Macam Macam Air Yang Digunakan Wudhu dan Dasar Hukumnya

Loading...
Hai Pembaca, Kali ini Informasi Ahli akan membahas mengenai macam macam air yang digunakan untuk wudhu dan dasar hukum penggunaan air tersebut untuk wudhu.
 
 
Dilihat dasar segi kemurnian dan kesucian, para ulama membagi macam macam air wudhu sebagai berikut.
 
1. Air Mutlak
 
Pengertian Air Mutlak adalah air yang memiliki hukum suci dan menyucikan yang dapat dipergunakan untuk berwudhu. Disebut demikian karena air mutlak secara materi adalah suci dan dapat dipergunakan untuk bersuci. Yang tergolong air mutlak ini contohnya :
 
a. Air hujan, salju atau es dan air embun, dalam alquran dijelaskan : “(Ingatlah), ketika Allah SWT membuat kamu mengantuk untuk memberikan ketenteraman dari-Nya, dan Allah SWT menurunkan air (hujan) dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan (hujan) itu dan menghilangkan gangguan-gangguan setan dari dirimu dan untuk menguatkan hatimu, serta memperteguh telapak kakimu (teguh pendirian)(Alquran Surah Al Anfal : 11), dan selanjutnya juga dijelaskan : “Dan Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya(hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang sangat bersih(Alquran Surah Al Furqan : 48).
 
b. Air laut, hadits dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa ketika seseorang bertanya mengenai kebolehan wudhu dengan air laut, kemudian Rasulullah SAW bersabda : “…Air laut itu suci airnya, halal bangkainya(HR. Tarmidzi, Nasa’i, Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).
 
c. Air danau atau telaga, air sungai dan sumur, Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib : “bahwa Rasulullah SAW meminta seember air dari sumur zam-zam, kemudian diminumnya sedikit dan dipakainya untuk wudhu(HR. Ahmad).
 
 
 
2. Air musta’mal
 
Pengertian Air Musta’mal adalah air yang telah dipakai oleh orang yang berwudhu atau mandi. Status dari air musta’mal terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama.
 
 
3. Air mudhaf
 
Pengertian Air Mudhaf adalah air yang dihasilkan dari perasan buah atau sejenisnya, seperti air semangka, jeruk dan timun yang dapat dipergunakan untuk berwudhu. Atau air mutlak yang dicampurkan dengan sesuatu yang lain, seperti gula, kopi dan teh. Dengan demikian, kita tidak bisa menyebutnya air saja, tetapi harus disebut juga sesuatu tambahan tersebut.
 
 
4. Air Mutanajjis
 
Pengertian Air mutanajjis adalah air yang terkena najis. Kondisi air yang terkena najis ini ada dua macam. Pertama, jika najis yang bercampur air suci dan najis itu mengubah salah satu dari indikator kesucian air, yaitu rasa, warna dan bau, maka air itu menjadi air mutanajjis atau air najis. Air yang demikian ini menurut kesepakatan ulama tidak dapat dipakai untuk wudhu. Kedua, Jika najis yang bercampur dengan air suci, kemudian salah satu indikator air tersebut tidak berubah, hukumnya tetap suci dan menyucikan, meskipun sedikit atau banyak. Hal ini berdasarkan pada hadits dari Abu Hurairah yang mengatakan Seorang badui berdiri kemudian kencing di masjid. Orang-orang berusaha menangkapnya, kemudian Rasulullah SAW bersabda : “Biarkan dia, tuangkan pada kencingnya setimba atau seember air, sesungguhnya kalian dibangkitkan untuk memberi kemudahan, bukan untuk menyulitkan(HR. Bukhari, Tarmidzi, Nasa’i, Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).
 
 
Di dalam hadits yang lain diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudriy : Ditanyakan kepada Rasulullah SAW, “Apakah kita akan berwudhu dengan air sumur Budha’ah (sumur itu adalah sumur yang biasanya menjadi tempat untuk membuang kain bekas pembalut wanita, daging anjing, serta kotoran-kotoran yang lain) ?” Kemudian beliau menjawab, “Air itu suci dan menyucikan dan tidak dinajiskan oleh sesuatu pun(HR. Tarmidzi).
 
 
 
| Bagaimana Hukum Air Yang Banyak Kejatuhan Najis ? |
 
Dalam banyak kasus kita sering kali menjumpai air yang terkena najis. Bisa saja air yang terkena najis itu jumlahnya banyak, najisnya sedikit. Atau, najisnya banyak, airnya sedikit. Para Ulama berpendapat bahwa air yang terkena najis dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
 
1. Air yang terkena najis dihukumi sebagai air mutanajjis. Artinya, air tersebut adalah air najis dan tidak dapat dipakai untuk wudhu. Disebut sebagai air mutanajjis, jika air yang terkena najis atau air yang kejatuhan najis itu berubah karena pengaruh dari salah satu indikator najis, yaitu rasa, warna dan bau. Oleh karena itu, jika air yang terkena najis itu sudah berubah dari sifat asalnya, yaitu berwarna, berasa, atau berbau, air tersebut menjadi air mutanajjis.
 
2. Jika najis bercampur dengan air suci, akan tetapi salah satu indikator air tersebut tidak berubah, hukumnya tetap suci dan menyucikan meskipun sedikit atau banyak. Di dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah ia mengatakan bahwa pada suatu hari seorang badui kencing di dalam masjid. Hal itu membuat para sahabat berang dan berusaha untuk menangkapnya. Namun Rasulullah SAW melarang itu dan memerintahkan untuk membiarkannya sambil bersada : “..Biarkan dia, tuangkan pada kencingnya setimba atau seember air, sesungguhnya kalian dibangkitkan untuk memberikan kemudahan, bukan untuk menyulitkan(HR. Bukhari, Tarmidzi, Nasa’i, Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).
 
 
Dengan demikian, sebenarnya kita bisa memilah dan memilih serta mengamati air yang terkena najis tersebut termasuk di dalam kategori yang mana. Jika kategori yang pertama, air itu tetap masih bisa dipakai untuk berwudhu, sedangkan jika air yang terkena najis itu termasuk di dalam kategori yang kedua, air tersebut adalah air mutanajjis, sehingga tidak bisa dipakai untuk berwudhu.
 
 
 
| Bolehkah Air Musta’mal dipakai Untuk Wudhu atau Mandi ? |
 
Bersuci tidak hanya dengan melakukan wudhu, mandi juga termasuk bagian dari bersuci yang tata caranya juga diteladankan oleh Rasulullah SAW, terutama mandi janabah. Sesuai dengan pertanyaan, apakah air bekas bersuci dalam hal ini adalah mandi dan wudhu masih juga bisa dipakai untuk bersuci.
 
 
Di dalam kitab-kitab fiqih, air bekas dipakai untuk bersuci disebut dengan air musta’mal. Dalam hal ini, para ulama berbeda pendapat mengenai status air ini. Apakah air tersebut masih suci atau bukan. Ali bin Abi Thalib, Ibnu Umar, Abu Umamah dan beberapa ulama salaf menyatakan bahwa air musta’mal adalah suci dan menyucikan. Pendapat ini didukung oleh beberapa ulama di dalam berbagai mazhab seperti mazhab Malikiyah, sebagian ulama Syafi’iyah dan Ahmad. Begitu juga, pendapat Mazhab Ibnu Hazm, Ibnu Mundzir dan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah. Dalil yang dipakai oleh para ulama tersebut yaitu :
 
a. Sabda Rasulullah SAW : “Air itu suci, tidak ada sesuatu pun yang dapat membuatnya menjadi najis(HR. Tarmidzi).
 
b. Para sahabat biasa menggunakan air sisa wudhu Rasulullah SAW, Hadits riwayat Abu Juhaifah, ia berkata : …Rasulullah SAW., keluar menemui kami pada siang hari, Kemudia dibawakan untuknya air untuk berwudhu, kemudian beliau berwudhu. Setelah itu, orang-orang mengambil sisa air wudhu beliau dan mengusap-usapnya ke tubuh mereka… (HR. Bukhari).
 
c. Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar : Dari Abdullah bin Umar bahwa ia berkata, “Dahulu laki-laki dan perempuan berwudhu bersama-sama pada zaman Rasulullah(HR. Bukhari, Nasa’i, Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).
 
d. Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas : Ibnu Abbas mengabarkan bahwa Rasulullah SAW pernah mandi dari air sisa Maimunah (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad).
 
 
Adapun Ulama lain yang berpendapat bahwa tidak boleh bersuci atau berwudhu dengan air musta’mal, seperti Al-Auza’i. Akan tetapi, para ulama yang berpendapat demkian tidak mempunyai dalil yang dapat dijadikan pegangan.
 
Berdasarkan dalil-dalil yang dikemukakan di atas, air musta’mal ini dapat digunakan untuk berwudhu. Namun perlu diperhatikan bahwa meskipun air tersebut adalah suci dan dapat menyucikan, sebaiknya mempergunakan air yang lain jika ada karena perlu juga ditinjau dari sisi kesehatannya.
 
 
 
| Saat Hujan Di Halaman Kita Penuh Dengan Air, Bisakah Air Tersebut Digunakan Untuk Wudhu atau bersuci ? |
 
Air hujan adalah air yang turun dari langit di saat sedang turun hujan. Biasanya setelah hujan yang cukup lebat, ada air yang menggenang setelah hujan berhenti. Air inilah yang kemudian ditanyakan, apakah boleh dipergunakan untuk wudhu atau sebaliknya tidak bisa dipakai untuk berwudhu ?.
 
 
Pada dasarnya air hujan termasuk jenis air yang suci dan menyucikan. Hanya saja, yang perlu kita perhatikan adalah jumlah air genangan itu. Hal ini disebabkan ada sebagian ulama yang mempermasalahkan jumlah air yang dapat dipakai untuk wudhu, yaitu 2 qullah. Hal ini didasarkan pada hadits sebagai berikut. Rasulullah SAW bersabda : “Apabila air dalam jumlah dua qullah, maka tidak mengandung najis(HR. Tarmidzi, Ibnu Majah dan Darimi).
 
 
Jika kita termasuk orang yang berpegang tegus dengan keharusan jumlah air yang dapat dipakai wudhu adalah dua qullah, tentu kita harus memperhatikan banyaknya air genangan hujan tersebut, apakah memang sudah memenuhi jumlah dua qullah atau belum. Jika belum mencapai dua qullah, air genangan tersebut tidak bisa kita pakai untuk berwudhu atau bersuci.
 
 
Di sisi yang lain, kita perhatikan hadits berikut ini, “Ketika Rasulullah SAW masuk ke WC, maka aku (Anas) bersama seorang anak yang sebaya denganku membawakan setimba kecil air dengan gayung, kemudian beliau bersuci dengan air itu(HR. Bukhari dan Muslim)Di dalam hadits tersebut terlihat jelas bahwa Rasulullah SAW berwudhu dengan menggunakan air yang tidak sampai dalam jumlah dua qullah karena hanya menggunakan seember kecil air.
 
 
Berdasarkan hadits-hadits tersebut di atas, pada hakikatnya semua kembali pada keyakinan kita dan realita jumlah banyak dan sedikitnya air genangan hujan yang akan kita pakai untuk berwudhu. Jika terlalu sedikit dan secara nyata tidak cukup untuk berwudhu dengannya, mengapa kita memaksakan diri berwudhu dengan air genangan yang memang sedikit itu ?.
 
Sekian tulisan informasi ahli mengenai macam macam air yang digunakan untuk wudhu dan dasar hukum penggunaan air tersebut untuk wudhu, semoga tulisan informasi ahli mengenai macam macam air yang digunakan untuk wudhu dan dasar hukum penggunaan air tersebut untuk wudhu dapat bermanfaat.
 

Sumber : Tulisan Informasi Ahli :

– Muhammad Anis Sumaji, 2008. 125 Masalah Thaharah. Yang Menerbitkan Tiga Serangkai : Solo.
Gambar Macam Macam Air Yang Digunakan Wudhu dan Dasar Hukumnya
Gambar Macam Macam Air Yang Digunakan Wudhu dan Dasar Hukumnya