Pengertian Psikologi Sosial

Hai Pembaca, Kali ini Informasi Ahli akan membahas mengenai pengertian psikologi sosial.
 
 
Pengertian Psikologi Sosial adalah psikologi yang khusus membicarakan tingkah laku manusia berkaitan dengan situasi sosial.
Menurut Gerungan, Pengertian Psikologi Sosial adalah ilmu jiwa yang menguraikan dan menerangkan kegiatan kegiatan manusia dan khususnya kegiatan yang berhubungan dengan situasi situasi sosial, tempat terjadinya interaksi sosial, asosiasi maupun hubungan timbal balik yang terjadi di antara individu di dalam masyarakat.
 
Sosial di dalam bahasa Inggris artinya hidup bersama. Lawannya individual yang artinya hidup sendiri. Oleh karena itu, psikologi sosial dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari manusia yang hidup bersama atau ilmu mengenai tata cara manusia berinteraksi dengan sesamanya, sehingga tercipta hubungan timbal balik dan pembagian tugas serta fungsinya masing masing. Psikologi sosial merupakan ilmu aktivitas masyarakat dengan segala bentuk interelasinya. Individu dan masyarakat sebagai objek psikologi sosial bersifat empiris, realistik dan tidak bersandar pada kebenaran spekulatif. Setiap kajian yang diperoleh dalam masyarakat secara observatif akan menghasilkan teori yang dapat dijadikan dalil atau pijakan pendekatan psikologis di dalam berbagai penelitian.
 
Beni Ahmad Saebani mengatakan bahwa setiap individu di dalam bermasyarakat selalu menghadapi berbagai realitas yang berkaitan dengan strata sosial, status sosial, harga diri, kasta kasta dan kelas kelas sosial lainnya yang merupakan indikator bahwa garis nasib dan takdir manusia berbeda-beda. Perbedaan dipandang sebagai potensi yang dapat membangkitkan semangat membangun kualitas hidup sebagai pribadi maupun komunitas, meskipun dapat memancing konflik sosial. Semua itu merupakan kajian psikologi sosial.
 
Pada dasarnya, manusia ingin kehidupannya penuh dengan kedamaian dan ketenteraman. Akan tetapi, hukum alam berkata lain. Si kaya dan si miskin, pejabat dan rakyat, kaum borjuis dan proletar adalah dua kutub yang berseberangan. Untuk menyatukannya dalam kemitraan dan menyadarkan kehidupan sosial yang damai, aman dan tenteram dibutuhkan norma sosial yang mengandung nilai baik dan buruk berikut sanksi bagi pelanggarannya, sehingga memudahkan masyarakat menentukan pilihan yang tepat yang membawa maslahat bagi umat manusia. Kebutuhan pada hukum yang pasti adalah untuk mewujudkan hubungan antara individu di dalam masyarakat. Hukum yang lahir dari gejala sosial dapat dijadikan barometer tegaknya cita cita kehidupan masyarakat yang penuh dengan semangat kemitraan.
 
Pandangan di atas memberikan pemahaman bahwa psikologi sosial berhubungan erat dengan sosiologi, hanya di dalam sosiologi, objek yang dikaji adalah masyarakat sebagai komunitas yang jumlahnya banyak dan melakukan interaksi, sedangkan dalam psikologi, manusia cenderung dilihat sebagai manusia individual di dalam kehidupan sosialnya. Contohnya bagaimana seorang pribadi melakukan adaptasi dengan lingkungannya yang baru. Bagaimana memersepsi keadaan lingkungan keluarga, masyarakat dan struktur sosial lainnya untuk memperkuat kedudukan dan citra kehidupan pribadinya.
 
Dalam konteks psikologi sosial terdapat lima hal mendasar yang dikaji, yaitu :
1. eksistensi pribadi di tengah tengah kehidupan sosial (interaksi, hidup bersama);
2. berbagai gejala sosial dan dinamikanya, di dalam aktivitas sosial yang melibatkan pribadi;
3. stratifikasi dan kelas kelas sosial yang memperkuat atau melemahkan kedudukannya;
4. demografi dan perkembangan masyarakat desa dan kota; yang berpengaruh terhadap kelanjutan aktivitas pribadinya; dan
5. norma sosial yang dianut sebagai pandangan hidup masyarakat yang memperkuat pribadinya sebagai manusia yang patut dihargai, dihormati, diteladani atau manusia yang menyimpang, dibenci, dikucilkan dan dipenjarakan kebebasannya.
 
Perilaku sosial di dalam kehidupan merupakan sistem yang dirujuk secara langsung dari tradisi invidual yang berlanjut di dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Tolok ukur baik dan buruk yang berasal dari ajaran agama dan norma sosial dilokalisasi sehingga menjadi kepribadian individual dan kepribadian sosial (personality).
 
Ketika agama diartikan sebagai institusi dan perilaku beragama diorganisasikan sedemikian rupa, manifestasi perilaku dapat dimaknakan sebagai perilaku institusional. Ajaran agama hanya dijadikan ide dasar atau landasan idiil dari tindakan anggota masyarakat bersangkutan. Kegiatan keagamaan diarahkan oleh prinsip prinsip yang berlaku dalam institusi dan dipimpin berdasarkan norma yang telah disepakati bersama, yang terwujud dari kehidupan kelompok. Hal ini karena, norma tersebut juga merupakan sistem status yang hierarkis, yang masing masing mempunyai kekuasaan dan kewenangan serta prestise (harga diri) yang berbeda-beda sesuai dengan tujuan utama yang ingin dicapai oleh kelompok tersebut. Demikian juga, jika norma yang berlaku jauh dari nilai nilai agama baru, melainkan berasal dan leluri sosial mengenai kehidupan bersejarahnya kaum animistik dan yang serupa dengan itu, keberlakuan tradisi normatifnya tidak akan jauh berbeda, terutama di dalam mengendalikan cara hidup masyarakat dengan dan dalam lingkungan sosialnya. Pandangan ini juga menjadi kajian psikologi sosial di dalam arti kejiwaan dari perilaku kelompok dan perilaku organisasi.
 
Kelompok sosial memiliki tujuan yang sama dan mereka merasa bahwa di dalam kelompok itulah, tujuan dapat dicapai. Tujuan yang ada diperkuat Oleh norma yang berlaku, yakni suatu keyakinan yang berisikan penjelasan dan petunjuk untuk memahami gejala gejala dan pengalaman pengalaman dan penjelasan yang menghasilkan kehidupan rasional dan kenyataan hidup yang dialami manusia yang irasional. Masyarakat yang berpegang pada norma sosialnya akan menerima berbagai realitas. Kehidupan adalah real, nyata dan jelas, tetapi dalam mengarungi kehidupan, tidak semua yang real dapat dirasionalisasi. Keyakinan sosial terhadap sumber nilai ikut menentukan pola kehidupan dan mewujudkan hukum hukum sosial yang diharapkan dapat membantu meringankan beban sosialnya atau mencapai hasrat tertinggi yang mulia, yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
 
Masyarakat yang berprinsip pada norma sosialnya bukan hanya meyakini hal hal yang realistik dan empirik, tetapi mereka juga meyakini hal hal yang berbau mitos, kegaiban realitas, bahkan yang mustahil terlihat sebagai mustahil untuk ditolak adanya, karena zat ini mustahil adanya sama dengan sesuatu yang lain. Norma yang berlaku layaknya kebersamaan setiap orang yang beragama dengan didasarkan pada pemahaman bahwa kebersamaan merupakan kewajiban manusia, karena manusia telah ditakdirkan sebagai makhluk sosial.
 
Menurut Gerungan, pokok pokok yang dibahas dalam psikologi sosial yaitu sebagai berikut :
1. Hubungan antara individu, ini dikaji berkaitan dengan pola interaksi individu dengan individu lainnya; persepsi pribadi dengan pribadi lainnya, pandangan aku kepada dia, kamu kepada orang lain; hubungan antara individu atau antara pribadi berkaitan secara langsung dengan tipe tipe kepribadian, identitas diri, sikap, persepsi dan konsep jati diri. Persepsi terhadap diri juga mengenai sikap introspeksi dan ektrospeksi, kehangatan, rasa cinta, suka, benci, rindu dan sebagainya yang erat hubungannya dengan kepribadian dari diri sendiri maupun diri orang lain. Sebagai contoh, bahkan manusia adalah makhluk yang memiliki ego tertinggi, sebab dengan keegoannya, manusia mampu mempertahankan hidupnya. Tidak cukup dengan memanjakan diri sendiri, manusia berharap dimanjakan oleh orang lain, orangtuanya, saudara saudaranya. Bahkan ketika anggota keluarganya ada yang meninggal dunia, ia akan menangisinya, karena telah ditinggalkan oleh yang dicintainya dan dengan demikian, perhatian terhadap dirinya akan berkurang. Ia menangis bukan karena rasa cintanya kepada yang meninggal dunia, melainkan kepada dirinya yang tidak rela ditinggalkan. Ini merupakan pertanda bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki keegoan yang sangat tinggi.
 
2. Kehidupan manusia dalam komunitas sosial, Kehidupan masyarakat di mana pun adanya secara psikologis akan menjalani proses interaksi struktural, yakni sebagai interaksi yang dipaksa, dibimbing, didorong dan diyakinkan oleh sistem yang berlaku di lingkungan sosialnya yang merupakan lingkungan strukturalnya. Emile Durkheim menyatakan bahwa pola interaksi model ini merupakan karakteristik fakta sosial yang secara substansial memaksa individu untuk melepaskan diri dari kehendaknya, karsa dirinya, meleburkan diri secara adaptif dengan kehendak fakta sosial struktural yang ada secara eksternal di dalam dirinya. Jika proses sosialisasi fakta sosial struktural ini berhasil, individu menikmatinya sebagai kehendak sendiri.
 
3. Sifat sifat struktur sosial atau kelompok; orientasi motivasional dan orientasi nilai nilai yang menggerakkan manusia untuk berinteraksi dengan sesama manusia maupun dengan lingkungan sekitarnya melahirkan berbagai pola kebiasaan yang terstruktur maupun yang belum terstruktur. Pola ini semakin membesar sehingga pada puncaknya lahirlah sebuah kebudayaan. Oleh karena itu, unsur motivasi dan nilai merupakan stimulus manusia untuk berbuat dan merencanakan pola kehidupan sebagaimana yang diinginkannya. Hal ini akan tercipta dengan dukungan jalinan peranan terstruktur yang menjelaskan hak dan kewajiban, kekuasaan dan wewenang, ketika semua orang yang terlibat merasa sebagai bagian dan padanya, satu sama lain saling memperoleh pengakuan sehingga menimbulkan pemikiran bersama dan terjadilah satu kesatuan yang kompak dan terpadu (cohesive) sebagai kelompok sosial.
 
4. Peranan kelompok di dalam perkembangan individu; masyarakat bukan organisme yang dihasilkan oleh proses proses biologis, juga bukan mekanisme yang terdiri atas bagian bagian individual yang masing masing berdiri sendiri. Masyarakat adalah usaha manusia untuk mengadakan dan memelihara relasi timbal balik yang mantap dan kemauan manusia yang mendasari masyarakat, yaitu saat individu dengan segala sumber yang dimilikinya akan disalurkan pada lingkungan sekitar tempat ia berada, serta manusia memanfaatkan manusia lain untuk bersama-sama menciptakan kelompok yang bersifat langgeng, yang dinamakan dengan dua tipe karakter, yaitu gemeinschaft dan gesselschaft. Tipe gemeinschaft terdapat unsur wesenwillen yakni masyarakat yang berpola paguyuban, sifat dasarya kebersamaan dan kerja sama tidak diadakan untuk mencapai tujuan yang di luar, melainkan dihayati di dalam dirinya, orangnya merasa dekat satu sama lain dan memperoleh kepuasan karenanya. Adapun pada tipe gesselschaft terdapat unsur kurwillen, yaitu masyarakat pola patembayan atau berbentuk organisasi, dengan sifat sifat mendasarnya kebersamaan yang berbentuk lahiriah, seperti persetujuan, peraturan dan UU, serta segala sesuatu huhungan yang berdasarkan logika (cognitive). Perilaku sosial dapat dikatakan sebagai perilaku komunitas yang bersifat patembayan karena diorganisasikan oleh peraturan, keputusan dan sistem manajerial yang berlaku secara institusional. Akan tetapi, meskipun perilaku sosial normatif itu bersifat patembayan, apabila berkaitan dengan hal hal yang agamais, akan mengambil sedikitnya pola perilaku paguyuban. Hal ini karena ikatan emosional keberagamaan tidak hanya ditentukan oleh sistem sosial, tetapi bisa saja dibentuk oleh pola partisipatif dari dorongan ideologis agamaisnya.
 
5. Kepemimpinan; Secara historis, ada tiga konsep kepemimpinan yang sudah umum diuraikan di dalam kajian kepemimpinan. Ngalim Purwanto menjelaskan bahwa tiga konsep kepemimpinan tersebut adalah sebagai berikut :
  1. Kepemimpinan merupakan suatu kemampuan yang berupa sifat sifat yang dibawa sejak lahir yang ada pada diri seorang pemimpin. Menurut konsep ini, kepemimpinan diartikan sebagai traits within the individual leader. Seseorang dapat menjadi pemimpin karena memang dilahirkan sebagai pemimpin dan bukan karena dibuat atau dididik untuk itu (leaders were bomed and not made). Konsep ini merupakan konsep kepemimpinan yang paling tua dan paling lama dianut orang. Bahkan, di dalam kehidupan masyarakat kita hingga dewasa ini, konsep tersebut masih dapat dilihat dengan jelas. Masih banyak pandangan orang orang, terutama dalam masyarakat agraris feodal, yang beranggapan bahwa seseorang diangkat sebagai pemimpin semata-mata karena ia dianggap memiliki sifat sifat yang baik atau setidak-tidaknya memiliki potensi yang merupakan pembawaan atau bahkan keturunan, yang diharapkan dapat menjadi suri teladan bagi orang orang yang akan dipimpinnya. Sebagai contoh konkret dapat dilihat, misalnya pada cara pemilihan calon kepala desa di daerah daerah di negeri kita.
  2. Kepemimpinan sebagai fungsi kelompok (function of the group). Menurut konsep ini, sukses tidaknya suatu kepemimpinan tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan atau sifat sifat yang ada pada seseorang, tetapi justru yang lebih penting adalah dipengaruhi oleh sifat sifat dan ciri ciri kelompok yang dipimpinnya. Setiap kelompok memiliki sifat dan ciri yang berlainan sehingga memerlukan tipe atau gaya kepemimpinan yang berbeda-beda.
  3. Konsep ketiga merupakan konsep yang lebih maju lagi. Konsep ini tidak hanya didasari atas pandangan yang bersifat psikologis dan sosiologis, tetapi juga atas ekonomi dan politis. Menurut konsep ini, kepemimpinan dipandang sebagai suatu fungsi dari situasi (func­tion of the situation). Di samping sifat sifat individu pemimpin dan fungsi fungsi kelompok seperti pada konsep pertama dan kedua, kondisi dan situasi tempat kelompok itu berada mendapat penganalisisan juga di dalam masalah kepemimpinan. Konsep ini menunjukkan bahwa, betapa pun seorang pemimpin telah memiliki sifat sifat kepemimpinan yang baik dan dapat menjalankan fungsinya sebagai anggota kelompok, sukses tidaknya kepemimpinannya masih ditentukan juga oleh situasi yang selalu berubah yang memengaruhi perubahan dan perkembangan kehidupan kelompok yang dipimpinnya. Kita mengetahui bahwa adat-istiadat, kebudayaan, mobilitas dan struktur sosial, politik pemerintahan suatu masyarakat, selalu mengalami perkembangan ke arah kemajuan. Demikian juga halnya dengan organisasi organisasi dan lembaga lembaga di dalam masyarakat dan negara. Adanya perubahan dan perkembangan tersebut menuntut adanya perubahan dan perkembangan di dalam sifat sifat, kemampuan, dan gaya kepemimpinan yang diperlukan. Seorang gubernur yang pemah sukses dalam memimpin suatu daerah pada masa yang lalu, belum dapat dipastikan bahwa ia akan sukses juga jika ia diangkat lagi dalam jabatan yang sama pada waktu sekarang.
 
Tiga pandangan yang dikemukakan oleh Ngalim Purwanto di atas dapat dipahami bahwa lahirnya pemimpin ada dua kemungkinan, yaitu :
  1. Pemimpin yang hadir secara alami, yaitu manusia manusia yang sudah ditakdirkan Tuhan untuk menjadi pemimpin. Sebagaimana adanya pemimpin di dalam negara yang berbentuk kerajaan absolut, kepemimpinan tidak dibentuk dan direncanakan, tetapi didasarkan kepada keturunan;
  2. Kepemimpinan yang dibentuk oleh kelompok tertentu dan dibesarkan oleh situasi politik yang memberi peluang kesempatan untuk menjadi pemimpin. Seseorang diuji secara demokratis dalam pertarungan politik dan pelatihan panjang dalam karir politiknya, sehingga ia terpilih menjadi seorang pemimpin. Keberlakuan kepemimpinan model ini sangat kondisional dan situasional. Hal ini karena di dalam waktu yang sudah direncanakan, kariernya akan berakhir, seperti seorang Presiden yang kepemimpinannya diatur oleh UU 1945, bahwa ia hanya berhak menjadi Presiden untuk dua periode dan itu juga harus melalui pemilihan umum.
 
Dengan pandangan tersebut, secara psikologis, kepemimpinan adalah kepribadian (personality) seseorang yang mendatangkan keinginan pada sekelompok orang untuk mencontohnya atau mengikutinya, atau yang memancarkan pengaruh tertentu, kekuatan atau wibawa, yang membuat sekelompok orang bersedia melakukan apa yang dihendakinya.
 
Kepemimpinan dapat juga dipandang sebagai penyebab dari berbagai kegiatan, proses atau kesediaan untuk mengubah pandangan atau sikap (mental atau fisik) dari skelompok orang, baik di dalam hubungan organisasi formal maupun informal.
 
Kepemimpinan juga merupakan suatu seni, kesanggupan (ability) atau teknik untuk membuat sekelompok orang dalam organisasi formal atau para pengikut atau simpatisan di dalam organisasi informal bersedia mengikuti atau menaati segala apa yang dikehendakinya, membuat mereka begitu antusias atau bersemangat untuk mengikutinya atau bahkan mungkin berkorban untuknya.
 
Kepemimpinan dapat juga dipandang sebagai suatu bentuk persuasi suatu seni pembinaan sekelompok orang tertentu, biasanya melalui hubungan antara manusia (human relations) dan motivasi yang tepat. Tanpa adanya rasa takut, mereka bersedia bekerjasama dan membanting tulang untuk memahami dan mencapai tujuan organisasi.
 
Kepemimpinan dapat juga dipandang sebagai suatu sarana, instrumen atau alat untuk membuat sekelompok orang mau bekerjasama dan berdaya upaya menaati segala peraturan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dalam hal ini, kepemimpinan dipandang sebagai dinamika suatu organisasi yang membuat orang orang bergerak, bergiat, berdaya upaya secara “kesatuan organisasi” untuk mencapai tujuan organisasi.
 
Berdasarkan pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat kepribadian, termasuk di dalamnya kewibawaan, untuk dijadikan sebagai sarana di dalam rangka meyakinkan orang orang yang dipimpinnya agar mereka mau dan dapat melaksanakan tugas tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, penuh semangat dan kepuasan batin.
 
 
6. Dinamika kelompok, Interaksi sosial adalah dinamika kelompok sebagai wujud kolektivitas dari interaksi individual yang diwarnai oleh orientasi motivasional dan orientasi nilai dengan segala dimensinya. Aksi sosial adalah perilaku yang saling berinteraksi, sehingga interaksi menjadi sangat penting di dalam membentuk kebudayaan kolektif ? Apa tindakan yang diwujudkan individu ? Bagaimana berintegrasi dengan tindakan individu lain ? Mengapa dapat berinteraksi dan berinterelasi ? Apa hasil dari interaksi tersebut. Hasil dari interaksi dapat berbuah kebudayaan yang di dalamnya terdapat norma norma sosial yang baru. Di sisi lain, norma yang ada dapat membentuk perilaku sosial yang diakui dan diyakini sesuai dengan maksud dan tujuan yang hendak dicapai. Tujuan yang dimaksud adalah perpaduan antara orientasi motivasional dengan orientasi nilai.
 
7. Sikap kelompok; Kebutuhan individu terpuaskan oleh adanya interaksi timbal balik dan fungsional yang berlangsung lama. Interaksi yang berlangsung lama akan menguatkan pertahanan budaya kolektif masyarakat dan merupakan sikap kelompok atau kepribadian sosial, sehingga kemungkinan besar menjelma menjadi kultur, masyarakat, perilaku yang khas dan terinstitusikan jika perilaku tersebut telah mendarah daging (internalistik). Sistem sosial terbentuk dari individu individu yang di dalam interaksinya menjamin kebutuhan dasar yang seimbang. Setiap tindakan sosial adalah tindakan kumpulan individu yang disebut dengan tindakan kolektif. Suatu sikap kelompok juga merupakan sikap kolektivitas dan seperangkat posisi tertentu yang orang orang dengan posisinya masing masing saling berinteraksi menurut perannya masing masing. Sikap kelompok diyakini menjamin keutuhan keutuhan peran yang melembaga yang secara struktur amat penting di dalam melembagakan tindakan individu individu. Kompleksitas tindakan itu disislematisasikan oleh institusi bersangkutan melalui sikap sikap yang normatif dari suatu kelompok.
 
8. Perubahan sikap sosial; Setiap pribadi di dalam kehidupan sosialnya memiliki tipe peran dan pola pola normatif yang berhubungan dengan
fungsi fungsi tindakan. Peran dan tindakannya yang terkolektifkan dan saling terlibat dalam perannya masing masing, merupakan institusi atau merupakan pola pola yang melembaga dalam kelas kelas sosial. Oleh karena itu, perubahan sikap sosial tidak berdiri sendiri karena di luar konteks pribadi manusia yang hidup ditengah tengah kelompok masyarakat terdapat ikatan kuat yang melembaga dan normatif .
 
Sekian dari informasi ahli mengenai pengertian psikologi sosial, semoga tulisan informasi ahli mengenai pengertian psikologi sosial dapat bermanfaat.

Sumber : Tulisan Informasi Ahli :

– Mursidin, 2010. Psikologi Umum. Yang Menerbitka Pustaka Setia : Bandung.
Gambar Pengertian Psikologi Sosial

Gambar Pengertian Psikologi Sosial

 
Pengertian Psikologi Sosial | ali samiun |