Agen Poker

Hubungan Hukum Islam dengan Hukum Romawi

loading...
Hai pembaca, kali ini Informasi Ahli akan membahas mengenai Hubungan Hukum Islam dengan Hukum Romawi.
 
 

Para sarjana berbeda pendapat tentang adanya hubungan Hukum Islam dengan Hukum Romawi, pendapat para sarjana tersebut pada intinya terbagi menjadi tiga bagian :

Pendapat Pertama dikemukakan oleh segolongan orientalis, yaitu Ignaz Golziher dalam bukunya yang berjudul Le Dogma et la loi de’ Islam, Von Kremer dalam bukunya Culture Geshicte des Orientalist Unter den Chalifen, dan Amon dalam bukunya yang berjudul Roman Civil Law, yang berpendapat bahwa hukum Islam benar-benar dipengaruhi oleh hukum romawi. Lebih jelas lagi Amon menyatakan bahwa syariat Islam adalah Hukum Romawi Timur yang sudah mengalami perubahan-perubahan dalam penyesuainnya dengan masalah-masalah politik negara-negara Arab yang menjadi jajahannya.

 
Pendapat Kedua dikemukakan oleh para sarjana Muslim, yaitu Fais Al-Kuhri dalam bukunya, Al huquq al-Rumaniyah, Arif Al-naqdi dalam bukunya al-qadla fi al-islam dan Syaikh Muhammad Sulaiman dalam bukunya Ayu Syai’in Nahkum yang berpendapat bahwa hukum Islam sama sekali tidak dipengaruhi oleh hukum romawi, sebab hukum Islam dipraktikkan atau diundangkan lebih dahulu daripada hukum Romawi, yakni hukum Romawi timbul setelah para sarjana Barat memperlajari Hukum Islam.
 
Pendapat Ketiga dikemukakan oleh Sayyid Muhammad Hafidz Shabri dalam bukunya al Muqaranat wa al-Muqabilat, Ahmad Amin dalam bukunya fajr al Islam, Syafiq Syahanah dalam bukunya, al Nadzhariyat li Iltizam fi al Syar’i al Islam, mereka berpendapat bahwa kedua pendapat tersebut memiliki nilai kebenaran dan juga memiliki nilai kesalahan, karena itu golongan ketiga berpendirian lebih moderat.
 
 
Adapun faktor-faktor yang dijadikan alasan oleh Golziher, Von Kremer, maupun Amon adalah sebagai berikut :
a. adanya kesamaan antara hukum Islam dengan hukum Romawi dalam beberapa peraturan atau ketentuan hukum, seperti pembuktian atas penggugat, batas umur dewasa dan beberapa masalah muamalah seperti jual beli dan ijarah. Hukum Islam dan Hukum Romawi keduanya menerima campuran atau masukan dengan hukum ibrani.
b. adanya pengaruh adat kebiasaan di negara-negara yang dikuasai. Sebetulnya, antara hukum Islam dengan negara hukum Romawi terdapat perbedaan-perbedaan yang jauh sehingga dijelaskan oleh Abdul Madjid sebagai berikut :
 
(1) Kedudukan wanita Romawi di bawah perintah atau kekuasaan (interlaerpetus mulierum) kaum laki-laki selama hidupnya, wanita sama sekali tidak mempunyai hak untuk melakukan transaksi-transaksi harta kekayaan tanpa izin suami, sedangkan dalam hukum Islam tidak seketat itu walaupun harus diakui ada batas-batasannya.
(2) Mahar atau mas kawin dalam hukum Romawi adalah pemberian Istri kepada suaminya dan menjadi hak laki-laki atau suami, sedangkan dalam hukum Islam sebaliknya, yakni mahar itu pemberian dari suami kepada istri dan menjadi hak istri.
(3) Dalam hukum Islam tidak diakui masalah adopsi (pengangkatan anak), dalam hukum Romawi adopsi adalah perkara yang biasa dilakukan dan dibolehkan. Pemindahan hutang (hiwalah) dalam hukum Romawi dilarang, sedangkan dalam hukum Islam dibolehkan menurut semua mazhab. Syuf’ah dan wakaf yang dikenal dalam hukum Islam tidak terdapat dalam hukum Romawi.
 
 
Sekian dari informasi ahli mengenai Hubungan Hukum Islam dengan Hukum Romawi, semoga tulisan informasi ahli Hubungan Hukum Islam dengan Hukum Romawi dapat bermanfaat.

Sumber Buku : dalam penulisan Fiqh Muamalah

– Suhendi Hendi, 2014. Fiqh Muamalah. Penerbit Rajawali Pers : Jakarta.
 
Gambar Hubungan Hukum Islam dengan Hukum Romawi

Gambar Hubungan Hukum Islam dengan Hukum Romawi

togel online
Hubungan Hukum Islam dengan Hukum Romawi | ali samiun | 4.5