Agen Poker

Definisi Akad, Syarat Akad, Macam Akad dan Berakhirnya Akad

loading...
Hai pembaca kali ini informasi ahli akan membahas mengenai definisi akad, syarat akad, macam akad dan berakhirnya akad dalam islam. definisi akad, dalam bahasa arab lafal akad berasal dari kata : ‘aqada- yaqudu- ‘aqadam, yang sinonimnya :
1. ja’ala ‘iqadatan, yang artinya : menjadikan ikatan
2. akkada, yang artinya : memperkuat
3. lazima, yang artinya : menetapkan.
 
 
Syarat-syarat akad, secara global syarat dilihat dari sumbernya terbagi kepada dua bagian :
1. syarat syar’i, yaitu suatu syarat yang ditetapkan oleh syara’, yang harus ada untuk bisa terwujudnya suatu akad.
2. syarat ja’li, syarat yang ditetapkan oleh orang yang berakad sesuai dengan kehendaknya, untuk mewujudkan suatu maksud tertentu dari suatu akad . syarat tersebut bisa berbarengan dengan akad, atau digantungkan(dikaitkan) dengan akad seperti mengaitkan kafalah dengan talak.
 
Berikut syarat-syarat dalam suatu akad :
1. Syarat In’iqad adalah sesuatu yang disyaratkan terwujudnya untuk menjadikan suatu kad dalam zatnya sah menurut syara’. apabila syarat tidak terwujud maka akad menjadi batal. syarat ini ada dua macam yaitu : (a) syarat umum, yaitu syarat yang harus dipenuhi dalam setiap akad, (b) syarat khusus, yaitu syarat yang dipenuhi dalam sebagian akad, bukan dalam akad lainnya. contohnya akad syarat saksi dalam akad nikah.
 
2. Syarat Sah, adalah syarat yang ditetapkan oleh syara’ untuk timbulnya akibat-akibat hukum dari suatu akad. apabila syarat tersebut tidak ada maka akadnya menjadi fasid, tetapi tetap sah dan eksis. contohnya seperti dalam jual beli disyaratkan oleh Hanafiah, terbebas dari salah satu ‘aib (cacat) yang enam, yaitu : (1) jahalah (ketidakjelasan), (2) ikrah (paksaan), (3) tauqid (pembatasan waktu), (4) gharar (tipuan/ketidakpastian), (5) dharar, (6) syarat yang fasid.
 
3. Syarat Nafadz (kelangsungan akad), untuk kelangsungan akad diperlukan dua syarat :
a. adanya kepemilikan atau kekuasaan. artinya orang yang melakukan akad harus pemilik barang yang menjadi objek akad, atau mempunyai kekuasaan (perwakilan). apabila tidak ada kepemilikan dan tidak ada kekuasaan (perwakilan), maka akad tidak bisa dilangsungkan, melainkan mauquf (ditangguhkan), bahkan menurut Asy-syafi’i dan ahmad akad yang sedang dilangsungkan batal.
b. di dalan objek akad tidak ada hak orang lain. apabila di dalam barang  yang menjadi objek akad terdapat hak orang lain, maka akadnya mauquf tidak nahfidz. hak orang lain tersebut ada tiga macam yaitu : (1) hak orang lain tersebut berkaitan dengan jenis barang yang menjadi objek akad, seperti menjual barang milik orang lain, (2) hak tersebut berkaitan dengan nilai harta yang menjadi objek akad, seperti tasarruf orang yang pailit yang belum dinyatakan mahjur ‘alaih  terhadap hartanya yang mengakibatkan kerugian para kreditor, dan (3) hal tersebut berkaitan dengan kemaslahatan si aqid, bukan dengan barang yang menjadi objek akad. seperti tasarruf orang yang memiliki ahliyatul ada yang tidak sempurna yang tidak dinyatakan mahjur ‘alaih.
 
4. Syarat Luzum, pada dasarnya setiap akad itu sifatnya mengikat (lazim). untuk mengiktnya suatu akad seperti jual beli dan ijarah disyaratkan tidak adanya kesempatan khiyar yang memungkinkan di fasakh-nya akad oleh salah satu pihak. apabila di dalan akad tersebut terdapat khiyar, seperti khiyar syarat, khiyar aib, atau khiyar ru’yat maka akad tersebut tidak mengikat bagi orang yang memiliki hak khiyar tersebut. dalam kondisi seperti itu ia boleh membatalkan akad ataupun menerimanya.
 
 
Macam-macam akad, akad dapat dibagi kepada berharap bagian dengan menjauhnya dari beberapa segi. peninjauan tersebut antar lain :
1. Segi hukum dan sifatnya, menurut jumhur ulama terbagi kepada dua bagian
a. akad shahih, timbulnya akibat hukum secara spontan antar kedua belah pihak yang melakukan akad, yakni hak dan kewajiban sebagai contoh, jual beli yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki ahliyatul ada yang sempurna, dengan objek mal mutaqawwin untuk tujuan yang dibenarkan oleh syara’, menimbulkan akibat hukum berupa tetapnya hak milik atas barang yang dijual bagi pembeli dan uang harga barang bagi penjual.
 
b. akad ghair shahih, suatu akad rukun dan syaratnya tidak terpenuhi. misalnya jual beli yang dilakukan oleh anak di bawah umur, atau jual beli babi, dan minuman keras. dilihat dari aspek hukumnya akad ghair shahih ini tidak menimbulkan akibat hukum, yakni tidak ada hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh para pihak, sebagai akibat dari akad tersebut.
 
 
2. Segi maksud dan tujuannya,  akad dibagi pada tujuh tujuan yaitu :
a. akad At-tamlikat, yaitu suatu akad yang dimaksudkan untuk memiliki suatu benda baik jenis nya maupun manfaatnya. apabila pemilikan tersebut dengan imbalan maka akadnya disebut akad mu’awadhah, seperti jual beli, ijarah, shulh (perdamaian), istisnha, dan lain-lainnya, yang didalamnya terdapat mu’awadhah antara dua pihak. apabila pemilikan terjadi  tanpa imbalan (i’wadh) maka akadnya disebut akad tabarru’, seperti hibah, shadaqah, wakaf, i’arah dan hiwalah.
 
b. akad isqathat, yang dimaksudkan untuk menggugurkan suatu hak, baik dengan pengganti maupun tanpa pengganti. apabila isqath (pengguguran) dilakukan tanpa penggantian dari pihak lain, maka akadnya disebut “al-isqath al mahdh” atau pengguguran murni, seperti talak tanpa imbalan mal.
 
c. akad ithlaqat, yaitu dilepaskan oleh seseorang kepada tangan  dalam mengerjakan suatu pekerjaan.
 
d. At-taqyidat, yaitu akad yang membatasi atau mencegah seseorang untuk melakukan tasarruf, seperti pemberhentian sebagai hakim atau pejabat.
 
e. at-tautsiqat atau at-ta’minat atau ‘uqud adh-dhaman, yaitu suatu akad yang dimaksudkan untuk menanggung utang bagi pemiliknya, dan mengamankan orang yang memiliki piutang atas utangnya, yaitu akad kafalah, hiwalah, dan rahm (gadai).
 
f. Al-isytirak, suatu akad yang dimaksudkan untuk bekerja sama dalam pekerjaan dan keuntungan, seperti akad syirkah dengan berbagai jenisnya, akad mudharabah, muzara’ah dan musaqah.
 
g. Al-hifzhu, suatu akad yang dimaksudkan untuk menjaga dan memelihara harta bagi pemiliknya, seperti akad wadi’ah (penitipan).
 
 
Berakhirnya Akad dalam Islam
1. Berakhirnya akad karena fasakh (pembatalan), pembatalan akad kadang terjadi secara total, dalam arti mengabaikan apa yang sudah disepakati, seperti dalam khiyar, dan kadang-kadang dengan menetapkan batas waktu ke depan, seperti dalam ijarah (sewa-menyewa) dan ‘iarah (pinjaman) dan inilah arti fasakh  dalam pengertian yang umum. pembatalan dalam akad ghair lazimah terjadi karena watak akadnya itu sendiri, baik akadnya dilakukan oleh dua pihak, maupun satu pihak. adapun pembatalan (fasakh) dalam akad-akad lazimah terdapat beberapa bentuk :
a. Fasakh karena akadnya rusak
b. Fasakh (batal) karena khiyar
c. Fasakh (batal) karena iqalah
d. Fasakh (batal) karena tidak bisa dilaksanakan
e. Fasakh (batal) karena habisnya masa yang disebutkan dalam akad atau karena tujuan akad telah terwujud.
 
 
2. Berakhirnya akad karena kematian, akad bisa fasakh (batal) karena meninggalnya salah satu pihak yang melakukan akad. diantara akad yang berakhir karena meninggalnya salah satu dari dua pihak adalah sebagai berikut :
 
a. Ijarah (sewa-menyewa), berakhir karena meninggalnya salah satu pihak yang melakukan akad, meskipun akad ini termasuk akad yang lazim (mengikat) yang dilakukan oleh dua pihak. alasan mereka adalah bahwa orang yang menyewa memiliki manfaat sejat terjadinya akad dengan sedikit demi sedikit. maka manfaat yang tersisa setelah meninggalnya salah satu pihak bukan miliknya lagi, sehingga dengan demikian akad sudah berakhir dan tidak boleh dilanjutkan lagi.
b. Kafalah (jaminan), kafalah ada dua macam, yaitu kafalah (jaminan) terhadap harta dan kafalah (jaminan) terhadap jiwa. dari kedua jenis kifalah tersebut, kafalah bin nafs dapat batal karena mninggalnya ashil atau meninggalnya penjamin (kafil).
c. syirkah dan wakalah termasuk akad ghair lazim yang dilakukan oleh dua pihak. kedua akad tersebut berakhir dengan meninggalnya salah satu pihak yang melakukan akad.
d. Muzara’ah dan musaqah, apabila pemilik lahan meninggal sebelum tanaman matang untuk di panen maka tanaman tetap pada penggarapnya sampai setelah dipanen.
 
3. Berakhirnya Akad karena tidak ada izin dalam akad mauquf, akad yang mauquf (ditangguhkan) dapat berakhir apabila orang yang berhak tidak memberikan persetujuannya.
 
Demikianlah pembahasan dari informasi ahli mengenai definisi akad, syarat akad, macam-macam, akad dan berakhirnya akad, semoga tulisan informasi ahli mengenai definisi akad, syarat akad, macam-macam, akad dan berakhirnya akad dapat bermanfaat.
 
Sumber Tulisan : Fiqih Muamalat
  • Muslich Wardi Ahmad, 2015. Fiqih Muamalah. yang menerbitkan Amzah : Jakarta

gambar definisi akad, syarat akad, jenis akad, dan berakhirnya akad

Gambar Definisi akad, Syarat akad, Macam akad, dan Berakhirnya akad

togel online
Definisi Akad, Syarat Akad, Macam Akad dan Berakhirnya Akad | ali samiun | 4.5