Pengertian Bhinneka Tunggal Ika dan Maknanya

Pembahasan Mengenai Pengertian Bhinneka Tunggal Ika dan Makna Bhinneka Tunggal Ika

Hai Pembaca, Kali ini Informasi Ahli akan membahas mengenai pengertian bhinneka tunggal ika dan makna bhinneka tunggal ika.
 
Pengertian Bhinneka Tunggal Ika adalah berbeda beda namun tetap satu juga yang merupakan semboyan bangsa Indonesia. Semboyan bhinneka tunggal ika terdapat dalam lambang negara Indonesia.
 
Semboyan Bhinneka tunggal ika diambil dari kitab sutasoma, yang menekankan semangat persatuan antara umat beragama pada waktu itu. Asal kata Bhinneka Tunggal Ika adalah dari kata Bhinna yang artinya “berbeda”, Tunggal yang artinya satu, dan Ika artinya “itu”. Untaian kata tersebut dapat diberi makna “berbeda-beda namun tetap manunggal satu”.
 
Beragam Makna Bhinneka Tunggal Ika, antara lain :
a. Berbeda tapi “satu”.
b. Menggambarkan gagasan dan cita-cita dasar, yaitu menghubungkan daerah-daerah dan suku-suku di seluruh kepulauan Nusantara menjadi kesatuan.
c. Berbeda-beda tapi satu juga. Sekalipun pendudukan Indonesia beraneka ragam budaya, adat istiadat dan keyakinan, semuanya bersatu dalam satu wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
d. Berbeda-beda namun tetap manunggal satu.
e. Beraneka ragam tapi satu.
 
Di balik banyak makna Bhinneka Tunggal Ika yang akan tetap berkembang terus-menerus. Secara substansi makna bhinneka tunggal ika mengandung tiga unsur utama, yaitu :
a. Ada keanekragaman atau kemajemukan di Nusantara sejak jauh sebelum Indo­nesia lahir.
b. Keanekaragaman atau kemajemukan adalah kenyataan alamiah atau takdir Tuhan yang tidak bisa ditolak, bahkan harus disyukuri sebagai rahmat-Nya bagi bangsa Indonesia. Sebagai rahmat Tuhan, kemajemukan harus diyakini sebagai suatu kekuatan, bukan sebaliknya atau sebagai ancaman. Dalam kemajemukan tersimpan makna terdalam dari persatuan.
c. Sebagai rasa syukur atas rahmat kemajemukan ini, bangsa Indonesia hendaknya menjadikan sebagai semangat untuk bersatu, tidak sebaliknya.
d. Semangat kesatuan dari kemajemukan yang terintegrasikan ke dalam satu “rumah besar” NKRI.
e. Sikap menerima pandangan orang lain yang berbeda.
Kesediaan menerima pandangan dan gagasan orang lain, sekalipun minoritas dan mengorbankan milik pribadi atau kelompoknya sekalipun mayoritas dan dominan demi kemaslahatan bersama telah ditunjukkan secara terhormat oleh para pendiri bangsa Indonesia di masa lalu. Menurut catatan kerohanian Franz Magnis-Suseno, setidaknya dua peristiwa penting dalam perjalanan bangsa Indonesia dapat dijadikan acuan menuju kedewasaan berbangsa warga negara Indonesia. Pertama, pada peristiwa Sumpah Pemuda 1928: Kerelaan pemuda Jawa (Jong Djava) sebagai kelompok mayoritas kala itu untuk menerima bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia. Kedua, kesediaan kelompok nasionalis Islam dalam persiapan BPUPKI tahun 1945 menerima kelima sila dalam Pancasila sebagai dasar negara tidak menuntut tempat khusus bagi umat Islam dalam konstitusi negara, pada mereka mewakili kelompok dominan.
 
Tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika mayoritas pemuda Jawa dan tokoh nasionalis Islam yang mewakili kelompok mayoritas Muslim Indonesia bersikukuh mempertahankan gagasan mereka tentang bahasa dan dasar negara Indonesia kala itu. Semangat menjadi bangsa (nation) di kalangan tokoh pemuda dan tokoh nasionalis Indonesia harus tetap dijadikan acuan historis dan cita-cita Indonesia hari ini dan di masa mendatang. Menjadi bangsa Indonesia tidak berarti meninggalkan kekhasan yang telah melekat pada masyarakat Indonesia (suku, budaya, bahasa dan keyakinan dan sebagainya), tetapi unsur-unsur ini hendaknya melebur dalam heterogenitas Indonesia.
 
Kekhasan-kekhasan ini merupakan pupuk penyubur bagi Indonesia yang majemuk. Kemajemukan ini harus tetap berjalan dan berkembang serasi di tengah-tengah perlunya memelihara persatuan dan kesatuan sebagai bangsa Indonesia, sebagaimana tersimbolkan dalam sesanti Bhinneka Tunggal Ika pada lambang negara Burung Garuda yang juga memuat simbol-simbol dari kelima sila dalam Pancasila. Kebhinekaan Indonesia bukanlah sesuatu yang statis, tetapi berkembang baik dalam budaya, politik bahkan keyakinan. Semasa Orde baru, misalnya, bangsa Indonesia pada umumnya tidak pernah menyaksikan perayaan tahun baru Cina lmlek) dan tarian barongsai di kalangan komunitas Tionghoa. Kini, berkah dari informasi dan demokrasi serta wacana penegakan dan jaminan HAM (Hak Asasi Manusia) semua warga negara, perayaan Imlek dan tarian barongsai mewarnai semarak kebhinekaan dan persatuan Indonesia. Tanpa kesediaan dan kerelaan setiap individu menerima kemajemukan yang identik dengan perbedaan serta menjadikan Pancasila sebagai Ikatan bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, niscaya bangsa Indonesia tidak mudah untuk naik kelas menjadi sebuah bangsa (nation) dengan makna yang sesungguhnya.
 
Sekian dari informasi ahli mengenai pengertian bhinneka tunggal ika dan makna bhinneka tunggal ika, semoga tulisan informasi ahli mengenai pengertian bhinneka tunggal ika dan makna bhinneka tunggal ika dapat bermanfaat.

Sumber : Tulisan Informasi Ahli :

– A. Ubaedillah, 2015. Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education) Pancasila, Demokrasi Dan Pencegahan Korupsi. Yang Menerbitkan Prenada Media Group : Jakarta.
Gambar Pengertian Bhinneka Tunggal Ika dan Makna Bhinneka Tunggal Ika

Gambar Pengertian Bhinneka Tunggal Ika dan Makna Bhinneka Tunggal Ika

 
Pengertian Bhinneka Tunggal Ika dan Maknanya | ali samiun |