Agen Poker

Pengertian Bank Islam, Ciri-ciri Dan Produk-produk Bank Islam

loading...
Hai pembaca, kali ini Informasi Ahli akan membahas Pengertian Bank Islam, Ciri-ciri Dan Produk-produk Bank Islam.
 
A. Pengertian Bank Islam
 
Pengertian Bank Islam, Bank Islam sebagaimana dikemukakan Karnaen Perwataatmaja dengan Muhammad Syafi’i Antonia adalah Bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariat Islam. Dalam redaksi lain, Bank Islam yaitu bank yang merupakan tata cara beroperasinya mengacu pada ketentuan-ketentuan Al-qur’an dan Hadis.
 
Menurut M. Amin Azis, Pengertian Bank Islam adalah lembaga perbankan yang menggunakan sistem dan operasinya berdasarkan syariat Islam. Dalam hal ini berarti operasi perbankan syariah mengikuti tata cara berusaha dan perjanjian berusaha berdasarkan Alqur’an dan sunnah Rasulullah Saw.
 
Dari definisi tersebut dapat dipahami bahwa Bank Islam adalah lembaga perbankan sebagaimana diatur dalam perundang-undangan, tetapi dalam kegiatan operasinya disesuaikan dengan prinsip-prinsip syariat Islam adapun prinsip tersebut yang paling mendasar antara lain dengan cara bermuamalah dijauhi praktik-praktik yang dikhawatirkan mengandung unsur-unsur riba dan diganti dengan kegiatan investasi atas dasar bagi hasil dan pembiayaan perdagangan. Prinsip-prinsip yang dianut bank islam adalah sebagai berikut :
a. Larangan riba, riba dengan bentuk dan macamnya jelas dilarang oleh Islam.
b. Mengutamakan dan mempromosikan perdagangan dan jual beli.
c. Keadilan.
d. Kebersamaan dan tolong menolong.
e. Saling mendorong untuk meningkatkan prestasi.

 
 
B. Ciri-ciri Bank Islam
 
Bank Islam memiliki ciri-ciri khusus yang berbeda dengan Bank Konvensional. ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut :
a. Keuntungan (misalnya pada kredit murabahah dan bai’ bitsamanin ajil) dan beban biaya (misalnya pada pinjaman al-qardh al hasan) yang disepakati tidak kaku dan ditentukan kelayakan tanggungan risiko dan pengorbanan masing-masing.
b. Beban biaya tersebut hanya dikenakan sampai batas waktu kontrak. Sisa utang selepas kontrak dilakukan dengan membuat kontrak batu.
c. Penggunaan persentase untuk perhitungan keuntungan dan biaya administrasi selalu dihindari, karena persentase mengandung potensi melipatgandakan.
d. Pada Bank Islam tidak dikenal keuntungan pasti (fixed return). Kepastian keuntungan ditentukan setelah keuntungan tersebut diperoleh, bukan sebelumnya.
e. Uang dari jenis yang sama tidak bisa diperjualbelikan/disewakan atau dianggap barang dagangan. oleh karena itu, pada dasarnya Bank Islam tidak memberikan pinjaman berupa uang tunai tetapi berupa pembiayaan atau talangan dana untuk perdagangan barang dan jasa.

 
 
C. Produk-Produk Bank Islam
 
Pengertian Produk bank islam adalah gabungan antara produk perbankan dan landasan syariah. Sebagai lembaga perbankan, produk bank Islam mengacu kepada perundang-undangan yang berlaku. Di Indonesia, undang-undang yang mengatur tentang perbankan No.7 Tahun 1992 yang diubah dengan undang-undang Nomor 10 tahun 1998 dan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Sebagai Bank yang beralndaskan syariah, bank Islam dalam menetapkan produknya selalu berpedoman kepada ketentuan-ketentuan hukum syariah yang bersumber dari alqur’an dan Hadis. Dilihat dari segi fungsinya, yaitu menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kepada masyarakat yang membutuhkannya, produk bank Islam dapat dibagi kepada dua bagian :
a. Produk berkaitan dengan simpanan :
1) tabungan mudharabah, dan
2) deposito mudharabah.

b. Produk berkaitan dengan penyaluran :
1) Pembiayaan untuk inviestasi atas dasar bagi hasil
– pembiayaan mudharabah
– pembiayaan musyarakah
2) Pembiayaan untuk kegiatan perdagangan
– pembiayaan al-murabahah.
– pembiayaan al bai’ bitsaman ajil.
3) Pembiayaan pengadaan barang untuk disewakan atau disewabelikan :
– sewa guna usaha disebut al-ijarah, dan
– sewa beli atau al-bai at-takjiri.
4) Pemberian pinjaman tunai kebajikan (al-qardh al-hasan)
5) Fasilitas-fasilitas perbankan umumnya yang tidak bertentangan dengan syariah seperti :
– penitipan dana dalam rekening lancar dalam bentuk giro wadiah yang diberi bonus.
– jasa lainnya untuk memperoleh balas jasa (fee), seperti :
a) pemberian jaminan.
b) pengalihan tagihan.
c) pelayanan khusus.
d) pembukaan L/C.
e) gadai.

Di bawah ini akan dijelaskan sebagian produk-produk tersebut secara ringkas :
a. Tabungan Mudharabah, mudharabah sebagaimana telah dikemukakan adalah suatu akad atau perjanjian antara dua orang dimana pihak pertama menyerahkan modal untuk diperdagangkan, sedangkan pihak kedua menyediakan tenaga ataupun keahlian, dan keuntungan dibagi diantara mereka sesuai dengan kesepakatan bersama. Akad mudharabah bisa dilakukan oleh pihak-pihak yang bersifat perorangan, dan bisa oleh perorangan dan bank Islam. Tabungan mudharabah adalah simpanan pihak ketiga di bank Islam yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat atau beberapa kali sesuai dengan perjanjian, dalam hal ini bank Islam bertindak sebagai mudharib dan deposan (penabung) sebagai shahibul mal.

b. Deposito mudharabah, deposito mudharabah atau deposito investasi mudharabah adalah investasi melalui simpanan pihak ketiga yang penarikannya hanya dapat dilakuakn dalam jangka waktu tertentu pada saat jatuh tempo, dengan mendapatkan imbalan bagi hasil.

c. Pembiayaan mudharabah, adalah suatu perjanjian usaha antara pemilik modal (bank Islam mewakili nasabah deposan atau penabung) dengan pengusaha, dimana pihak pemilik modal menyediakan seluruh dana yang dibutuhkan dan pihak pengusaha melakukan pengelolaan atas usaha tersebut. Hasil usaha ini dibagi di antara mereka sesuai dengan kesepakatan dalam perjanjian, dalam bentuk misalnya 65% : 35%. apabila terjadi kerugian sebagai konsukuensi bisnis, bukan karena penyelewengan maka pihak penyedia dana (bank Islam) akan menanggung kerugian tersebut, sedangkan pengusaha akan menanggung kerugian managerial skill dan waktu serta kehilangan nisbah yang akan diperolehnya. Dalam melaksanakan kegiatan usahanya, pihak pengusaha diberi kebebasan mengelola usahanya tanpa campur tangan pihak bank Islam. Meskipun demikian, pihak bank Islam mempunyai hak untuk pengawasan dan tidak lanjut dari usaha tersebut.

d. Pembiayaan Musyarakah, adalah suatu perjanjian usaha antara dua orang pemilik modal atau lebih untuk menyertakan modalnya pada suatu proyek, dan keuntungan yang diperoleh dapat dibagi, baik menurut proporsi penyertaan modal masing-masing, maupun sesuai dengan kesepakatan bersama. Transaksi musyarakah dilandasi oleh adanya keinginan para pihak yang bekerja sama untuk meningkatkan nilai aset yang mereka miliki secara bersama-sama.

e. Pembiayaan Murabahah, Murabahah berasal dari kata ribhun yang artinya keuntungan . Dalam arti istilah, murabahah dalah transaksi jual beli dimana bank Islam menyebut jumlah keuntungannya, dalam hal ini bank bertindak sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli. Harga jual adalah harga beli bank dari pemasok ditambah dengan keuntungan, harga tersebut harus dicantumkan dalam akad jual beli. Kedua belah pihak, harus menyepakati harga jual dan jangka waktu pembayaran. Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa murabahah adalah pembelian barang dengan pembayaran ditangguhkan (1 bulan, 3 bulan, 1 tahun dan seterusnya). Pembiayaan murabahah adalah pembiayaan yang diberikan kepada nasabah dalam rangka pemenuhan kebutuhan produksi. Pembiayaan murabahah mirip dengan Kredit Modal Kerja yang biasa diberikan oleh bank-bank konvensional, dan oleh karenanya pembiayaan murabahah berjangka waktu dibawah 1 tahun.

f. Pembiayaan al-bai’u bitsaman ajil, artinya pembelian barang dengan pembiayaan cicilan. Pembiayaan al-bai’u bitsaman ajil adalah pembiayaan yang diberikan oleh bank Islam kepada nasabah dalam rangka pemenuhan kebutuhan barang modal (investasi). Pembiayaan al-bai’u bitsaman ajil mirip dengan kredit investasi yang diberikan oleh bank-bank konvensional dan oleh karenanya pembiayaan ini berjangka waktu di atas satu tahun.

g. Pembiayaan Ijarah, ijarah atau pure leasing adalah pemberian kesepakatan kepada penyewa untuk mengambil kemanfaatan dari barang sewaan untuk jangka waktu tertentu dengan imbalan yang besarnya telah disepakati bersama. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa transaksi ijarah dilandasi oleh adanya perpindahan manfaat. Jadi pada dasarnya prinsip ijarah ini hampir sama dengan prinsip jual beli. Perbedaanya adalah barang, sedangkan pada ijarah objek transaksinya adalah jasa atau manfaat.

h. Pembiayaan Bai Takjiri, atau yang biasa disebut dengan sewa beli adalah suatu bentuk sewa yang diakhiri dengan penjualan. Pada hakikatnya bai takjiri sama dengan ijarah, baik dalam landasan hukumnya, tata caranya maupun prosesnya, Hanya saja perbedaanya dalam pembayaran sewa. Pada bai’ takjiri pembayaran sewa telah diperhitungkan sedemikian rupa sehingga sebagian daripadanya merupakan pembelian terhadap barang secara berangsur, dan pada akhir masa kontrak kepemilikan barang beralih kepada nasabah. Perbedaan antara pembiayaan perdagangan atau pembiayaan pengadaan barang yang dilakukan oleh bank konvensional dan bank Islam terletak pada konsep apa yang menjadi pinjaman atau barang yang dilakukan oleh bank konvensional, yang menjadi pinjaman atau utang terdiri dari utang pokok yaitu harga dari barang dan utang bunga yaitu biaya (dalam bentuk persentase pertahun), yang dikenakan kepada nasabah secara tetap selama utang pokok belum lunas. Sedangkan pada pembiayaan perdagangan atau pembiayaan pengadaan barang yang dilakukan oleh bank Islam, yang menjadi pinjaman atau utang adalah harga baru yang telah disepakati bersama antara bank Islam dan nasabahnya.
Dengan adanya harga baru ini tidak ada lagi pemisahan antara pokok dan margin keuntungan, tetapi setelah itu telah menjadi entity, yaitu harga jual yang tidak berubah dengan berubahnya waktu atau turun naiknya suku bunga di pasar. Harga barang baru inilah yang harus dilunasi pada waktu jatuh tempo dalam bai’ al-murabahah atau dicicil sampai lunas dalam al-bai’u bitsaman ajil dan bai’ takjiri (sewa beli). Disinilah barangkali salah satu kelebihan Bank Islam yang tidak goyah karena terjadinya krisis moneter yang mengakibatkan naik turunnya suku bunga. Pengalaman selama ini menunjukkan, misalnya dalam kredit perumahan dengan angsuran sepuluh atau lima belas tahun, cicilan akan berubah (naik) karena naiknya suku bunga. Akan tetapi, dalam bank Islam kredit atau pembiayaan pengadaan perumahan atas dasar al-bai’u bitsaman ajil atau bai’ takjiri, angsuran atau cicilan perbulan selama 10 atau 15 tahun tidak berubah karena terjadinya krisis moneter atau naik turunnya suku bunga, karena harga jual yang telah disepakati tidak didasarkan kepada sistem bunga, melainkan harga pembelian ditambah dengan keuntungan.

i. Pembiayaan al-qardh Al-hasan, adalah suatu pinjaman lunak yang diberikan atas dasar kewajiban sosial semata, di mana peminjam tidak dituntut untuk mengembalikan apa pun kecuali modal pinjaman.

j. Giro wadi’ah, menurut terminologi syariah, giro dapat diklasifikasikan dalam dalam konsep titipan. Kewajiban untuk menjaga titipan dengan penuh amanah sangat ditekankan baik dalam alqur’an maupun sunnah. Giro wadi’ah merupakan titipan murni yang dengan seizin penitip dapat dipergunakan oleh bank, sebagai konsukensi dari menjamin keutuhan dana, apabila dari pengelolaan tersebut bank memperoleh keuntungan dana, apabila dari pengelolaan tersebut bank memperoleh keuntungan (laba) maka laba tersebut sepenuhnya milik bank. Meskipun demikian, bank atas kehendaknya sendiri, tanpa perjanjian di muka, dapat memberikan bonus kepada para nasabahnya. Alat pembayaran giral dengan menggunakan media cheque, bilyet giro, dan perintah bayar lainnya yang berlaku di bank konvensional, berlaku juga di bank Islam.

k. Jasa-jasa perbankan lainnya.
1. Kafalah
Atau yang biasa juga disebut dengan garansi bank dapat diberikan kepada nasabah dengan tujuan untuk menjamin pembayaran suatu kewajiban utang ataujaminan prestasi. Dalam hal ini bank dapat meminta nasabahnya untuk menempatkan dananya di bank dalam bentuk rekening giro dengan prinsip wadi’ah. Untuk fasilitas bank garansi ini, bank Islam dapat menanggung bayaran (fee) atas dasar al-ujr wa al-umulah.
2. Hiwalah
Suatu transaksi mengalihkan utang piutang. dalam praktik perbankan syariah, fasilitas hiwalah lazimnya digunakan untuk membantu supplier mendapatkan modal tunai agar dapat melanjutkan produksinya.
3. Ju’alah (pelayanan khusus)
Suatu kontrak di mana pihak pertama (ja’il) menjanjikan untuk memberikan sejumlah imbalan tertentu kepada pihak kedua atau suatu usaha/layanan proyek yang sifat dan batasan-batasannya termaktub dalam kontrak perjanjian.
4. Pembukaan L/C (wakalah)
Landasan syariah dari fasilitas pembukaan letter of credit (wakalah) antara lain surah Al-kahfi ayat 19.

Sekian pembahasan dari informasi ahli mengenai Pengertian Bank Islam, Ciri-ciri Dan Produk-produk Bank Islam, semoga tulisan dari informasi ahli terkait dengan Pengertian Bank Islam, Ciri-ciri Dan Produk-produk Bank Islam dapat bermanfaat.

Sumber : Buku dalam penulisan Fiqih muamalat

– Muslich Wardi Ahmad, 2015. Fiqh Muamalat. Penerbit Amzah : Jakarta. 
 
Pengertian Bank Islam, Ciri-ciri dan Produk-produk Bank Islam

Pengertian Bank Islam, Ciri-ciri dan Produk-produk Bank Islam

togel online
Pengertian Bank Islam, Ciri-ciri Dan Produk-produk Bank Islam | ali samiun | 4.5