Loading...

Aliran Humanisme Dalam Psikologi

Hai Pembaca, Kali ini Informasi Ahli akan membahas mengenai aliran humanisme dalam psikologi.
 
 
Aliran Humanisme berpandangan bahwa aliran behaviourisme dan psikoanalisis, telah merendahkan jati diri manusia. Manusia tidak lebih dari robot yang dengan mudah dikondisikan perilakunya. Munculnya aliran humanisme adalah kelahiran dari abad penghargaan keberadaan manusia yang sesungguhnya. Keberadaan aliran humanisme belum memosisikan dirinya sebagai aliran psikologi yang ilmiah. Hal ini karena banyak yang berpandangan bahwa aliran ini masih dalam tahapan filosofis dan tidak dapat diteliti secara ilmiah, bahkan belum ada teori yang ilmiah dan yang mengembangkannya secara lebih mendalam melalui berbagai penelitian eksperimental.
 
Pada awalnya, aliran humanisme adalah salah satu aliran dalam filsafat. Pada masa Renaisans, muncul aliran yang menetapkan kebenaran berpusat pada manusia, yang kemudian disebut dengan humanisme. Aliran ini lahir karena kekuasaan Gereja yang telah menafikan berbagai penemuan manusia. Bahkan, dengan doktrin dan kekuasaannya, Gereja telah meredam para filsuf dan ilmuwan yang dengan penemuan ilmiahnya dipandang telah mengingkari kitab suci yang selama ini diacu oleh kaum Kristiani.
 
Menurut Ali Syariati, Humanisme berkaitan dengan eksistensi manusia sebagai bagian dari aliran filsafat yang menyatakan bahwa tujuan pokok dari segala sesuatu adalah demi kesempurnaan manusia. Aliran ini memandang bahwa manusia adalah makhluk yang mulia, yang semua kebutuhan pokok diperuntukkan untuk memperbaiki spesiesnya
 
Liberalisme Barat yang borjuis maupun komunis, sama sama mengklaim diri sebagai humanis dan berbicara mengenai humanisme. Kedua aliran itu mengklaim bahwa tercapainya pengembangan potensi potensi manusia bisa dilakukan dengan cara memberikan kebebasan pribadi dan kebebasan berpikir kepada manusia di dalam penelitian ilmiah, mengemukakan pendapat dan produk produk ekonomi.
 
Asas asas penting mengenai genera manusia di dalam aliran humanisme yaitu sebagai berikut :
  1. Manusia adalah makhluk asli. Artinya, ia mempunyai substansi yang mandiri di antara makhluk makhluk yang mempunyai wujud fisik dan yang gaib dan memiliki esensi genera yang mulia (essence generique).
  2. Manusia adalah makhluk yang memiliki kehendak bebas dan ini merupakan kekuatan paling besar yang luar biasa dan tidak bisa ditafsirkan, suatu iradah dengan pengertian bahwa manusia, sebagai “sebab awal yang mandiri” terlibat dan bekerja dalam rangkaian keterpaksaan alam (sunnatullah), yang menjadikan masyarakat dan sejarah merupakan kelanjutan mutlak baginya dalam mata rantai di atas. Kemerdekaan dan kebebasan memilih adalah dua sifat ilahiah yang merupakan ciri menonjol yang ada dalam diri manusia.
  3. Manusia adalah makhluk yang sadar (berpikir), dan ini merupakan karakteristik menonjolnya, yaitu sadar dalam pengertian bahwa manusia memahami realitas alam luar dengan kekuatan “berpikirnya” yang menakjubkan dan merupakan suatu mukjizat, menemukan berbagai hal yang tersembunyi dari indra dan mampu menganalisis dan mencari sebab sebab yang terdapat di dalam setiap fakta atau realita, tanpa terpaku pada hal hal yang bersifat indrawi dan kausalitas, dan menarik kesimpulan mengenai “akibat” melalui “sebab” dan seterusnya. Manusia bisa menembus batas-batas indranya dan merentangkan zamannya pada masa lalu dan masa yang akan datang; dua masa yang dia sendiri belum dan tidak pernah berada di dalamnya, serta dapat menggambarkan secara tepat, luas dan teliti mengenai lingkungannya.
  4. Meminjam istilah Pascal, “Manusia sebenarnya tidak pernah menjadi sesuatu yang lain, kecuali seonggok daging yang tidak berarti dan sekadar virus kecil saja sudah cukup untuk mematikannya. Akan tetapi, kalau semua makhluk yang ada di muka bumi ini berusaha untuk mematikannya, ternyata dia lebih perkasa daripada mereka. Kalau benda benda yang ada di alam ini diancam oleh manusia, mereka tidak menyadari ancaman tersebut, tetapi bila hal itu dilakukan terhadap manusia, dia menyadarinya. Artinya, kesadaran adalah esensi yang lebih tinggi daripada eksistensi.”
  5. Manusia adalah makhluk yang sadar akan dirinya sendiri. Artinya, dia adalah makhluk hidup satu-satunya yang memiliki pengetahuan budaya dalam nisbatnya dengan dirinya. Ini memungkinkan manusia untuk mempelajari dirinya sendiri sebagai objek yang terpisah dari dirinya : menarik hubungan sebab akibat, menganalisis, mendefinisikan, memberi penilaian dan akhimya mengubah dirinya sendiri. Tweiny, seorang filsuf sejarah yang besar pada masa ini, mengatakan, “Peradaban manusia dewasa ini, telah sampai pada tingkat puncak kesempurnaan sejarahnya. Sebab, peradaban masa modern sekarang inilah satu-satunya peradaban manusia yang tahu bahwa manusia menuju pada kehancurannya”.
  6. Manusia adalah makhluk kreatif. Kreativitas yang menyatu dengan perbuatannya ini menyebabkan manusia mampu menjadikan dirinya sebagai makhluk yang sempurna di depan alam dan di hadapan Tuhan. Kreativitas inilah yang menjadikan manusia memiliki kekuatan luar biasa dan memungkinkan dirinya menembus batas batas fisik dan memiliki kemampuan yang sangat terbatas dan memberinya capaian capaian besar dan tidak terbatas yang tidak bisa dinikmati oleh benda benda alam lainnya. Manusia dianugerahi jiwa yang kuat yang terdapat di dalam alam agar dengan itu, dia bisa membuat segala sesuatu yang diinginkannya yang tidak terdapat dalam alam. Dengan kekuatan kreativitasnya, manusia menciptakan peralatan pada tahap awal dan menciptakan teknologi pada tahap berikutnya.
  7. Manusia adalah makhluk yang mempunyai cita cita dan merindukan sesuatu yang ideal. Dalam arti, dia tidak akan menyerah dan menerima “apa yang ada”, tetapi selalu berusaha mengubahnya menjadi “apa yang semestinya.” Itu sebabnya, manusia selamanya berteknologi, dan karena itu juga, dia memandang bahwa dirinyalah makhluk satu-satunya yang bisa membentuk lingkungan, bukan lingkungan yang membentuk dirinya. Dengan kata lain, manusia selamanya memberlakukan “keyakinannya” atas hal hal yang nyata.
  8. Manusia adalah makhluk moral, peduli terhadap nilai nilai (values). Nilai nilai adalah ungkapan mengenai hubungan manusia dengan salah satu fenomena, cara, kerja, atau kondisi, yang di dalamnya terdapat motif yang lebih luhur daripada keuntungan (utilite). Yang disebut sebagai sejenis “hubungan sakral” yang memukau. Kemuliaan dan keyakinan, harta dan pengorbanan diri mempunyai justifikasi. Manusia dituntut untuk semakin berpihak ketika menghadapi kenyataan bahwa justifikasi di sini tidak mungkin selamanya berupa justifikasi natural, rasional, dan ilmiah, dan pada saat yang sama, kesadaran ini mungkin menjadi sumber diterimanya seluruh kesadaran akan keyakinan dan kebudayaan di sepanjang sejarah, karena dianggap sebagai fenomena tertinggi bagi eksistensi genera manusia. Ia menciptakan modal paling berharga, kebanggaan paling tinggi, kecintaan dan kehormatan paling mulia dalam peradaban manusia yang besar.
  9. Manusia adalah makhluk yang selalu mengejar cita cita dan berusaha mengubah “apa yang ada” menjadi “apa yang semestinya”, atau “apa yang kini ada” menjadi “apa yang seharusnya ada”, di dalam alam, masyarakat dan dirinya sendiri. Perubahan perubahan tersebut, memberinya keyakinan mengenai adanya perubahan menuju kesempurnaan.
  10. Manusia adalah makhluk yang dapat dikenali secara jelas melalui perbuatannya sebagai suatu kekuatan melawan alam. Sebab, dengan perantaraan kekuatannya tersebut, dia bisa menciptakan karakter alam dan selanjutnya karakter dirinya. Sepanjang dia dikatakan sebagai makhluk yang mempunyai kemampuan kreatif, berarti dia bisa menguasai alam dan dirinya sendiri. Dalam bentuk yang seperti itu, melalui penciptaan keindahan, seni dan sastra, dia memberikan sesuatu yang belum pernah ada di alam ini; dan dengan industri, dia memberikan sesuatu yang tidak pernah diberikan alam kepadanya. Lalu, dalam sosok seperti itu juga, manusia adalah makhluk yang berpikir. Dengan kemampuan ini, dia bisa mengenal alam dan posisi kemanusiaannya di dalam alam, masyarakat dan zaman.
  11. Manusia adalah makhluk yang memiliki esensi kesucian dan dari situ, diteteskan “kesakralan kesakralan” yang membentuk keyakinannya menjadi penjelas eksistensi dirinya yang paling luhur, luar biasa dan supralogis, dan pada komunitasnya, dia menciptakan nilai nilai kemanusiaan, yaitu nilai nilai yang melahirkan kegairahan, peribadatan dan dampak dalam sejarah genera makhluk ini, dan yang merupakan modal spiritual kemanusiaan yang semuanya patut dibanggakan. Ia adalah “konsep konsep” yang disakralkan, dan sekalipun mempunyai “petunjuk petunjuk” yang berubah-ubah, dia tetap kekal dan mutlak, dan hanya akan berubah jika dia berubah menjadi makhluk jenis lain atau lenyap sama sekali.
Dalam esensi manusia yang menakjubkan, terdapat unsur gaib yang sangat dahsyat, yang selalu diagungkan, dimuliakan dan disucikannya dengan penuh semangat, yang berbeda dengan makhluk makhluk yang fana, lalu memberikan nilai nilai tinggi untuk “hubungan” ini. Sebagaimana Nietzche, telah menciptakan nilai nilai moral yang dipandang lebih berharga daripada nilai nilai yang ada pada martabat dirinya.
 
Ali Syariati mengatakan bahwa Orang yang bisa menemukan kepastian dan motivasi seperti ini dalam diri manusia, memandang nilai nilai itu berada di luar diri manusia, yang dengan mengingkarinya, dialektika materialisme telah mengingkari manusia sekaligus mengingkari dirinya sendiri.
 
Dengan subjektivitas modern bahwa manusia, dalam memandang alam dan lingkungannya, mengacu pada dirinya sendiri. Manusia dalam subjektivitasnya, dengan kesadarannya, dalam keunikannya, menjadi titik acuan pengertian realitas. Jadi, subjektif di sini bukan sesuatu yang negatif, melainkan keunggulan. Dalam arti ini, Hegel dan Sartre mempergunakan kata subjek. Menurut Hegel, manusia itu bukan substansi, melainkan subjek. Substansi di sini dimaksud sebagai kepadatan kebendaan, sebagai sesuatu yang berada di dunia bagaikan sebongkah batu di tengah tengah sawah. Adapun subjek adalah pusat kesadaran, kesadaran akan kesadaran, pusat yang secara kritis melawankan diri terhadap realitas, terhadap dunia. Manusia adalah makhluk yang sadar bahwa ia sadar. Terhadap segala apa yang ada, termasuk dirinya sendiri, objeknya, dunianya, sesuatu di luar dan berhadapan dengannya, yang lain darinya, ia harus mengambil sikap. Bahwa manusia adalah subjek, artinya manusia tidak sekedar hadir dalam dunia, melainkan hadir dengan sadar, dengan berpikir, dengan berefleksi, dengan mengambil jarak, secara kritis dan bebas.
 
Psikologi humanistik berkembang sebagai bagian dari kesadaran manusia terhadap eksistensi dirinya. Salah satu tokoh dari aliran ini ialah Abraham Maslow yang mengkritik Freud dengan mengatakan bahwa Freud hanya meneliti mengapa setengah jiwa itu sakit, bukannya meneliti mengapa setengah jiwa yang lainnya bisa tetap sehat.
 
Sebagaimana Viktor Frankl yang mengembangkan teknik psikoterapi yang disebut sebagai logotherapy (logos = makna). Viktor, dengan prinsip prinsip kerangka pikirnya, mengatakan mengenai makna hidup dan hidup yang bermakna. Semua kehidupan yang dialami manusia memiliki hikmah dan makna tersendiri. Oleh karena itu, peristiwa yang menyenangkan maupun yang menyedihkan bukanlah substansi eksistensi sebab yang menjadi hakikat peristiwa adalah makna dan hikmahnya.
 
Manusia memiliki kesadaran dalam seluruh aktivitasnya apabila ia selalu memaknai kehidupannya. Manusia memiliki kebebasan dalam memberikan makna terhadap pengalaman yang dilaluinya sehingga ia semakin pandai menghadapi kehidupannya meskipun banyak tantangan yang harus dihadapi.
 
Semakin banyak manusia memiliki pengalaman dan pandai mengambil makna dari setiap yang dialaminya, ia akan semakin eksis. Sebagaimana seekor tikus yang lolos dari jeratan perangkap yang dipasang manusia, ia bagaikan orang yang lolos dari kamp konsentrasi Nazi pada masa Perang Dunia 2, lalu ia memaknai pengalamannya sebagai suatu hal yang berada pada puncak kesadaran tertinggi. Penyiksaan terhadap para tahanan oleh prajurit Nazi yang kejam dapat mengakibatkan rasa putus asa, kenekadan yang tidak terkendali dan stres yang sangat berat. Lalu, dengan kesabaran dan keberanian yang terkontrol, siapa saja akan lolos dari kematian yang sia sia. Jadi, bagi Frankl, hanya orang orang yang bermakna yang akan hidup selamanya, meskipun jasadnya telah tiada. Seekor tikus yang “pandai” akan berhati-hati ketika melihat makanan terkurung dalam perangkap. Hanya saja, tikus tidak memiliki kemampuan memaknai pengalamannya. Jadi, manusia yang bodoh memaknai pengalaman ia akan menjadi seekor tikus yang mudah terperangkap.
 
Humanisme telah mengembangkan logoterapi yang mencitrakan kecerdasan manusiawi dalam tingkatan yang tertinggi. Semangat memaknai kehidupan melalui keyakinan tentang adanya kesadaran tertinggi mengenai makna hidup.
 
Sekian dari informasi ahli mengenai aliran humanisme dalam psikologi, semoga tulisan informasi ahli mengenai aliran humanisme dalam psikologi dapat bermanfaat.

Sumber : Tulisan Informasi Ahli :

– Mursidin, 2010. Psikologi Umum. Yang Menerbitkan CV Pustaka Setia : Bandung.
Gambar Abraham Maslow Tokoh Aliran Humanisme Dalam Psikologi

Gambar Abraham Maslow Tokoh Aliran Humanisme Dalam Psikologi

 
Aliran Humanisme Dalam Psikologi | ali samiun |