Loading...

Sejarah Biologi Sel dan Biomolekuler

Pembahasan Mengenai Sejarah Biologi Sel dan Sejarah Biomolekuler

Hai Pembaca, Kali ini Informasi Ahli akan membahas mengenai sejarah biologi sel dan sejarah biomolekuler.
 
Sejak zaman Aristoteles sampai ke masa Renaisans yaitu pada masa Paracelsus, bisa ditarik kesimpulan bahwa “semua hewan dan tumbuh-tumbuhan terdiri atas unsur-unsur yang akan terus-menerus ditemukan kembali pada setiap generasi yang baru”. Contohnya struktur makroskopik organisme seperti akar, daun dan bunga serta segmen-segmen maupun organ-organ akan selalu terbentuk ulang pada generasi-generasi berikutnya.
 
Apalagi dengan ditemukannya alat optik, semakin jelas diketahui bahwa kumpulan sel berdiferensiasi menjadi jaringan dan organ untuk membentuk organisme multi-seluler. Dengan demikian sel dapat dikatakan sebagai “unit dasar struktural maupun fungsional dari organisme hidup”.
 
Needham telah mengembangkan tingkatan organisasi seluler. Unsur-unsur yang terdapat pada suatu tingkat organisasi tidak akan terdapat pada tingkat organisasi lainnya. Batasan tingkat ini dapat dilihat dengan adanya daya urai mikroskop. Demikianlah dengan berkembangnya alat optik, muncul pula teori-teori sel baru yang terus berkembang.
 
Sebenarnya istilah sel untuk pertama kali digunakan oleh Robert Hooke pada tahun 1665 dan dari hasil pengamatannya pada gabus dengan menggunakan lensa pembesar, nampak pada gabus tersebut adanya rongga-rongga kecil seperti spons yang oleh Robert Hooke disebut sel. Pengamatan ini dilanjutkan oleh Grew dan Malpighi pada tanaman lain dan ternyata terdapat rongga-rongga yang dibatasi oleh dinding selulosa. Pada abad yang sama Leeuwenhoek pada tahun 1674 menemukan beberapa organisasi dalam sel, terutama inti sel. Schleiden (1938) dan Schwann (1939) telah mencetuskan teori sel yang lebih definitif yaitu “makhluk hidup terdiri atas sel dan produknya”. Schwann dikenal sebagai Bapak Sitologi Modern.
 
Lebih lanjut Brown pada tahun 1831 mengemukakan bahwa inti sel merupakan bagian terpenting dan konstan dari suatu sel. Dengan demikian lahirlah konsepsi sel  yang menyatakan bahwa sel terdiri atas massa protoplasma yang mengandung inti sel dengan dibatasi oleh membran sel. Protoplasma yang mengelilingi inti sel disebut sitoplasma dan yang di dalam inti sel disebut karioplasma. Demikian Wagner (1932) menemukan anak inti.
 
Pada tahun 1858, Virchow yang dikenal dengan “Omnis Cellulae a Cellula“, menghasilkan suatu pernyataan bahwa pembelahan sel sebagai gejala pokok dalam reproduksi organisme.
 
Sains dan teknologi semakin maju perkembangannya, demikian pula biologi sel terus berkembang dan hal ini disebabkan oleh :
1. daya pisah alat optik yang tinggi
2. perpaduan dengan ilmu-ilmu lainnya, terutama genetika, biokimia dan fisiologi.
 
Sebagai akibat dari perkembangan biologi sel, perpaduan sitologi dengan genetika yang dipelopori oleh Virchow yaitu sitogenetika, yang membuka jalan pula untuk genetika molekuler.
 
Lebih lanjut Hertwig dengan teori protoplasmanya menyatakan pandangan sebagai berikut :
1. Sel adalah kumpulan substansi hidup yang mengandung inti sel disebelah dalam dan membran sel disebelah luar.
2. Sintesis gejala-gejala biologis atas dasar ciri-ciri sel, struktur dan fungsinya.
3. Inti sel mengandung dasar fisik keturunan.
 
Memang para cendekiawan tidak jemu-jemunya untuk saling menunjang dalam mengungkapkan kebenaran ilmu pengetahuan, sehingga biologi sel dan biologi molekuler semakin lama semakin berkembang. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Roux dan Weismann bahwa “unit-unit keturunan terdapat dalam kromosom”.
 
Kelangsungan hidup sel terus dipelihara dari satu generasi ke generasi berikutnya, yaitu melalui mekanisme mitosis dan penemuan lainnya yang penting, yang ada kaitannya dengan hal di atas dikemukakan oleh Hertwig pada tahun 1975 yaitu fertilisasi antara inti ovum dengan inti sperma Gamet-gamet ini dihasilkan dari pembelahan reduksi yang dikenal dengan meiosis. Dengan demikian jumlah kromosom dari suatu spesies tetap dipertahankan dari generasi ke generasi mendatang.
 
Semua penemuan di atas menuntun timbulnya teori sel versi mod­ern yang menyatakan bahwa :
1. Sel adalah unit morfologik dan fisiologik dari organisme hidup.
2. Sifat-sifat organisme tertentu bergantung pada sel individualnya.
3. Sel hanya berasal dari sel dan hal ini dipertahankan demi kelangsungan hidupnya melalui materi genetik.
4. Unit terkecil kehidupan adalah sel
 
Teori kromosom dengan gen yang terletak dalam lokus kromosom juga berkembang dengan pesat, terbukti dengan terlahirnya sitogenetika, suatu perpaduan sitologi dengan genetika.
 
Tentu dalam mempelajari genetika, akan terlibat pula biokimia. Miescher pada tahun 1871 telah berhasil mengisolasi “nukleus” dari butir darah putih. Suatu zat yang kini dikenal dengan asam deoksiribonukleat (DNA). Mulai saat ini protein inti merupakan bagian utama dari gen dan konsep ini kemudian dimodifikasi setelah asam nukleat yang merupakan pembawa informasi genetik.
 
Watson dan Crick pada tahun 1953 telah memperagakan model DNA yang berpilin ganda, yaitu bagaimana gen berduplikasi dan dipindahkan dari satu sel ke sel lainnya. Memang pada saat sekarang ini penelitian difokuskan kepada biologi molekuler yaitu pada mekanisme yang mengatur ekspresi gen.
 
Sekian dari informasi ahli mengenai sejarah biologi sel dan sejarah biomolekuler, semoga tulisan informasi ahli mengenai sejara biologi sel dan sejarah biomolekuler dapat bermanfaat.

Sumber : Tulisan Informasi Ahli :

– Sartono dan Marina Lubniar Sartono, 2010. Biologi Sel Molekuler, Variasi dan Keturunan. Yang Menerbitkan Universitas Trisakti : Jakarta.
Gambar Sejarah Biologi Sel dan Sejarah Biomolekuler

Gambar Sejarah Biologi Sel dan Sejarah Biomolekuler

 
Sejarah Biologi Sel dan Biomolekuler | ali samiun |