebagai undang-undang yang wajib diikuti oleh setiap manusia, isinya tidak meragukan lagi, karena masih menggunakan bahasa aslinya tanpa ada sedikit pun kelemahannya, hingga kini tidak ada satu pun manusia yang dapat menandingi kehebatan Al-Quran.
 
Ada tiga macam hukum yang terdapat dalam Al-Quran, yaitu :
1. Hukum itiqadiah, yaitu yang bersangkutan apa yang diwajibkan kepada mukalaf tentang iktikadnya kepada Allah, Malai- kat-Nya, Kitab-Nya, Rasul-Nya dan hari akhirat.
2. Hukum khuliqiah, yaitu yang bersangkutan dengan apa yang diwajibkan kepada mukalaf, akan meningkatkan moral, budi pekerti, adab sopan santun dan menjatuhkan diri dari sikap yang tercela.
3. Hukum amaliah, yaitu yang bersangkutan dengan apa yang bersumber dari perkataan, perbuatan, perjanjian dan segala macam tindakan. Macam yang ketiga ini, fik-hul Quran, yaitu maksud menyampaikan kepadanya itu ialah dengan ushul fiqih.
 
Abdul Wahhab Khallaf memerinci macam-macam hukum bidang muamalat sebagai berikut :
a. Hukum keluarga, mulai dari terbentuknya pernikahan sampai masalah talak, rujuk, idah dan sampai ke masalah warisan.
b. Hukum muamalat (perdata), yaitu hukum yang mengatur hubungan seseorang dengan yang sejenisnya, seperti jual beli, sewa-menyewa, gadai-manggadai, syirkah (kongsi dagang), utang piutang dan hu­kum perjanjian. Hukum ini mengatur hubungan peroranagan, masyarakat, hal-hal yang berhubungan dengan harta kekayaan, dan memelihara hak dan kewajiban masing-masing.
c. Hukum jinayat (pidana), yaitu hukum yang menyangkut dengan tindakan kejahatan. Hukum seperti ini bermaksud untuk memelihara stabilitas masyarakat, seperti larangan membunuh serta sanksi hukumannya, larangan menganiaya orang lain, berzina, mencuri, la­rangan merampok, serta ancaman hukuman atas perlakuannya.
d. Hukum al-murafaat (acara), yaitu hukum yang berkaitan dengan peradilan, kesaksian dan sumpah. Hukum seperti ini dimaksudkan agar putusan hakim dapat seobjektif mungkin dan untuk itu diatur hal-hal yang memungkinkan untuk menyingkap mana pihak yang benar dan mana yang salah.
e. Hukum ketatanegaraan, yaitu ketentuan-ketentuan yang berhubung­an dengan pemerintahan. Hukum seperti ini dimaksudkan untuk mengatur hubungan penguasa dengan rakyat dan mengatur hak pribadi dan masyarakat.
f. Hukum antarbangsa (internasional), yaitu hukum yang mengatur hu­bungan antara negara Islam dengan negara non-Islam dan tata cara pergaulan orang Islam dengan orang nonmuslim yang berada di negara Islam.
g. Hukum ekonomi dan keuangan, yaitu hukum yang mengatur hak fakir miskin dari harta orang kaya. Hukum semacam ini dimaksudkan untuk mengatur hubungan keuangan antara orang berpunya dan orang yang tidak berpunya, dan antara negara dan perorangan.
 
 
2. Sunnah Rasulullah SAW
 
Kata Sunnah secara bahasa adalah perilaku seorang tertentu, baik perilaku yang baik maupun perilaku yang buruk. Menurut ushul fiqh, Sunnah Rasulullah SAW adalah segala perilaku Rasulullah yang berhubungan dengan hukum, baik berupa ucapan, perbuatan, maupun pengakuan serta ketetapannya. Barangsiapa yang melakukan perilaku Rasu­lullah dalam segala aspek. kehidupan berarti sudah menjalankan hukum Islam, maka bagi orang-orang yang demikian itu akan mendapatkan pahala dari Allah. Sesungguhnya jika menjalankan perilaku Rasulullah be­rarti juga telah menjalankan Al-Quran dan merupakan bukti ketaatan kepada Rasulullah.
 
Dalam menjalankan hukum itu, mengikuti apa yang telah dilaksanakan oleh Rasulullah berarti sudah meneladani Rasulullah sebagai hujah. Dalam menetapkan hukum nash yang diambil adalah Al-Quran, kecuali bila tidak terdapat dalam Al-Quran, maka harus kembali pada Sunnah, oleh karena itu Sunnah Rasulullah itu merupakan :
1. Suatu ketetapan dan menguatkan hukum yang terdapat dalam Al-Quran. Karena hukum itu mempunyai dua sumber, yaitu dari Al-Quran dan Sunnah Rasulullah.
2. Sunnah merupakan engsel pintu, dan menafsirkan ayat-ayat Al-Quran itu secara global atau mengaitkan hukum dalam Al-Quran itu secara mutlak, atau mengkhususkan hukum yang berbentuk umum. Dengan adanya tafsiran itu, maksud dari Al-Quran menjadi jelas makna dan pelaksanaanya, karena Allah telah memberikan kekuasaan kepada Rasul untuk menjelaskan nash dalam Al-Quran.
 
 
3. Ijma
 
Kata ijma secara bahasa adalah kebulatan tekad terhadap suatu persoalan atau kesepakatan tentang suatu masalah.
Pengertian Ijma adalah sumber hukum yang telah mendapatkan kesepakatan dari ulama karena belum ada aturan secara jelas dalam Al-Quran dan Sunnah Rasul, adapun sifatnya mengikat bagi semua umat Islam. Kesepakatan itu dianggap ijma walaupun hanya merupakan kesepakatan penduduk Madinah.
 
Berdasarkan definisi, ijma menurut istilah ushul ialah sepakat para mujtahid Muslim memutuskan sesuatu masalah setelah wafatnya Rasululah SAW terhadap hukum syari, pada suatu peristiwa. Apabila terjadi peristiwa, maka peristiwa itu dikemukakan kepada semua mujtahid di waktu terjadinya. Para mujtahid itu kemudian sepakat memutuskan atau menentukan hukumnya. Kesepakatan mereka itu disebut ijma yang merupakan suatu iktibar terhadap suatu hukum. Menurutnya hukum ini adalah adil terhadap suatu masalah.
 
 
4. Qiyas
 
Pengertian Qiyas adalah dalil yang keempat merupakan analogi, menurut tata bahasa berarti mengukur sesuatu dengan sesuatu yang lain untuk diketahui antara persamaan di antara keduanya. Berdasarkan definisi, pengertian qiyas dalam istilah ushul, yaitu menyusul peristiwa yang tidak ada nash hukumnya dengan peristiwa yang terdapat nash bagi hukumnya. Dalam hal hukum yang terdapat nash untuk menyamakan dua peristiwa pada sebab hukum ini.
 
Al-Quran dan Sunnah Rasul. Adapun qiyas dilakukan seorang mujtahid dengan meneliti alasan logis (illat) dari rumusan hukum itu dan setelah itu diteliti pula keberadaan illat yang sama pada masalah lain yang tidak termaktub dalam Al-Quran atau Sunnah Rasul. Bila benar ada kesamaan illat-nya, maka keras dugaan bahwa hukumnya juga sama. Begitulah di­lakukan pada praktik qiyas.
 
Dalam filsafat hukum Islam, menentukan hukum dan hukuman merupakan hak prerogratif Allah, terutama mengenai hal-hal prinsip dan sudah diatur dalam Al-Quran maupun Sunnah Nabi. Namun setelah Nabi Muhammad wafat terjadi beberapa perbedaan antara para ahli hukum Is­lam, yaitu pada abad ke 7 dan 8 Masehi pemikiran hukum Islam berkembang pada pusat yang berbeda, di Irak, Suriah dan Mesir. Fikih dijadikan objek studi yang cermat, hal ini menunjukkan bukti bahwa adanya kebebasan dalam pemikiran hukum Islam sepanjang tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah.
 
Dari perbedaan-perbedaan itu kemudian dikenal adanya empat mazhab fikih atau disebut juga dengan Madhahibi Arbaiah. Kata mazhab (madhab) atau madhahibi bukan berarti agama atau religion, mazhab hanya merupakan suatu perbedaan pendapat pada beberapa masalah mendetail dalam ketentuan hukum atau dalam penerapan praktisnya. Keempat pendiri mazhab tersebut adalah Abu Hanifah disebut mazhab Hanafi, Maliki disebut mazhab Maliki, Syafn disebut mazhab Syafi’i dan Ibn. Hambal disebut maszhab Hambali.
 
Kaum Muslimin seluruh dunia memberikan penghargaan yang sama pada keempat mazhab tersebut, mengenai perbedaannya hanyalah dalam wilayah aplikasi hukum, dan itu pun tidak seluruhnya, bukan dalam prin­sip hukum. Merupakan catatan yang penting bahwa keempat mazhab ini sepakat dalam semua masalah yang penting dalam Islam, mengakui bah­wa otoritas Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW sebagai hukum yang pokok dalam hukum Islam.
 
– Mazhab Hanafi
Mazhab Hanafi didirikan oleh Imam Abu Hanifah al Nu’man ibn. Tsabit (699-767 M) lahir di Basrah, kemudian diikuti di Pakistan, India, Afganistan, Turkistan, Asia Tengah lainnya, Turki, Arabia, sebagian besar Mesir dan negara Arab lainnya. Adapun karakteristik dalam mazhab ini sebagai berikut :
a. Pada mazhab ini menggunakan Hadis sebagai dasar dari dalil hukumnya dengan sangat hati-hati.
b. Mazhab ini memberikan nilai yang sangat tinggi untuk qiyas.
c. Pendapat pribadi yang bebas dan independen (ra’y) mendapat dukungan yang besar.
d. Menggunakan metode argumentasi istihsan, yang digunakan untuk menyesuaikan dengan aturan hukum dengan keperluan hidup, ke­adilan atau kondisi sosial.
 
– Mazhab Maliki
Mazhab Maliki didirikan oleh Imam Abu Abdullah Malik bin Anas (718- 795 M) yang lahir di Madinah, kemudian berlaku di Andalusia (Spanyol) pada saat Islam berkuasa, kemudian berlaku di Afrika Utara, Mesir, Afrika bagian barat dan Sudan. Adapun karakteristik mazhab ini sebagai berikut :
a. Pada mazhab ini juga memiliki metode istislah untuk menyesuaikan aturan hukum dengan keperluan hidup setiap hari dan keadilan. Hasil dari qiyas untuk beberapa kasus diabaikan jika diperlukan atau dikehendaki untuk itu.
b. Tidak menolak adanya pendapat yang bebas dan independen (ra’y) jika tidak ada Hadis di Madinah atau ijma, cara menggunakan ra’y secara hati-hati.
 
– Mazhab Syafi’i
Mazhab Syafi’i didirikan oleh Abu Abdullah Muhammad bin Idrus al-Syafi’i (767-819 M), lahir di Palestina kemudian diikuti di Arabia Selatan, Bahrain, Semenanjung Malaysia, Indonesia, Afrika Timur dan beberapa bagian Asia Tengah. Adapun muatan pada mazhab ini sebagai berikut :
a. Imam Syafi’i yang mendefinisikan komponen syariat terdiri dari Al-Quran, Sunnah, ijma dan qiyas. Menurutnya penggunaan ra’y merupakan komponen sekunder.
b. Dia menolak ra’y (personal opinion). Qiyas boleh digunakan sepanjang kasusnya belum ada dalam Al-Quran dan Sunnah.
c. Imam Syafi’i dikenal dengan ahli fikih pertama dan dikenal sebagai bapak ilmu usul fiqih.
d. Imam Syafi’i dikenal mempunyai daya ingatan yang begitu tinggi dan kritis, sehingga mazhab atau alirannya banyak diakui dan diikuti.
 
– Mazhab Hambali
Mazhab Hambali didirikan oleh Imam Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hambal, dikenal dengan Ahmad bin Hambal (780-855 M), lahir di Baghdad, kemudian diikuti cukup banyak umat Islam di Irak, Mesir, Suriah dan Palestina. Karakteristik utamanya adalah sebagai berikut :
a. Mazhab ini tidak ragu mengikuti setiap Hadis, meskipun Hadis itu lemah, sebagai basis aturan hukum.
b. Dibolehkan menggunakan ijma dan qiyas secara terbatas.
 
Sekian dari informasi ahli mengenai aliran filsafat hukum islam, semoga tulisan informasi ahli mengenai aliran filsafat hukum islam dapat bermanfaat.

Sumber : Tulisan Informasi Ahli :

– Agus Santoso, 2014. Hukum, Moral, Dan Keadilan. Yang Menerbitkan Kencana Prenada Media Group : Jakarta.
Gambar Filsafat Hukum Islam

Gambar Filsafat Hukum Islam

 
Filsafat Hukum Islam | ali samiun |