Loading...

Pengertian Psikologi Kriminal

Hai Pembaca, Kali ini Informasi Ahli akan membahas mengenai pengertian psikologi kriminal.
 
 
Pengertian Psikologi kriminal adalah ilmu psikologi yang khusus berhubungan dengan soal kejahatan atau kriminalitas. Menguraikan latar belakang munculnya niat kejahatan pada diri seseorang maupun kejahatan sosial yang disebabkan oleh faktor faktor psikologis. Psikologi kriminal melihat kejahatan tidak berdiri sendiri atau ada dengan sendirinya, tetapi berkaitan dengan berbagai gejala kepribadian dan gejala sosial lainnya. Kejahatan dapat disebabkan oleh sikap hidup yang senantiasa merasa tertindas, terasing, dilecehkan, dan superioritas pribadi manusia.
 
Ilmu Psikologi kriminal digunakan oleh kepolisian dalam menangani perkara yang terjadi, dengan melakukan pemrofilan kriminal. Pemrofilan kriminal merupakan pekerjaan menyimpulkan rincian ciri ciri fisik (berat badan dan tinggi, cacat rupa dan sebagainya), demografis (usia, jenis kelamin, latar belakang etnis dan sebagainya), dan keperilakuan (kepribadian, termasuk motivasi, gaya hidup, fantasi, proses seleksi korban, serta perilaku sebelum dan prediksi perilaku sesudah tindak kejahatan) dari kemungkinan pelaku kejahatan berdasarkan aksi-aksinya pada scene kejahatan. Scene kejahatan meliputi tempat tempat potensial sejauh bukti dari sebuah tindak kriminal. Contohnya, penculikan dapat ditemukan, yang terdiri dari scene kejahatan primer dan sekunder.
 
Keseluruhan dari proses pemrofilan kriminal mirip dengan proses pengumpulan data dalam penelitian dengan proses pengumpulan data dalam penelitian kualitatif yang dikemukakan Koentjoro. Menurutnya, ada empat jenis sumber data penelitian kualitatif, yaitu subjek, informan, written documents dan unwritten douments. Dalam prosesnya, penggalian data atau informasi dalam penelitian kualitatif diibaratkan sebagai sebuah simfoni. Dalam hal ini, potongan atau penggalan data yang diperoleh peneliti kualitatif ibarat bunyi biola atau bus atau drum yang ketika dibunyikan mungkin tidak memiliki makna apapun. Namun apabila “bunyi-bunyian” tersebut dirangkaikan dengan data yang lain, berulah mereka mempunyai makna. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pelaku pemrofilan kriminal pada hakikatnya adalah seorang yang bekerja sebagai “peneliti kualitatif”.
 
Turvey mengatakan bahwa aspek signifikan dari pemrofilan kriminal adalah pengetahuan mengenai perilaku manusia dan keahlian untuk menginterprestasikan makna makna dari perilaku tersebut. Sementara itu, ahli ahli psikologi dan psikiatri forensif memiliki pemahaman dan pelatihan yang khas dalam proses proses mental, fisiologi, perilaku manusia dan psikopatologi. Psikologi lingkungan juga berperan, sebagaimana ditunjukkan David Canter, Canter menunjukkan relasi antara psikologi lingkungan dengan kejahatan, antara lain dengan memperlihatkan secara rinci bagaimana ruang dan waktu berkaita dengan aktivitas kriminal. Selain alasan alasan di atas, kompetensi psikologis juga diperlukan untuk menyimpulkan signature behavior yang dibedakan dari modus operandi pelaku kejahatan. Modus operandi mengindikasikan pendidikan dan pelatihan teknik yang dimiliki pelaku kejahatan serta tingkat pengalaman pelaku kejahatan dalam melakukan tindak kriminal dan dalam menghadapi sistem peradilan. Namun signature behaviors merupakan setiap tindakan yang dilakukan pelaku kejahatan yang tidak harus menjadi syarat perlu bagi sebuah tindak kriminal, namun menyatukan kabutuhan psikologis atau emosional pelakunya (seperti : rasa tamak, balas dendam, rasa marah dan sebagainya). Dalam ilmu forensik komputer, contoh modus operandi yaitu menjalankan skrip milik orang lain atau memprogram skrip sendiri yang digunakan untuk menyerang atau merusak sebuah komputer, sedangkan signature bahavior lebih terpersonalisasi, seperti menandai files atau kode program dengan nama julukan (nickname)-nya sendiri.
 
Oleh karena hal hal tersebut, profesi kesehatan mental seperti ahli psikologi dapat bekerja dengan baik dalam proses proses pemrofilan kriminal sejauh mereka telah memperoleh juga pendidikan yang terkait dengan investigasi dan ilmu ilmu forensik atau juga kriminolog yang telah memperoleh pendidikan psikologi.
 
Secara umum pelaku kejahatan terorganisasi diduga melakukan tindak kejahatan setelah mengalami beberapa peristiwa urgen yang penuh stres, seperti masalah finansial, masalah relasi antara manusia, atau masalah pekerjaan. Scene kejahatannya mencerminkan sebuah pendekatan yang metodis dan teratur. Hal ini dipandang sebagai konsekuensi dari pelaku kejahatan yang memiliki keterampilan sosial dan dalam menangani situasi situasi interpersonal. Pelaku kejahatan yang terorganisasi, dengan demikian lebih mungkin menggunakan pendekatan verbal terhadap korban sebelum melakukan kekerasan. Sebaliknya, pelaku kejahatan yang tidak terorganisasi melakukan kejahatannya secara oportunistik. Ia tinggal dalam jarak yang dekat dengan scene kejahatan. Gaya penyerangan spontan scene kejahatannya berada dalam situasi kaotik. Hal ini mencerminkan ketidakmampuan sosial dan ketidakterampilan interpersonal pelakunya.
 
Pemrofilan kriminal merupakan sebuah alat forensik yang dapat dipelajari dan digunakan oleh siapa saja, termasuk oleh psikolog forensik. Kompetensi dalam psikologi ternyata turut memegang peran penting dalam sukses atau tidaknya pemrofilan kriminal.
 
Sekian dari informasi ahli mengenai pengertian psikologi kriminal, semoga tulisan informasi ahli mengenai pengertian psikologi kriminal dapat bermanfaat.

Sumber : Tulisan Informasi Ahli :

– Mursidin, 2010. Psikologi Umum. Yang Menerbitka Pustaka Setia : Bandung.
– Psikobuana : Jurnal Ilmiah Psikologi.
Pengertian Psikologi Kriminal
 
Pengertian Psikologi Kriminal | ali samiun |