Loading...

Pengertian Puasa, Hikmah dan Landasan Berpuasa

Pembahasan Mengenai Pengertian Puasa, Hikmah Puasa dan Landasan Puasa

Hai Pembaca, Kali ini Informasi Ahli akan membahas mengenai pengertian puasa, hikmah puasa dan landasan berpuasa.
 
Puasa merupakan rukun keempat dari rukun islam. Siapa saja yag mengingkarinya, atau sengaja mengingkarinya tanpa uzhur (syara’) atau karena sakit, berarti orang itu telah mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan mengurangi imannya.
 
Pengertian Puasa (shaum) menurut bahasa adalah menahan dari segala sesuatu, seperti menahan tidak tidur, menahan tidak berbicara, menahan tidak makan atau menahan diri tidak makan-makanan tertentu seperti daging, ikan dan sebagainya. Pengertian puasa menurut bahasa ini juga ada kalanya dilakukan orang untuk tujuan tertentu atau menahan tidak makan-makanan tertentu.
 
Pengertian Puasa menurut istilah agama islam adalah menahan diri dari makan dan minum dan bercampur atau bersetubuh (suami isteri) sehari penuh, mulai dari terbitnya matahari sampai terbenam matahari dengan niat ikhlas, taat dan mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah Swt.
 
| Hikmah Puasa |
 
Agama islam disyariatkan karena mengandung hikmah, hikmahnya itu diketahui oleh orang yang berilmu dan tidak terungkap oleh orang yang tidak berilmu. Sebenarnya ibadah ibadah puasa untuk kepentingan hamba allah itu yang menjalankan ibadah, bukan untuk kepentingan Allah Swt, perbuatan baik tidak akan mendatangkan manfaat bagi Allah dan perbuatan maksiat hamba-Nya tidak membawa mudarat bagi-Nya. Ketaatan hamba-hamba-Nya semuanya kembali kepada kemaslahatan hamba-hamba-Nya itu. Adapun hikmah dari berpuasa yaitu, antara lain :
1. Membersihkan jiwa
Hikmah puasa yang pertama yaitu membersihkan jiwa. Diantara cara membersihkan jiwa adalah mentaati semua perintah Allah, dan menjauhi segala larangan-Nya. Orang yang mengerjakan semua perintah dengan ikhlas, berarti orang itu sudah benar-benar pasrah dan tidak ada perasaan dibebani dan dipaksa. Demikian juga halnya bila terjauh dari perbuatan maksiat, tidak ada beban mental (jiwa) yang ditanggunnya. Jiwa orang itu menjadi tenang dan tentram, sebab tidak ada yang perlu digelisahkan.
 
2. Memelihara Kesehatan Jamani dan Rohani
Hikmah puasa yang kedua yaitu dapat memelihara kesehatan jasmani dan rohani. Para ahli dibidang kesehatan menyatakan, bahwa di antara pengobatan yang dapat menyembuhkan penyakit adalah puasa, seperti menurunkan berat badan dan bahkan untuk mengobati penyakit maag pun dapat disembuhkan dengan berpuasa. Padahal kalau dilihat sepintas, orang yang memiliki penyakit maag tidak dapat berpuasa. Apalagi orang terus menerus meladani kebutuhan jasmani, perut tidak diberi kesempatan beristirahat, sama saja  binatang ternak yang hanya memikirkan makan saja. Pada saat yang hanya memikirkan makanan saja. Pada saat seperti itulah derajat dan harkat manusia menurun jatuh ke bawah seperti binatang ternak itu.
Sebaliknya orang yang melakukan atau menjalankan ibadah puasa, dia melatih rohaninya supaya berlaku sabar, disiplin, memperhalus perasaan dan memperbanyak ibadah dan sedekah. Pada saat itu derajat dan harkatnya naik ke atas seperti para malaikat yang memusatkan pikiran dan perhatian kepada ibadah semata.
 
3. Mendidik Sabar dan Kemauan Besar
Mendidik sabar dan kemauan Besar merupakan hikmah puasa yang ketiga. Orang yang melakukan ibadah puasa harus sabar dan tekun, karena banyak godaannya. Orang harus dapat menahan marah dan mengendalikan emosi, karena tugas setan memancing-memancing supaya kesabaran orang hilang.
 
Demikian juga halnya bahwa berpuasa dapat mendidik orang berkemauan besar. Orang yang tidak mempunyai kemauan keras, tidak mampu dia menahan lapar dan menahan haus, tidak kuat membendung pikiran-pikiran jahat dan hawa nafsu yang bergejolak di dalam dirinya.
 
4. Meredam Nafsu Seksual
Hikmah puasa yang keempat ialah menahan nafsu seksual. Sebagai manusia yang normal dalam dirinya terdapat nafsu untuk memenuhi kebutuhan biologis. Agama islam juga tidak menyangkalnya. Kalau tidak dibenarkan, tentu dunia akan kosong, umat islam tidak berkembang biak lagi. Agam islam mengatur supaya nafsu seksual dikendalikan, dan diatur sedemikian rupa sehingga tidak terjadi penyimpangan dalam menyalurkan nafsu seksual itu.
 
5. Mensyukuri Nikmat Allah Swt.
Yang kelima dari hikmah puasa yaitu dapat mensyukuri nikmat Allah Swt. Orang yang berpuasa merasakan betapa besar nikmat Allah yang diberikan kepada mereka. Nikmat itu baru diketahui tinggi nilainya setelah nikmat itu hilang dari padanya. Selagi nikmat itu ada tidak disyukuri dan nilainya dianggap tidak seberapa.
 
6. Memelihara Diri Dari Penyewelengan
Hikmah puasa yang selanjutnya yaitu memelihara diri dari penyewelengan. Sebagian orang apabila mendapat harta, tidak peduli apakah jalan yang ditempuhnya halal atau haram. Orang yang berpuasa dilatih dan diingatkan supaya menempuh jalan yang benar. Orang yang berpuasa dilarang memakan makanan walaupun miliknya sendiri dalam batas waktu tertentu, dan dilarang melakukan hubungan intim dengan isteri pada siang hari. Bila hal ini di sadari sebagai latihan, maka orang tidak akan memakan harta milik orang lain dan bercampur atau bersetubuh dengan isteri juga ada batasnya apalagi dengan wanita lain. Tentu secara mutlak dilarang oleh agama islam.
 
7. Meningkatkan Takwa
Hikmah puasa yang berikutnya yaitu dapat meningkatkan takwa. Orang yang bertakwa adalah orang yang menjauhkan diri dari perbuatan terlarang dan melakukan perbuatan yang diperintahkan. Jadi, orang yang bertakwa selalu menjaga dan memelihara dirinya supaya taat kepada perintah Allah dan tidak berbuat maksiat kepada-Nya. Harapan akhir dari puasa adalah taat kepada Allah Swt. Untuk mencapai tingkat takwa hendaknya menjalankan ibadah puasa itu dengan penuh imandan harapan (pahala) dari allah dan menjalankan sholat malam atau tarawih di bulan ramadhan tersebut.
 
8. Membebaskan Diri Dari Adat Kebiasaan
Membebaskan diri dari adat kebiasa merupakan salah satu dari hikmah puasa. Dalam kehidupan sehari-hari, biasanya orang terikat oleh adat kebiasaan seperti kebiasaan merokok, sarapan pada jam tujuh pagi, makan siang, dan kebiasaan-kebiasaan lainnya yang bebeda pada masing-masing orang.
 
9. Mendidik Mawas Diri
Hikmah pusa yang selanjutnya yaitu mendidik mawas diri. Orang yang berpuasa di didik supaya mawas diri, bahwa dia selalu berada dalam pengawasan Allah Swt, para malaikat diberi tugas untuk mendamping setiap orang dan mencatat semua kegiatan yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya perbuatan baik maupun jahat atau buruk.
 
10. Menumbuhkan Kesetiakawanan Sosial
Hikmah puasa yang terakhir yaitu menumbuhkan kesetiakawanan sosial. Dalam masyarakat, masih terdapat orang yang sukar untuk mendapatkan sesuap nasi, apalagi kebutuhan pokok yang memadai. Orang yang berpuasa di bulan ramadhan merasakan hal yang semacam ini, dengan demikian akan tumbuh dalam dirinya rasa kesetiawanan sosial terhadap saudaranya yang merasakan pahit getirnya hidup orang yang tidak punya.
 
 
| Landasan Puasa |
 
Adapun landasan puasa tercantum ddi alam alquran surah AL-Baqarah ayat 183 sampai ayat 185, dalam ayat tersebut dinyatakan bahwa puasa hanya wajib atas orang yang beriman supaya tidak terjadi pelanggaran, karena merasa selalu diawasi dan diperhatikan. Dalam hadist juga disebutkan dalam beberapa riwayat, sabda Rasulullah Saw, yang artinya “islam itu ditegakkan di atas lima dasar, yaitu menyaksikan bahwa tidak ada Tuhan yang patut untuk disembah melainkan Allah dan bahwa Nabi Muhammad itu utusan Allah, mengerjakan sholat lima waktu, membayar zakat, menunaikan haji, dan berpuasa pada bulan ramadhan” (H.R. Bukhari dan Muslim).
 
Oleh Abu Hurairah dinyatakan bahwa orang Arab Badui pernah mendatangi Nabi SAW, dan berkata : “Ya Rasulullah, tolonglah tunjukkan kepada saya suatu amal, apabila saya kerjakan maka saya masuk surga”. Nabi pun menjawab : “Engkau sembah Allah, jangna engkau sekutukan dengan sesuatupun…. Dan engkau puasa pada bulan ramadhan”.
 
Berdasarkan landasan puasa yang telah disebutkan di atas, maka para ulama berpendapat, bahwa orang yang mengingkari kewajiban puasa pada bulan ramadhan, adalah kufur dan murtad. Demikian juga orang yang ragu-ragu mengenai hukumnya dan memandang enteng terhadap perintah puasa itu. Sebab, hal demikian berarti, bahwa orang tersebut secara langsung atau tidak, telah menyatakan diri keluar dari agama islam.
 
Ibadah puasa diwajibkan pada tahun kedua Hijriah, sesudah akidah umat islam dipandang matang pada periode Madinah. Berbeda dengan periode Mekkah, masih dititik beratkan pada akidah dan akhlak dan sebgaimana diketahui, bahwa shalat juga baru diwajibkan dua tahun menjelang Hijriah ke Madinah.
 
Sekian dari informasi ahli mengenai pengertian puasa, Hikmah puasa dan landasan berpuasa, semoga tulisan informasi ahli mengenai pengertian puasa, hikmah puasa dan landasan puasa dapat bermanfaat.

Sumber : Tulisan Informasi Ahli :

– Syeikh Mu’tawalli sya’rawi, 2006. Puasa Menurut Syariat Dan Kedokteran. Penerbit Maktabah at-Turats al-islami : Jakarta.
Gambar Pengertian puasa, hikmah puasa dan landasan puasa

Gambar Pengertian puasa, hikmah puasa dan landasan puasa

 
Pengertian Puasa, Hikmah dan Landasan Berpuasa | ali samiun |