Loading...

Aliran Behaviourisme Dalam Psikologi

Hai Pembaca, Kali ini Informasi Ahli akan membahas mengenai aliran behaviorisme dalam psikologi.
 
 
Menurut Ahmad Fauzi, Peletak dasar aliran behaviourisme ialah Ivan Petrovich Pavlov (tahun 1849 sampai tahun 1936) dan William Me Dougall (tahun 1871 sampai tahun 1938). Pavlov adalah seorang sarjana ilmu faal yang fanatik dan sangat anti terhadap psikologi yang dianggap kurang ilmiah. Ia mempunyai peran penting di dalam psikologi behaviorisme karena studinya mengenai refleks didasarinya aliran ini. Ia terkenal dengan eksperimen mengenai refleks bersyarat atau refleks terkondisi yang dilakukan terhadap anjing yang mengeluarkan air liurnya. Menurutnya, segala aktivitas kejiwaan pada hakikatnya merupakan rangkaian refleks.
 
Selain Pavlov, pembangun aliran behaviourisme adalah Mc Dougall. Melalui teorinya mengenai insting, ia berpendapat bahwa insting adalah kecenderungan bertingkah laku tertentu dalam situasi tertentu sebagai hasil pembawaan sejak lahir dan tidak dipelajari sebelumnya. Ahmad Fauzi menjelaskan bahwa menurut Dougall, semua tingkah laku manusia dapat dikembalikan pada insting yang mendasarinya, contohnya : emosi takut dasarnya adalah insting melarikan diri; emosi heran dasarnya adalah insting ingin tahu dan emosi kasih sayang dasarnya adalah insting orangtua (parental instinct).
 
Pada akhir abad ke 19, Ivan Petrovic Pavlov memulai eksperimen psikologi yang mencapai puncaknya pada tahun 1940 sampai tahun 1950. Jika yang dimaksud dengan psikologi adalah ilmu jiwa, “jiwa” bukan materi sehingga tidak dapat diteliti secara langsung. Penelitian difokuskan pada tingkah laku manusia, dengan asumsi bahwa tingkah laku manusia merupakan wujud dari kejiwaan manusia maupun hewan lainnya.
 
Aliran behaviourisme memandang manusia sebagai mesin (homo mechanicus) yang dapat dikendalikan perilakunya melalui suatu pelaziman (conditioning). Sikap yang diinginkan dilatih terus-menerus sehingga menimbulkan maladaptive behaviour atau perilaku menyimpang. Jika manusia maupun binatang dilatih secara terus-menerus dengan sesuatu yang lazim maupun yang tidak lazim, keduanya akan berperilaku yang sama. Pengondisian perilaku tersebut dibentuk melalui berbagai eksperimen, seperti eksperimen Pavlov. Ia melakukan eksperimen terhadap seekor anjing yang sedang lapar. Ketika seekor anjing sedang dalam keadaan lapar, Pavlov menyalakan lampu, untuk mengetahui apakah anjing tersebut berliur atau tidak ?. Ternyata, anjing yang lapar tidak mengeluarkan air liurnya. Akan tetapi, ketika di hadapan anjing itu diletakkan sepotong roti, ia mengeluarkan air liurnya.
 
Pavlov secara terus-menerus menyalakan lampu sebelum menyodorkan sepotong roti di hadapan anjing yang lapar. Selanjutnya, Pavlov menyalakan lampu meskipun ia tidak menyodorkan sepotong roti. Ternyata, anjing tersebut mengeluarkan air liumya. Hal tersebut karena berdasarkan kebiasaan yang tertanam dalam jiwanya bahwa kalau ada nyala lampu berarti akan ada sepotong roti. Eksperimen itu menunjukkan bahwa air liur anjing menjadi conditioned response dan cahaya lampu menjadi conditioned stimulus. Dengan demikian, “kebiasaan” telah membentuk perilaku “bodoh” seekor anjing. Ini yang kemudian dipersepsikan bahwa tingkah laku manusia maupun binatang dapat dibentuk, sehingga aliran ini dicap sebagai aliran yang memosisikan manusia seperti robot yang mudah dibentuk mengikuti orang yang membentuknya.
 
Contoh lainnya adalah tindakan menakut-nakuti anak yang merengek minta jajan, lalu ibunya menakut-nakutinya bahwa “itu bukan penjual makanan”, tetapi orang “gila”. Cara tersebut dilakukan berulang-ulang setiap kali anaknya minta jajan jika melihat penjual jajanan. Akhirnya, anak itu merasa takut kalau melihat pedagang yang lewat, karena ia berpikir bahwa penjual tersebut adalah orang gila. Lalu, bagaimana apabila ayahnya sendiri seorang pedagang asongan, bisa saja ia akan mengatakan bahwa ayahnya orang gila.
 
Eksperimen yang dilakukan oleh penganut behaviourisme sama sekali tidak ada yang keliru, tetapi perlu dianalis lebih mendalam bahwa percobaan yang dilakukan kepada seekor anjing dan seorang manusia dalam kasus serupa tidak akan berjalan abadi, karena seekor anjing hanya mengandalkan instingnya, tanpa akal dan tidak berusaha mengembangkan kebiasaannya, sedangkan manusia bergerak dinamis dan dengan akalnya, ia dapat merekayasa dan meninggalkan kebiasaan. Kalau insting diartikan sebagai pembawaan dan fitrah, unsur kesamaan fitrah manusia dengan binatang, seperti anjing, tidak berbeda, contohnya fitrah untuk mempertahankan hidupnya, fitrah untuk mengambil segala sesuatu yang bermanfaat dan menghindar dari yang madharat. Fitrah ini sama. Di luar fitrah merupakan kerja akal manusia, sebagaimana anjing yang dilatih adalah karena kerja akal manusia. Sebab, terbukti tidak ada anjing yang mampu menjadi pelatih. Jadi, adanya perubahan kecerdasan anjing karena adanya kecerdasan manusia, tetapi keberadaan kecerdasan manusia bukan oleh adanya kecerdasan anjing.
 
Pemahaman terhadap segala sesuatu yang diperoleh seorang anak dari orangtua, sekolah dan lingkungannya tidak dapat berlaku abadi. Sebagai contoh, ketika seorang anak diberi uang oleh pamannya, lalu ia menerimanya dengan tangan kiri, ibunya berkata “Pakai tangan yang baik, tidak boleh pakai tangan jelek, tidak sopan”. Yang dimaksud dengan tangan jelek adalah tangan kiri, sedangkan tangan yang baik adalah tangan kanan. Lalu, apakah seorang anak mengerti dengan konsep “tangan kiri yang jelek” atau “tangan kanan yang baik” ?. Bagaimana dampak yang ditimbulkan oleh cara membimbing anak seperti itu jika dibiasakan ? Apakah anak itu akan terus memikirkan tangan kirinya yang jelek, kemudian, ia akan memotongnya karena malu mempunyai tangan jelek, padahal ia masih sangat membutuhkannya. Bingunglah si anak itu, bagaimana kelanjutan ceritanya ?.
 
Pengalaman masa kecil setiap orang cukup variatif, sebagaimana pengalaman mengenai larangan larangan yang ditetapkan oleh orangtua dengan cara cara yang tidak masuk akal, tetapi anak menjadi penurut. Contohnya, larangan “anak gadis tidak boleh duduk di depan pintu, nanti susah mendapat jodoh. Tidak boleh main menjelang Magrib, nanti diculik genderewo, kalongwewe dan jenis makhluk seram lainnya.” Akan tetapi, apakah cara cara larangan itu berbekas ?, Sebab dalam realitasnya, anak anak tetap berani bermain menjelang Magrib, apalagi pada bulan Ramadhan, dan banyak juga anak gadis duduk di depan pintu tanpa merasa takut susah mendapat jodoh. Mungkinkah genderewo, kalongwewe dan dedemitnya sudah mati atau pensiun dari pekerjaannya menakut-nakuti anak anak ?. Demikian juga, jodoh tidak ada kaitan dengan pintu rumah. Hanya saja, kalau duduk di depan pintu akan menghalangi orang lain yang mau masuk atau keluar rumah.
 
Hal hal yang lazim diterapkan dalam membentuk perilaku manusia pada masa lalu, kini tidak lagi dianggap lazim Oleh karena itu, terbentuknya perilaku mengikuti perkembangan zaman dan persepsi manusia sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan inteligensinya. Akan tetapi, hal itu tidak berlaku bagi binatang. Sejak dulu sampai sekarang, binatang akan bertambah pengalaman hidupnya sesuai dengan instingnya dan bentuk perilakunya serupa dengan sesama habitat dan komunitasnya. Jika binatang dilatih terus-menerus, yang ia bisa hanya yang diperolehnya dari latihan.
 
Anang Pamangsah menjelaskan bahwa behaviourism memandang perilaku manusia sangat ditentukan oleh kondisi lingkungan luar dan rekayasa atau conditioning terhadap manusia tersebut. Aliran ini menganggap bahwa manusia adalah netral, baik atau buruk perilakunya ditentukan oleh situasi dan perlakuan yang dialami oleh manusia tersebut. Pendapat ini merupakan hasil dari eksperimen yang dilakukan oleh sejumlah penelitian mengenai perilaku binatang yang sebelumnya dikondisikan.
 
Melalui aliran behaviourisme, ditemukanlah asas asas perubahan perilaku yang banyak digunakan dalam bidang pendidikan, terutama psikoterapi dalam metode modifikasi perilaku. Asas asas di dalam teori perilaku terangkum dalam hukum penguatan atau law of inforcement, yaitu :
  1. Classical conditioning : suatu rangsangan akan menimbulkan pola reaksi tertentu apabila rangsangan tersebut sering diberikan bersamaan dengan rangsangan lain yang secara alamiah menimbulkan pola reaksi tersebut. Contohnya bunyi peluit sebagai pertanda tibanya saat makan pagi maka semua prajurit bersegera berbaris menuju ruang makan. Karena dikondisikan, ketika pagi hari terdengar bunyi peluit, seluruh prajurit bergegas berbaris menuju ruang makan, meskipun tidak ada makan pagi. Hal itu terjadi karena adanya asosiasi antara kedua rangsangan tersebut, yakni bunyi peluit dan makan pagi. Jadi, wajar kalau aliran ini dipandang telah melakukan dehumanisasi, yang memosisikan manusia bagaikan robot.
  2. Law of effect : perilaku yang menimbulkan akibat akibat yang memuaskan akan cenderung diulang dan sebaliknya perilaku yang menimbulkan akibat akibat yang menyakitkan cenderung dihentikan.
  3. Operant conditioning : suatu pola perilaku akan menjadi mantap apabila dengan perilaku tersebut berhasil diperoleh hal hal yang diinginkan oleh pelaku (penguat positif), atau mengakibatkan hilangnya hal hal yang diinginkan (penguatan negatif). Di pihak lain, suatu pola perilaku tertentu akan menghilang apabila perilaku tersebut mengakibatkan hal hal yang tak menyenangkan (hukuman), atau mengakibatkan hilangnya hal hal yang menyenangkan si pelaku (penghapusan).
  4. Modelling : munculnya perubahan perilaku karena proses dan peneladanan terhadap perilaku orang lain yang disenangi (model).
Keempat asas perubahan perilaku tersebut berkaitan dengan proses belajar, yaitu berubahnya perilaku tertentu menjadi perilaku baru.
 
Dalam paham behaviourism, objek psikologi adalah perilaku yang fenomenologis, artinya perilaku indrawi, tampak dan nyata, bukan perilaku yang metafisik yang tidak tampak atau gaib. Pendiri behaviorisme seperti Broades Wasto (tahun 1878 sampai tahun 1958), berpendapat bahwa seluruh perilaku manusia dapat dikembalikan pada perilaku alamiahnya yang sudah ada sejak dilahirkan. Jadi, yang paling kuat adalah perilaku “bawaan lahir”.
 
Adapun perilaku lainnya dapat berubah-ubah karena berada dalam kesadaran yang tidak konstan. Oleh sebab itu, secara general, perilaku manusia pada asalnya yang instingtif memiliki kesamaan. Pandangan ini dianggap sebagai kelemahan aliran behaviourisme yang tidak mengakui adanya pengalaman yang bervariasi dari manusia yang dibangkitkan oleh kesadaran pikir sebagai makhluk yang berbudi. Hal ini karena kebenaran perilaku introspektif relatif, sedangkan keberadaan perilaku yang sesungguhnya bersifat objektif. Oleh sebab itu, dalam konteks psikologi, perilaku harus dipelajari secara ilmiah dan deterministis, bukan yang berubah-ubah sebagai bentuk imitasinya perilaku. Aliran ini diperkuat oleh berbagai penelitian terhadap perilaku hewan, seperti tikus, sebagaimana dilakukan oleh tokoh aliran behaviourisme lainnya, yakni Edwin B. Holt, Edward Chase Tolman, dan B.F. Skinner.
 
Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa aliran behaviourisme adalah aliran psikologi mengenai tingkah laku yang sifatnya radikal, yaitu ketika menyamakan tingkah laku manusia dengan binatang dari insting atau bawaannya, sehingga tingkah laku keduanya dapat dikondisikan. Aliran ini menolak berbagai bentuk pengalaman dalam kesadaran atau pengalaman batiniah yang bukan termasuk tingkah laku yang absolut. Sebab, tingkah laku yang sesungguhnya adalah alamiah dan sudah ada sejak dilahirkan. Jadi, semuanya bersifat alamiah dan harus diteliti dengan pendekatan alamiah juga.
 
Aliran behaviourisme memandang manusia sebagai mesin (homo mechanicus) yang dapat dikendalikan perilakunya melalui suatu pelaziman (conditioning). Sikap yang diinginkan dilatih terus-menerus sehingga menimbulkan maladaptive behaviour atau perilaku menyimpang.
 
Tingkah laku manusia adalah semacam refleksi, yaitu reaksi reaksi yang muncul karena adanya ransangan yang tanpa sadar direspons sedemikian rupa oleh potensi instingtif makhluk hidup. Menurut Kartini Kartono, tokoh aliran behaviourisme yang terkenal di Amerika adalah Thorndike dan Watson, James dan Mac Dougall. Sedangkan Pavlov adalah penganut behaviourisme yang berasal dari Rusia, sebagaimana telah diuraikan bahwa Pavlov banyak melakukan eksperimen terhadap anjing anjing dan air liurnya yang dipandang sebagai reaksi alami yang reflektif ketika melihat makanan. Murid Pavlov adalah Von Bechterev yang menerapkan metode Pavlov dalam penelitian psikologisnya terhadap manusia. Murid Pavlov ini berpendapat bahwa refleks refleks bersyarat pada manusia berlangsung di luar kesadaran individu. Oleh sebab itu, segala sesuatu yang di luar kesadaran bukan objek yang harus diteliti karena fakta fakta yang objektifnya terdapat pada refleksi yang sesungguhnya yang sudah ada sejak manusia ada.
 
Tokoh seperti Mac Dougall dan James di Amerika mengembangkan pandangan pandangan behaviourismenya dengan meneliti berbagai gejala psikis yang memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungannya. Setiap adaptasi yang berlaku sesungguhnya merupakan proses untuk mencapai tujuan biologis organis dari makhluk hidup, khususnya manusia. Jadi, refleksi dan respons terhadap rangsangan dengan adaptabilitas merupakan fungsi fungsi organisme manusia. Oleh sebab itu, Mac Dougall dan James adalah penganut behaviourisme yang fungsional.
 
Berbeda dengan behaviourisme yang strukturalis, yang melihat tingkah laku dari unsur unsur biologis manusia dengan cara yang statis, struktur biologis betsifat alamiah sehingga bersifat objektif. Dari aliran behaviourisme ini, lahirlah aliran behaviourisme struktural dan behaviourisme fungsional. Keduanya menemukan substansi yang sama mengenai pentingnya dan keharusan memahami tingkah laku manusia dari struktur biologis yang alamiah dengan fungsi fungsinya dalam beradaptasi dengan rangsangan yang berada di luar kesadaran manusia.
 
Behaviourisme melakukan kritik terhadap aliran strukturalis yang dibangun oleh Wundt, Behaviourisme menolak pandangan mengenai unsur unsur kesadaran yang tidak nyata sebagai objek studi dari psikologi dan membatasi diri pada studi mengenai perilaku yang nyata Dengan demikian, behaviourisme tidak setuju dengan penguraian jiwa ke dalam elemen seperti yang dipercayai oleh strukturalisme. Menurut Brennan, behaviourisme sudah melangkah lebih jauh dari fungsionalisme yang masih mengakui adanya jiwa dan masih memfokuskan diri pada proses proses mental. Keradikalan pandangan behaviourisme telah mengubah pemahaman mengenai psikologi secara drastis.
 
Dengan pandangan pandangan aliran behaviourisme yang telah diuraikan di atas, dapat dikemukakan bahwa behaviourisme memiliki 6 pandangan fundamentalnya mengenai tingkah laku, yaitu sebagai berikut.
  1. Tingkah laku manusia atau hewan merupakan realitas dari jiwa yang abstrak yang bermakna dan dapat diukur secara ilmiah dengan pendekutan alamiah.
  2. Psikologi adalah ilmu yang mengkaji sesuatu yang objektif, empiris dan realistis. Oleh karena itu, segala hal yang keluar dari karakteristik ilmiah, tingkah laku jiwa yag metafisik, tanpa dibentuk dan wujud tidak dapat diteliti, seperti mengenai kesadaran yang artinya abstrak. Kesadaran dalam arti bentuk fisikal saja yang dapat diterjemahkan, dianalisis dan ditemukan unsur unsur strukturalitasnya.
  3. Penelitian terhadap tingkah laku atau overt observable behavior merupakan subject matter yang dikaji psikologi sebagaimana dianjurkan oleh John B Watson, yang pada awal tahun 1900 berpandangan bahwa tingkah laku manusia merupakan satu satunya subjek yang dapat dipelajari psikologi.
  4. Faktor faktor eksternal dalam konteks behaviourisme merupakan rangsangan yang dapat diikutsertakan, tetapi bukan merupakan tingkah laku yang sejatinya.
  5. Jiwa dalam arti yang sesungguhnya adalah insting. Kesadaran yang substansial yang menjadi rujukan utama adanya tingkah laku yang sebenarnya. Sebab, semua bentuk tingkah laku yang meskipun sudah dirangsang oleh pengaruh eksternal harus dikembalikan pada sifat bawaannya yang semula. Dengan demikian, behaviourisme dalam perkembangannya semakin yakin dapat dikatakan sebagai aliran yang mengedepankan pendekatan ilmiah positivistik, yang harus dapat diukur.
  6. Melalui penelitian B.F. Skinner (ahli psikologi dan Harvard), berbagai stimulasi yang memunculkan adanya respons dalam bentuk tingkah laku dipelajari oleh psikologi, sedangkan berbagai bentuk upaya dan modifikasi untuk mempertahankan tingkah laku bukan merupakan kajian psikologi karena semuanya merupakan pengaruh eksternal terhadap tingkah laku yang sesungguhnya. Seluruh yang namanya kesadaran empiris individu bukan merupakan perhatian behaviourismenya Skinner. Seluruh pengalaman sadar hanya dapat disadari oleh tiap tiap individu.
Sekian dari informasi ahli mengenai aliran behaviourisme dalam psikologi, semoga tulisan informasi ahli mengenai aliran behaviourisme dalam psikologi dapat bermanfaat.

Sumber : Tulisan Informasi Ahli :

– Mursidin, 2010. Psikologi Umum. Yang Menerbitkan CV Pustaka Setia : Bandung.
Gambar Tokoh Aliran Behaviourisme Dalam Psikologi

Gambar Tokoh Aliran Behaviourisme Dalam Psikologi

 
Aliran Behaviourisme Dalam Psikologi | ali samiun |