Loading...

Aliran Psikoanalisis Dalam Psikologi

Hai Pembaca, Kali ini Informasi Ahli akan membahas mengenai aliran psikoanalisis dalam psikologi.
 
 
Pada permulaan tahun 1900, Aliran Psikoanalisis muncul sebagai upaya memperdalam pandangan pandangan psikologis yang diperkuat oleh berbagai kemajuan di bidang kedokteran. Kemunculan psikoanalisis sebagai salah satu aliran psikologi disebabkan adanya pandangan bahwa aliran behaviourisme dianggap tidak mampu atau secara sengaja menafikan faktor kesadaran manusia. Bagi aliran behaviourisme, pengalaman manusia yang bervariasi di dalam kesadaran maupun ketidaksadaran tidak perlu diperhitungkan. Motif motif dari kesadaran mengenai mental manusia atau rasa bukan merupakan hakikat perilaku yang sesungguhnya karena yang paling fundamental adalah realitas yang sebelumnya telah dikondisikan. Oleh sebab itu, rasa cinta, benci, harapan, putus asa, keyakinan, takut, keberanian, marah dan sejenisnya bukan wujud perilaku yang sesungguhnya.
 
Perbedaan antara aliran psikoanalisis dengan behaviourisme sangat kontras. Aliran Psikoanalisis merupakan aliran yang mencari penyebab munculnya perilaku manusia pada alam tidak sadar. Tokoh aliran ini adalah Sigmund Freud, seorang neurolog berasal dari Wina, Austria akhir abad ke 19. Aliran ini berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang berkeinginan (homo volens).
 
Pada awalnya, kurang lebih tahun 1880, Breuer, seorang dokter saraf di Wina menyatakan simton-simton hysteria itu tidak ditimbulkan oleh sebab jasmaniah, melainkan oleh karena peristiwa emosional yang sudah dilupakan atau traumata. Dengan pandangan itu, pengobatan terhadap gangguan kejiwaan dapat dilakukan dengan cara mengembalikan ingatan pasien pada pengalaman masa lalunya. Dengan membangkitkan kembali ingatannya melalui reproduksi pengalaman masa lampau yang sudah traumatic, akan terjadi pembebasan dan penyucian jiwa. Metode untuk membangkitkan ingatan dilakukan dengan cara hipnotis.
 
Pandangan di atas dilanjutkan oleh Charcot yang mengeluarkan pemyataan teoretisnya tentang sistem saraf yang terorganisasi menurut pola heriditas yang mapan. Oleh karena itu, gejala kelumpuhan disebabkan oleh melemahnya sistem saraf sebagai akibat keturunan. Menurut Janet, sistem saraf dapat bangkit oleh adanya ketegangan emosional yang menyalurkan energi kuat ke dalam proses psikis sehingga saraf yang inferior tidak memiliki kemampuan merespons emosi emosi yang menegangkan dan berakibat struktur saraf terisolasi dan terpecah-belah dari susunan strukturalitasnya. Hal itulah yang mengakibatkan munculnya gejala kelumpuhan.
 
Pandangan pandangan di atas merupakan awal dari lahirnya aliran psikoanalisis, terutama setelah Sigmund Freud yang ahli saraf bergabung dengan murid murid Charcot di Paris dan mempelajari teori teori dari Breuer dan Charcot. Dengan analisis Freud terhadap kedua pandangan pendahulunya itu, ia menyatakan bahwa reproduksi ingatan melalui pembangkitan pengalaman baru melalui metode hipnotis tidaklah tepat. Hal ini karena keadaan pasien tidak sadar dan ketidaksadaran hanya akan mengembalikan jiwa pasien ke periode ketidaksadaran yang sama ketika dibangunkan. Kesadaran mengenai ingatan masa lalu melalui hipnotis adalah mimpi bukan kenyataan.
 
Freud lahir 6 Mei 1856 di Pribor. Ia berkebangsaan Austria, lalu bersama keluarganya, pindah ke Wina dan tinggal di kota itu. Ia berasal dari keluarga miskin. Ayahnya adalah pedagang bahan wol yang tidak terlalu sukses. Sejak kecil, Freud sudah menunjukkan kecerdasan yang luar biasa. Ia belajar kedokteran dan memilih spesialisasi di bidang neurologis. Dalam praktiknya sebagai ahli saraf, Freud banyak mengembangkan ide dan teorinya mengenai teknik terapi psikoanalisis.
 
Ada dua orang yang berpengaruh besar bagi pemikiran Freud, yaitu Breuer, seorang psikiater terkenal di Wina dan Charcot, dokter saraf terkenal di Perancis. Bersama-sama dengan Breuer, Freud menangani pasien pasien dengan gangguan histeria yang menjadi bahan bagi tulisannya, Studies in Histeria. Dari Charcot, ia banyak belajar mengenai teknik hipnosis dalam menangani pasien histeria karena Charcot mengembangkan teknik hipnose. Kelak, Freud meninggalkan teknik hipnosis ini karena sulit diterapkan dan mengembangkan teknik menggali ketidaksadaran lewat kesadaran, seperti free association. Dengan mengembangkan teknik ini, Freud lebih percaya bahwa hal hal di dalam ketidaksadaran bukan dilupakan (seperti teori Charcot), tetapi direpres (ditekan ke dalam ketidaksadaran agar tidak muncul).
 
Menurut Freud, pengobatan yang tepat bagi manusia yang terganggu kejiwaannya karena sistem saraf yang rapuh atau penyakit neurotis adalah dengan metode psikoanalisis yang bertitik tolak dari pandangan bahwa river utama bagi kebangkitan kembali sistem saraf adalah dorongan seksualitas manusia. Kebutuhan seksual merupakan prioritas utama yang menjadi motor penggerak dan akan mengembalikan pasien pada posisi semula. Pengobatan dengan pendekatan psikoanalisis harus dilakukan di dalam keadaan pasien sedang sadar, karena kesadaran membangkitkan kinerja saraf, sehingga ikut membantu bangkitnya pengalaman traumatik dan mengorganisasikan sistem sarafnya secara sempurna.
 
Alam bawah sadar atau alam tidak sadar bagi Sigmund Freud merupakan penggerak utama munculnya perilaku yang berbentuk mind atau pikiran maupun yang fisikal. Artinya, semua perilaku manusia, baik yang tumpak maupun yang tersembunyi, yang biologis maupun kejiwaan, didorong oleh energi alam bawah sadar. Energi alam bawah sadar ditarik oleh rangsangan rangsangan eksternal dan diakses di dalam bentuk perilaku yang konkret maupun yang abstrak. Manusia menikmati keadaan alam tidak sadarnya di dalam bertindak dan berpikir. Dengan demikian, terdapat peristiwa mental yang disadari atau tidak menciptakan bentuk tindakan. Alam tidak sadar (unconscious) menyimpan struktur mental kepribadian manusia yang diibaratkan sebagai gunung es.
 
Ketidaksadaran dalam pandangan Freud tidak dapat diteliti melalui eksperimen di laboratorium maupun dianalisis dengan pendekatan introspeksi. Oleh karena itu bagi Freud, manusia memiliki kebebasan mengekspresikan kehendaknya di dalam bentuk tingkah laku maupun berpikir. Pembebasan tindakan memudahkan aliran psikoanalis, melakukan penafsiran penafsiran sebagai metode utama untuk mengetahui energi ketidaksadaran manusia. Dalam mengaplikasikan psikoanalis, manusia dibiarkan berpikir dengan bebas dan diasosiasikan dengan berbagai keadaan yang abstrak sekalipun, sebagaimana mimpi mimpi manusia yang senantiasa berada di alam bawah sadarnya. Karena ketidaksadaran merupakan hakikat mentalitas manusia, di dalamnya ada perang antara ya dan tidak, menerima atau menolak, mengerjakan atau meninggalkan. Gunung es itu lama kelamaan meletus dan menampakkan diri sebagai bayangan ketidaksadaran manusia. Sebagaimana seorang manusia yang dengan ketidaksadarannya bertindak hendak mencuri, di dalam id-nya ia berkeinginan mencuri dengan alasan keadaannya aman, sedangkan dalam egonya, ia mengatakan bahwa ia harus melihat sekeliling agar tidak ketahuan dan superegonya menegur agar ia tidak melakukan pencurian. Ketiga mentalitas itu adalah ketidaksadaran.
 
Ketidaksadaran sudah berlaku sejak manusia masih bayi. Oleh karena itu, Freud menyebutnya sebagai proses pemikiran pertama yang sepenuhnya dikendalikan oleh energi psikis sebagai semata-mata penikmat. Bayi memiliki primary process thinking melalui id-nya. Oleh karena itu, ia memiliki kemampuan memilih dengan alam tidak sadarnya. Seperti, ketika kemauan menyusui muncul maka ia akan mengisap jempolnya. Dengan mengisap jempol maka ia menemukan kepuasan atau kesenangannya. Hal itu terjadi apabila ibunya terlambat menyususi atau terlambat memberikan susu.
 
Bayi berkembang dengan ketidaksadarannya melalui proses berpikir pertama. Ketika usianya beranjak ke masa kana kanak dan dewasa.
ketidaksadarannya digantikan dengan egonya yang berisi kaidah dan nilai nilai moral yang dicernanya dari faktor ekstemal di luar dirinya. Pada masa ini, Freud menyebutnya sebagai tahap secondary process thinking. Pada masa ini, ego menciptakan tindakan ya atau tidak, setuju atau tidak terhadap tindakannya sendiri. Munculnya keingintahuan anak anak adalah karena fungsi egonya yang bereaksi terhadap diri dengan pengaruh lingkungannya. Sebagai contoh, seorang anak diberi makanan oleh orangtuanya, lalu makanannya disisakan karena berniat memberi kakaknya yang belum mendapatkan bagian.
 
Ego merupakan energi yang memberikan dorongan terhadap manusia dalam menangguhkan keinginannya untuk memperoleh kepuasan seketika. Pada orang dewasa, ego ini mengendalikan pikiran dan emosinya dalam bertindak. Sublimasi tindakan dapat berupa pengganti yang dipandang akan lebih memuaskan di masa yang akan datang. Pada masa ini muncul keinginannya untuk meraih cita cita dengan perjuangan yang keras, ada keinginan menabung untuk masa depan, rajin menghafal dan sebagainya. Tindakan yang demikian sangat boleh jadi dilakukan dengan mengorbankan hasratnya yang pertama, contohnya bermain-main sebebas mungkin, bersenang-senang seolah-olah tanpa beban. Dengan sekolah, menabung dan tekun belajar, harapan semula ditangguhkan. Akan tetapi, pada masa ini, bukan berarti bahwa masa pertama sebagai primary process thinking telah hilang. Pada masa dewasa, id masih tetap kuat, seperti suami yang membanting piring ketika mau makan, tetapi istri tidak memasak atau tindakan nekat bunuh diri karena putus cinta.
 
Dengan demikian, ego mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan usia manusia. Kedewasaan manusia tidak berarti berada pada kesadarannya, karena secara alamiah, masa masa itu berjalan dengan sendirinya atas dasar ketidaksadaran atau kesadarannya. Baik id maupun ego dapat bergantian posisi keberadaannya pada manusia dewasa atau yang lebih tua. Berbagai pengalaman dan pengaruh lingkungan ikut menentukan bertambahnya energi ego manusia, sehingga kaidah dan nilai nilai mengenai kebenaran dipersepsi sedemikian rupa. Oleh karena itu, baik atau buruk hanyalah masalah memersepsi sebagai bagian ketidaksadaran maupun kesadaran manusia.
 
Perkembangan pada usia kanak kanak, dewasa dan bertambahnya usia muncul kecenderungan untuk mempertajam kecerdasannya, baik kecerdasan intelektualitasnya, kecerdasan emosionalitas maupun kecerdasan spiritualnya. Kecerdasan intelektual atau yang disebut dengan IQ (intelligence quotient) memacu otak kiri manusia dalam memikirkan segala hal yang verbalistik, logis dan rasional, tetapi perlu diperkuat oleh kecerdasan emosi manusia atau yang disebut dengan EQ (emotional quotient). Dengan demikian, rasio tidak mematikan kesadaran mental dan rasa terhadap diri dan lingkungan sekitarnya. Eksistennya emosi tanpa rasio memunculkan kebodohan dan kelambanan mengambil keputusan. Sebaliknya eksistensi rasio tanpa emosi menciptakan dehumanisasi, manusia tanpa jiwa. Rasio dan emosi sepantasnya bersatu dan dikuatkan oleh kecerdasan spiritual. Kecerdasan spiritual eksistensinya “selalu” berada pada tataran abstrak yang metafisik dan supranatural, tetapi menciptakan energi yang sangat kuat dalam membangkitkan rasio dan emosi ke dalam tingkah laku konkret.
 
Menurut Freud, ketidaksadaran lebih dominan dibandingkan kesadaran. Dalam diri manusia terdapat dorongan untuk memperoleh kesenangan dan kebahagiaan. Demikian juga, untuk memperoleh kesenangan itu, manusia melakukan suatu tindakan yang nyata atau melarikan diri dari realitas tertentu menuju realitas yang lain dengan cara destruktif. Dalam kehidupan psikis, kepribadian manusia terstruktur dalam tiga unsur berikut.
  1. Ketidaksadaran yang berupa nafsu nafsu, motivasi, insting dan energi yang menghidupkan unsur unsur psikis yang dinamakannya dengan istilah das es atau struktur mental kepribadian yang disebut id, yang berisi energi psikis, yang hanya memikirkan kesenangan semata.
  2. Kesadaran dalam proses penghayatan lahiriah maupun batiniah yang memiliki kemampuan mengendalikan dorongan dorongan. Freud menyebutnya das ich sebagai realitas dari dorongan kesadaran psikis manusia atau superego yang menjadi berisi realitas, berisi kaidah, nilai dan ukuran moralitas suatu tindakan yang dicerna dari lingkungannya.
  3. Ueber-ich, sebagai kesadaran tertinggi yang disebut juga dengan istilah ego, aku yang ideal. Ego adalah pengawas realitas kesadaran yang tertinggi, yang melebihi dari diri kesadaran manusia itu sendiri. Dengan ego, manusia memiliki kemampuan mengontrol tindakannya, atau katakanlah ada kinerja hati nurani ketika manusia hendak bertindak, yang disebut dengan ueber ich atau ego.
 
Kesadaran dan ketidaksadaran, yang merupakan unsur penting dari psikis manusia, menempati wilayahnya masing masing. Freud membedakan wilayah kesadaran dan ketidaksadaran, yaitu :
  1. kesadaran yang dapat disadari melalui pengamatan terhadap kehidupan psikis;
  2. bawah sadar atau preconscious (prakesadaran) yang berada pada masa lampau dan telah tenggelam ke dalam unsur unsur psikis yang sewaktu waktu dapat dibangkitkan melalui reproduksi pikiran dan ingatan ketika di dalam keadaan sadar;
  3. kompleksitas ketidaksadaran dalam realitas yang dapat diamati. Tindakan nyata manusia yang didorong oleh ketidaksadaran, tetapi akibatnya jelas dan terbuktikan dan membangkitkan kesadaran untuk melakukan destruksi terhadap pengaruh yang mengganggu ketenangan unsur unsur psikis manusia;
  4. ketidaksadaran absolut, yaitu keadaan psikis yang sudah rusak total dan tidak mungkin dibangkitkan dengan cara apa pun atau tidak mungkin disadarkan.
 
Aliran psikoanalisis yang dikembangkan oleh Sigmund Freud mendapat perhatian serius dari tokoh psikologi lainnya. Hal ini karena teori Freud telah memberikan penjelasan rinci tentang gejala gejala ketidaksadaran dan keadaan sadar manusia. Bahkan, Freud mendefinisikan dan menafsirkan gejala ketidaksadaran melalui psikoanalisisnya terhadap mimpi, perasaan, keterdesakan motivasi neorotif, seperti gangguan jiwa, kepribadian yang disosiatif, depersonalisasi dan kemauan emosional manusia.
 
Karena teori Freud dianggap sosok yang kontroversial, psikolog lainnya menentang keras pandangan pandangan Freud. Akan tetapi, karena kontroversinya, Freud menjadi semakin besar dan populer sehingga banyak pengamat psikologi mengkaji pikiran pikirannya dengan penuh rasa kepenasaranan dan Freud menjadi pemikir psikologi yang fenomenal sampai hari ini.
 
Aliran psikoanalisis berdiri tegak dimulai dengan terbitnya karya Freud, yakni Studies on Hysteria (tahun 1875). Dalam karya itu terdapat teknik teknik terapi jiwa yang kontroversial, terutama karena ia berani menyatakan bahwa metode hipnolis tidak tepat dijadikan terapi reproduksi pengalaman dan membangkitkan daya ingat pasien yang terkena gangguan traumatik dengan sistem saraf yang disfungsional atau disorganisasi.
 
Pada dekade awal abad 20, psikoanalisis semakin populer dan tulisan tulisan Freud semakin berpengaruh. Ia juga memiliki banyak pengikut atau murid yang terkenal, antara lain Adler dan Jung. Mulai terbentuk forum forum diskusi rutin antara ahli psikoanalisis sehingga dapat mendiskusikan konsep konsep psikoanalisis di antara mereka. Pada tahun 1909, Freud diundang oleh G. Stanley Hall untuk berpidato di Clark Uni, salah satu universitas besar di AS dan dengan demikian Freud juga sudah diakui di AS. Pada tahun 1910, International Psychoanalysis Association terbentuk dan Jung menjadi ketua pertamanya. Para kolega Freud memprotes hal ini dan membela Freud untuk menjadi ketuanya. Hubungan Jung dan Freud akhimya terganggu.
 
Freud meninggalkan Austria pada saat Hitler semakin berkuasa dan posisinya sebagai intelektual Yahudi memberinya berbagai kesulitan. Melalui usaha Ernest Jones, seorang Inggris dan dubes Inggris di Austria, pada tahun 1938, Freud keluar dari Austria dan berimigrasi ke Inggris hingga akhir hayatnya di 1939.
 
Teori yang dikembangkan oleh Freud menuai kritikan dari psikolog fiksi. Kesadaran dan ketidaksadaran, apalagi keberadaan di ambang sadar atau tidak sadar, sukar diteliti secara ilmiah, apalagi diuji di laboratorium. Pandangan Freud sangat subjektif terhadap kategorisasi manusia yang tingkah lakunya didorong oleh ketidaksadaran atau kesadaran. Akan tetapi, sesulit apa pun, teori Freud dapat dipahami secara lebih mendalam, dengan melihat dari sisi diri kita sendiri. Hal ini karena setiap manusia mungkin pernah melakukan suatu tindakan tanpa sadar, tingkah laku di bawah sadar maupun manusia yang kesadarannya telah musnah sehingga sulit untuk disadarkan.
 
Menurut Juhaya S. Pradja, Ibnu Taimiyah membagi tiga potensi yang terdapat dalam diri manusia, yaitu :
  1. potensi akal (quwwah al-’aqly);
  2. potensi syahwat (quwwah asy-syahwat)’, dan
  3. potensi ghadhab (quwwah al-ghahlab).
 
Dengan tiga potensi itu, manusia memiliki tiga kesadaran yang saling berintegrasi, meskipun dalam hal tertentu, dapat bercerai-berai. Kekuatan akal manusia membangkitkan kesadaran pada keyakinannya terhadap sesuatu yang metafisik dan supranatural sehingga akal memiliki kemampuan membedakan jenis jenis perbuatan, yang baik atau yang buruk yang juga menguatkan keyakinan terhadap nilai nilai kehidupan metafisikal.
 
Kekuatan syahwat dan ghadhab merupakan potensi depensif dan potensi opensif yang dapat menarik segala sesuatu yang bermanfaat dan menghindarkan diri dari segala sesuatu yang membahayakan. Dengan demikian, kesadaran manusia dibangkitkan oleh ketekunannya menyerap faktor-faktor ekstemal dari lingkungan dan pengalamannya.
 
Pandangan di atas bukan bermaksud menyamakan teori Freud dengan Ibnu Taimiyah, tetapi tiga unsur psikis yang dikemukakan Freud dengan tiga potensi diri Ibnu Taimiyah dapat saling menafsirkan. Hal ini karena keduanya memiliki substansi filosofis dan psikologis yang sama. Substansi yang paling utama adalah tidak ada jalan untuk melakukan uji coba pada kesadaran atau ketidaksadaran maupun mengukur kekuatannya. Hanya saja, dari ketiganya itu, baik dari Freud maupun Ibnu Taimiyah, merupakan potensi kejiwaan dan sistem mind yang benar benar ada dan dapat dirasakan.
 
Demikian pandangan Freud dengan psikoanalisisnya yang telah menjelaskan struktur kepribadian secara mendalam. Sebagai bukti bahwa Freud digandrungi, lahirlah murid murid Freud dan mereka banyak mengadopsi pandangan pandangan psikoanalisis, seperti Alfred Adler, Carl Gustav Jung, Bleuler dan Stekel. Ajaran Freud meluas hingga ke seluruh Eropa Barat dan Amerika Serikat, terutama pada abad ke 20. Bukti penyebaran ajaran Freud adalah banyaknya didirikan organisasi psikoanalisis internasional dengan berbagai penerbitan majalah.
 
Tidak semua murid Freud mencaplok teori dari Freud. Adler, contohnya, melahirkan teorinya sendiri, yaitu psikologi individual pada tahun 1910, meskipun ia menggunakan teori kesadaran Freud. Pada tahun 1913, Jung, murid Freud yang lain, ikut melepaskan diri dari madzhab Freud dan mendirikan psikologi analitis di Zurich.
 
Sekian dari informasi ahli mengenai aliran psikoanalisis dalam psikologi, semoga tulisan informasi ahli mengenai aliran psikoanalisis dalam psikologi dapat bermanfaat.

Sumber : Tulisan Informasi Ahli :

– Mursidin, 2010. Psikologi Umum. Yang Menerbitkan CV Pustaka Setia : Bandung.
Gambar Sigmund Freud Tokoh Aliran Psikoanalisis Dalam Psikologi

Gambar Sigmund Freud Tokoh Aliran Psikoanalisis Dalam Psikologi

 
Aliran Psikoanalisis Dalam Psikologi | ali samiun |