Loading...

Teori Hakikat dan Fungsi Pengakuan

Pembahasan Mengenai Teori Hakikat dan Fungsi Pengakuan

Hai Pembaca, Kali ini Informasi Ahli akan membahas mengenai teori hakikat dan fungsi pengakuan.
 
Menurut J.G.Starke dalam bukunya terdapat dua teori, yaitu :
1. Teori Konstitutif : Hanya tindakan pengakuanlah yang menciptakan status kenegaraan atau melengkapi pemerintah baru dengan otoritasnya di lingkungan internasional.
2. Teori Deklaratif : status kenegaraan tidak tergantung pada pengakuan semata, pengakuan hanya pengumuman resmi semata terhadap fakta yang ada.
 
Melihat teori yang dikemukakan oleh J.G.Starke, Sarjana Hukum Internasional lainnya berpendapat bahwa “pengakuan” harus dilihat apakah bersifat membentuk (to constitute) atau hanya menyatakan (to declare). Jadi di sini jelas di mana yang bersifat membentuk menganggap pengakuan merupakan unsur penting berkenaan dengan status negara dalam pergaulan internasional, sedangkan yang bersifat menyatakan hanya mempertegas existensi negara tersebut dalam pergaulan internasional. Dalam prakteknya teori konstitutif dan teori deklaratif lebih banyak berkaitan dengan masalah pengakuan terhadap negara baru.
 
Adanya pertentangan mengenai teori konstitutif dan deklaratif sehingga menimbulkan bantahan-bantahan terhadap kedua teori tersebut. Pertama kita bahas teori konstitutif, yang di mana karena masalah pengakuan bukan merupakan kewajiban, maka adanya kemungkinan apabila ada negara baru lahir, maka akan diterima oleh sekelompok negara tetapi ditentang oleh sekelompok negara lain. Kelemahan lain dari teori konstitutif adalah tidak adanya ketentuan yang mengatur berapa seharusnya jumlah minimal negara-negara yang memberi pengakuan.
 
Sedangkan teori deklaratif berpandangan bahwa pengakuan hanya bersifat formalitas. Menurut teori deklaratif, existensi suatu negara tidak ditentukan oleh ada atau tidaknya pengakuan dari negara lain. Tetapi teori deklaratif ini juga mempunyai kelemahan. Di mana apabila negara baru lahir tetapi tidak mendapat pengakuan dari negara lain sehingga tidak ada negara yang mau mengadakan hubungan dengan negara tersebut, maka negara tersebut tidak dapat melangsungkan hidupnya secara baik seperti negara lainnya. Contohnya adalah apabila ada sebuah negara bemama Transkey di Afrika bagian Selatan yang merdeka tahun 1979 ternyata tidak diakui dunia internasional, sehingga keberadaan negara tersebut tidak jelas apakah ada atau tidak ada.
 
Di samping itu pula, teori deklaratif masih banyak mengandung kelemahan praktis, terutama dalam kaitannya antara negara baru dengan negara-negara yang menolak memberi pengakuan. Negara yang menolak memberi pengakuan memandang negara baru tersebut tidak sah. Setelah melihat kelemahan kedua teori di atas, maka timbul yang disebut teori jalan tengah.
 
Teori jalan tengah ini menyatakan hendaknya dibedakan antara negara sebagai pribadi internasional pada satu pihak, dan kcmampuan negara itu sebagai pribadi internasional dalam melaksanakan hak dan kewajiban internasionalnya. Suatu negara untuk dikatakan memiliki pribadi internasional atau sebagai negara menurut hukum internasional, tidak membutuhkan pengakuan dari negara lain. Di lain pihak sebagai pribadi internasional yang membutuhkan adanya hubungan dengan negara lain, maka diperlukan pengakuan untuk mengadakan hubungan yang akan melahirkan hak dan kewajiban internasional yang harus dilaksanakan pada level internasional. Jadi boleh dikatakan teori jalan tengah ini lebih pragmatis dan realistis.
 
Sekian dari informasi ahli mengenai teori hakikat dan fungsi pengakuan, semoga tulisan informasi ahli mengenai teori hakikat dan fungsi pengakuan dapat bermanfaat.

Sumber : Tulisan Informasi Ahli :

– T. May Rudy, 2006. Hukum Internasional 1. Yang Menerbitkan PT Refika Aditama : Bandung.
Gambar Teori Hakikat dan Fungsi Pengakuan

Gambar Teori Hakikat dan Fungsi Pengakuan

 
Teori Hakikat dan Fungsi Pengakuan | ali samiun |