Agen Poker

Pengertian Akad Jual Beli, Rukun, Syarat dan Macam-macam Jual Beli

loading...
Hai pembaca, kali ini informasi ahli akan membahas mengenai Pengertian jual beli, rukun, syarat dan macam-macam jual beli.
 
 
Pengertian Jual beli, dalam bahasa arab al-bai’ menurut etimologi adalah ‘tukar-menukar dengan sesuatu yang lain’ sayid sabil mengartikan jual beli (al-bai’) menurut bahasa sebagai berikut yaitu tukar-menukar secara mutlak. dalam pengerttian tersebut bahwa jual beli menurut bahasa adalah tukar-menukar apa saja, baik antara barang dengan barang, barang dengan uang, atau uang dengan uang. Beberapa definisi yang dikemukakan oleh ulama mazhab dapat diambil intisari bahwa :
1. Jual beli adalah akad mu’awadhah, yakni akad yang dilakukan oleh dua pihak pertama menyerahkan barang dan pihak kedua menyerahkan imbalan, baik berupa uang maupun barang.
 
2. syafi’iyah dan hanabilah mengemukakan bahwa objek jual beli bukan hanya barang (benda), tetapi juga manfaat, dengan syarat tukar-menukar berlaku selamanya, bukan untuk semnetara. dengan demikian ijarah (sewa-menyewa) tidak termasuk jual beli karena manfaat digunakan untuk sementara, yaitu selama waktu yang ditetapkan dalam perjanjian. demikian pula i’arah yang dilakukan timbah-balik (saling pinjam) tidak termasuk jual beli, karena pemanfaatannya hanya berlaku sementara waktu.
 
 
Rukun Jual Beli, menurut hanafiah adalah ijab dan qabul yang menunjukkan sikap saling tukar-menukar, atau saling memberi atau dengan reaksi yang lain, ijab qabul adalah perbuatan yang menunjukkan kesediaan dua pihak untuk menyerahkan milim masing-masing kepada pihak lain, dengan menggunakan perkataan atau perbuatan. Menurut jumhur ulama rukun jual beli itu ada empat, yaitu :
– penjual,
– pembeli,
– shigat,
– ma’qut ‘alaih (objek akad).
 
 
a. Ijab dan qabul
Ijab adalah pernyataan yang disampaikan pertama oleh satu pihak yang menunjukkan kerelaan, baik dinyatakan oleh si penjual maupun si pembeli. jumhur ulama mengatakan bahwa penentuan ijab dan qabul bukan dilihat dari siapa yang lebih dahulu menyatakan, melainkan dari siapa yang memiliki dan siapa yang akan memiliki. Dalam konteks jual beli, yang memiliki barang adalah penjual, sedangkan yang akan memilikinya adalah pembeli. Dengan demikian, pernyataan yang dikeluarkan oleh pembeli adalah qabul meskipun dinyatakan pertama kali.
 
b. Aqid (penjual dan pembeli), rukun jual beli yang kedua adalah ‘aqid atau orang yang melakukan akad, yaitu penjual dan pembeli. secara umum, penjual dan pembeli harus orang yang memiliki ahliyah (kecakapan) dan wilayah (kekuasaan).
 
c. Ma’qud ‘Alaih (objek akad jual beli), Ma’qud ‘alaih atau objek akad jual beli adalah barang yang dijual dan harga/uang.
 
 
Syarat-syarat jual beli, ada empat syarat yang harus dipenuhi dalam akad jual beli, yaitu :
– syarat in’iqad (terjadinya akad)
– syarat sahnya akad jual beli
– syarat kelangsungan jual beli (syarat nafadz)
– syarat mengikat (syarat luzum)
 
 
Maksud diadakannya syarat-syarat ini adalah untuk mencegah terjadinya perselisihan di antar manusia, menjaga kemaslahatan pihak-pihak yang melakukan akad, dan menghilangkan sifat gharar (penipuan). apabila syarat in’iqad (terjadinya akad) rusak (tidak terpenuhi), maka menurut hanafiah akad menjadi fasid. apabila syarat nafadz (kelangsungan akad) tidak terpenuhi maka akad menjadi mauquf (ditangguhkan), dan apabila syarat luzum (mengikat) yang tidak terpenuhi, maka akad menjadi mukhayyar (diberi kesempatan memilih) antara diteruskan atau dibatalkan.
 
a. syarat terjadinya akad in’iqad yaitu orang yang melakukan akad, berkaitan dengan akad itu sendiri, berkaitan dengan tempat akad, berkaitan dengan objek akad.
– syarat aqid, aqid harus berakal mumayyis, orang yang berakad harus berbilang (tidak sendirian)
– syarat akad (ijab dan qabul), syarat akat yang sangat penting adalah bahwa qabul harus sesuia dengan ijab, dalam arti pembeli menerima apa yang di ijab kan (dinyatakan) oleh penjual. apabila terdapat perbedaan antara qabul dan ijab, misalnya pembeli menerima barang yang tidak sesuai dengan yang dinyatakan oleh penjual, maka akad jual beli tidak sah.
– syarat ma’qud ‘alaih (objek akad), syarat yang harus dipenuhi oleh objek akad (ma’qud ‘alaih) yaitu : barang yang dijual harus maujud (ada), barang yang dijual harus mal mutaqawwin, barang yang dijual harus barang yang sudah dimiliki, barang yang dijual harus bisa diserahkan pada saat dilakukannya akad jual beli.
 
 
b. Syarat sah jual beli, syarat sah ini terbagi kepada dua bagian, yaitu syarat umum dan syarat khusus. syarat umum adalah syarat yang harus ada pada setiap jenis jual beli agar jual beli tersebut dianggap sah menurut syara’. secara global akad jual beli harus terhindar dari enam macam yaitu :
– ketidakjelasan
-pemaksaan
-pembatasan dengan waktu
– penipuan
-kemudaratan
– syarat-syarat yang merusak.
 
 
c. syarat kelangsungan jual beli, untuk kelangsungan jual beli diperlukan dua syarat sebagai berikut :
– kepemilikan atau kekuasaan
– pada benda yang dijual tidak terdapat hak orang lain
 
 
d. syarat mengikatnya jual beli, untuk mengikatnya jual beli, disyaratkan akad jual beli terbebas dari salah satu pihak untuk membatalkan akad jual beli, seperti khiyar syarat, khiyar ru’yat, dan khiyar ‘aib. Apabila di dalam akad jual beli terdapat salah satu dari jenis khiyar ini maka akad tersebut tidak mengikat kepada orang yang yang memiliki hak khiyar, sehingga ia berhak membatalkan jual beli atau meneruskan atau menerimanya.
 
 
4. Macam-macam Jual Beli
– Menurut Hanafiah
 
a. dilihat dari segi sifatnya
– jual beli shahih, apabila objeknya tidak ada hubungannya dengan hak orang lain selain aqid maka hukumnya nafidz artinya bisa dilangsungkan dengan melaksanakan hak dan kewajiban masing-masing pihak, yaitu penjual dan pembeli. apabila objek jual belinya ada kaitan dengan hak orang lain maka hukumnya mauquf, yakni ditangguhkan menunggu persetujuan pihak terkait.
– jual beli ghair shahih, adalah jual beli yang syarat dan rukunnya tidak terpenuhi sama sekali, atau rukunnya terpenuhi tetapi sifat atau syaratnya tidak terpenuhi. seperti jual beli yang dilakukan oleh orang yang memiliki ahliyatul ada kamilah (sempurnah) tetapi barang yang dijual masih belum jelas (majhul). apabila rukun dan syaratnya tidak terpenuhi maka jual beli tersebut disebut jual beli yang batil. akan tetapi, apabila rukunnya terpenuhi, tetapi ada sifat yang dilarang maka jual belinya disebut jual beli fasid. Disamping itu, terdapat jual beli yang digolongkan kepada ghair shahih, yaitu jual beli yang rukun dan syaratnya terpenuhi, tetapi jual belinya dilarang karena ada sebab di luar akad. Jual beli semacam ini disebut jual beli makruh. contohnya :
– jual beli ketika adzan awal shalat jum’at.
– jual beli najys (ba’i an-najys).
– jual beli barang yang sedang ditawar oleh orang lain.
– mencegat para pedagang sebelum sampai ke pasar.
– menjual barang ke daerah lain, apabila di daerah itu sedang musim paceklik.
 
 
b. di lihat dari segi shigat-nya
di atas telah dikemukakan bahwa dilihat dari shigatnya jual beli terbagi kepada dua bagian, yaitu jual beli mutlaq dan ghair mutlaq. jual beli mutlaq adalah jual beli yang dinyatakan dengan shigat (redaksi) yang bebas dari kaitannya dengan syarat dan sandaran kepada masa yang akan datang.
 
 
c. di lihat dari segi hubungannya dengan objek jual beli
di atas telah dikemukakan bahwa dilihat dari hubungannya dengan objek jual beli, jual beli dibagi kepada empat bagian, yaitu jual beli muqayadhah, jual beli sharf, jual beli salam, dan jual beli mutlak. pengertian jual beli muqayyadhah adalah jual beli barang dengan barang, seperti jual beli binatang dengan binatang, beras dengan gula, atau mobil dengan mobil.
 
 
d. di lihat dari segi harga atau ukurannya
sebagaimana telah dikemukakan di awal pembahasan ini, di lihat daris segi harga atau kadarnya, jual beli terbagi kepada empat bagian yaitu jual beli murabahah, jual beli tauliyah, jual beli wadiah, dan jual beli musawamah. 
 
 
– Menurut malikiyah, secara garis besar kepada dua bagian, yaitu :
a. jual beli manfaat
b. jual beli benda
 
 
– Menurut syafi’iyah, membagi akad jual beli kepada dua bagian yaitu :
a. jual beli yang shahih, yaitu jual beli yang terpenuhi syarat dan rukunnya
b. jual beli yang fasid, yaitu jual beli yang sebagian rukun dan syaratnya tidak terpenuhi.
 
 
– Menurut Hanabilah, membagi jual beli kepada dua bagian yaitu :
a. shahih lazim, dan
b. fasid membatalkan jual beli.
 
jual beli yang shahih ada tiga macam :
a. jual beli dengan syarat yang dikehendaki oleh akad, seperti syarat saling menerima (taqabuth), pembayaran (harga) tunai.
b. jual beli dengan syarat ditangguhkannya semua harga, atau sebagiannya untuk waktu tertentu, dengan syarat gadai, termasuk dalam kelompok ini apabila seseorang mensyaratkan untuk menggadaikan barang yang dijual (objek jual beli) atas harganya. atau pesyaratan yang dibuat oleh pembeli untuk dipenuhi oleh penjual berupa sifat dalam barang yang dijual . misalnya hamba sahaya yang dijual itu seorang penulis atau tukang dan lain-lain.
c. jual beli dengan syarat yang dikemukakan oleh penjual kepada bahwa ia akan memanfaatkan barang yang dijual untuk waktu tertentu dan jenins manfaat tertentu.
 
Sekian pembahasan mengenai Pengertian Akad Jual Beli, Rukun, Syarat dan Macam-macam Jual Beli, semoga tulisan saya mengenai Pengertian Akad Jual Beli, Rukun, Syarat dan Macam-macam Jual Beli dapat bermanfaat.

Sumber : Buku dalam penulisan Fiqih muamalat

– Muslich Wardi Ahmad, 2015. Fiqh Muamalat. Penerbit Amzah : Jakarta

Pengertian Akad Jual Beli, Rukun, Syarat dan Macam-macam Jual Beli

 

togel online
Pengertian Akad Jual Beli, Rukun, Syarat dan Macam-macam Jual Beli | ali samiun | 4.5