Loading...

Macam Macam Zakat dan Pembahasannya

Hai Pembaca, Kali ini Informasi Ahli akan membahas mengenai macam macam zakat.
 
 
Macam Macam zakat ini terbagi atas 2 (dua), yaitu zakat fitrah (jiwa) dan zakat maal (harta).
 
Menurut Pendapat Muhammad Daud Ali, Pengertian Zakat Maal adalah bagian dari harta yang dimiliki oleh seseorang atau badan hukum yang wajib diberikan kepada orang-orang tertentu setelah mencapai sejumlah minimal tertentu dan telah dimiliki selama jangka waktu yang tertentu juga.
 
Pengertian Zakat Fitrah Menurut Muhammad daud Ali adalah zakat yang diwajibkan pada akhir puasa ramadhan, yang hukumnya wajib untuk setiap orang muslim baik kecil atau dewasa, laki-laki atau perempuan, dan budak atau merdeka.
 
 
1. Zakat Fitrah (jiwa)
 
Pengertian Fitrah ialah ciptaan, sifat asal, bakat, perasaan keagamaan, dan perangai, sedangkan zakat fitrah adalah zakat yang berfungsi mengembalikan manusia (umat muslim) kepada fitrahnya, dengan menyucikan jiwa mereka dari kotoran-kotoran (dosa-dosa) yang disebabkan oleh pengaruh pergaulan dan sebagainya; Sehingga manusia itu menyimpang dari fitrahnya. Dalam hal ini Yang dijadikan zakat fitrah yaitu bahan makanan pokok bagi orang yang mengeluarkan zakat fitrah atau makanan pokok di daerah tempat berzakat fitrah, contohnya : beras, jagung, tepung sagu, tepung gaplek dan sebagainya.
 
 
Zakat fitrah ini wajib dikeluarkan pada saat bulan Ramadhan sebelum shalat ‘id berlangsung, sedangkan bagi orang yang mengeluarkan zakat fitrah setelah dilaksanakan shalat ‘id, maka apapun yang ia berikan bukan termasuk dalam zakat fitrah, tetapi merupakan sedekah. Hal ini sesuai dengan hadist Nabi SAW dari Ibnu Abbas, ia berkata : “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah itu sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perkataan yang kotor dan sebagai makanan bagi orang miskin. Oleh Karenanya, barang siapa mengeluarkannya sesudah shalat, maka dia itu merupakan salah satu sedekah biasa (Hadist Abu Daud dan Ibnu Majah).
 
 
Melewatkan pembayaran zakat fitrah sampai selesai shalat hari raya, maka hukumnya makhruh karena tujuan utamanya membahagiakan orang-orang miskin pada hari raya, dengan demikian jika dilewatkan pembayarannya, maka hilanglah separuh kebahagiaannya pada hari itu.
 
 
Banyaknya Zakat Fitrah untuk perorangan satu Sha’ (2,5 Kg/ 3,5 Liter) dari bahan makanan untuk membersihkan puasa dan mencukupi kebutuhan orang-orang miskin di hari raya Idul Fitri, sesuai dengan Hadist Nabi SAW, “dari Ibnu Umar ra; Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitri 1 (satu) sha’ dari kurma atau gandum untuk budak (hamba sahaya), orang merdeka laki-laki dan perempuan, anak kecil dan orang tua dari seluruh kaum muslimin. Dan beliau perintahkan supaya dikeluarkan sebelum manusia ke luar untuk shalat ‘id (HR. Bukhari)
 
 
Jika maslahat orang-orang kafir mengharuskan dikeluarkan zakat untuk mereka di dalam bentuk uang, maka tidak ada dosa di dalamnya sesuai dengan Mazhab Hanafi dan Mazhab Syafi’i.
 
Menurut Yusuf Qardhawi ada 2 (dua) manfaat zakat fitrah, yaitu sebagai berikut.
a. manfaat zakat fitrah untuk Membersihkan kotoran selama menjalankan puasa, karena selama menjalankan puasa seringkali orang terjerumus pada perbuatan dan perkataan yang tidak ada manfaatnya serta melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Allah.
b. Menumbuhkan rasa kecintaan kepada orang-orang miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Dengan memberikan zakat fitrah ini kepada orang-orang miskin dan orang-orang yang membutuhkan akan membawa mereka kepada kebutuhan dan kegembiraan, bersuka cita pada hari raya.
 
 
Adapun niat mengeluarkan zakat fitrah bagi diri sendiri, yaitu : “sengaja saya mengeluarkan zakat fitrah ini pada saya sendiri, fardhu karena Allah ta’alla“. Sementara itu, bagi diri sendiri dan sekalian yang ditanggungnya, yaitu : “Sengaja saya mengeluarkan zakat fitrah pada diri saya dan pada sekalian yang saya dilazimkan (diwajibkan) memberi nafkah pada mereka, fardhlu karena Allah ta’alla“.
 
 
Cara Penyerahan Zakat Fitrah dapat ditempuh dengan 2 (dua) cara, yaitu :
(1) Zakat fitrah diserahkan langsung oleh yang bersangkutan kepada fakir miskin. Jika hal ini dilakukan maka sebaiknya pada malam hari raya dan lebih baik lagi diberikan pada pagi hari sebelum shalat idul fitri dimulai agar dengan adanya zakat fitrah itu melapangkan kehidupan mereka, pada hari raya, sehingga mereka tidak perlu lagi berkeliling menadahkan tangan kepada orang lain.
 
(2) Zakat fitrah diserahkan kepada amil (panitia) zakat. Jika hal itu dilakukan maka sebaiknya diserahkan satu hari atau dua hari ataupun beberapa hari sebelum hari raya Idul Fitri berlangsung, agar panitia dapat mengatur distribusinya dengan baik dan tertib kepada mereka yang berhak menerimanya pada malam hari raya atau pada pagi harinya.
 
 
Ibnu Abas meriwayatkan, “Rasulullah SAW telah memfardhukan zakat fitrah untuk menyucikan orang-orang yang berpuasa dari kelaliannya. Sesungguhnya ia salah satu sedekah, karena itu barang siapa yang melewatkan pembayaran sampai terlaksananya shalat hari raya hukumnya makruh (tidak berdosa), tetapi jika dilewatkan sampai terbenamnya matahari, hukumnya berdosa dan dianggap sebagai hutang kepada Allah SWT, yang di mana perlu segera dilakukan pembayarannya (qadha)“.
 
 
Adapun tempat mengeluarkan zakat fitrah ini yang lebih diutamakan yaitu zakat fitrah dikeluarkan di tempat muzakki tinggal dan berpuasa, sedangkan jika dia puasa Ramadhan di luar negeri karena perjalanan atau lainnya maka dia mengeluarkan zakat fitrah di negeri tempai ia berpuasa.
 
 
Pembayaran zakat fitrah dapat dipindahkan ketempat atau daerah lain jika penduduk di tempat atau daerah tersebut amat memerlukannya dibandingkan dengan penduduk di tempat atau daerah pemberi zakat. Kemaslahatan perpindahan tersebut lebih memberi keuntungan dibandingkan jika diberikan kepada penduduk di tempat atau daerah pemberi zakat atau keperluan di tempat atau daerah tersebut telah melebihi.
 
 
 
2. Zakat Maal (harta)
 
Pengertian Zakat harta atau zakat maal adalah zakat yang dikenakan atas harta (maal) yang dimiliki oleh seorang atau lembaga dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan.
 
 
Maal (harta) Menurut Bahasa merupakan segala sesuatu yang diinginkan sekali oleh manusia untuk menyimpan dan memilikinya, sedangkan maal (harta) menurut hukum islam adalah segala yang dapat dimiliki (dikuasai) dan dapat digunakan (dimanfaatkan) menurut kebiasannnya.
 
 
Sesuatu dapat disebut dengan maal (harta atau kekayaan) apabila memenuhi 2 (dua) syarat, yaitu :
(1) dapat memiliki atau disimpan atau dihimpun atau dikuasai.
(2) dapat diambil manfaatnya sesuai dengan ghalibnya, contohnya : rumah, mobil ternak, uang, emas, perak, hasil pertanian dan lain-lain. Sedangkan sesuatu yang tidak dapat dimiliki tetapi dapat diambil manfaatnya, contohnya : udara, cahaya, sinar matahari, dan lain-lain tidak termasuk kekayaan.
 
 
Pada umumnya di dalam fiqih Islam harta kekayaan yang wajib dizakati atau dikeluarkan zakatnya digolongkan ke dalam kategori :
a. emas, perak dan uang (simpanan).
b. barang yang diperdagangkan atau harta perniagaan.
c. hasil pertanian.
d. hasil peternakan.
e. hasil tambang dan barang temuan.
f. lain-lain (zakat profesi, saham, rezeki tidak terduga, undian atau kuis berhadiah).
 
 
Masing-masing dari kelompok berberda nishab, haul dan kadar zakatnya. Sekian tulisan informasi ahli mengenai macam macam zakat dan pembahasannya, semoga tulisan informasi ahli mengenai macam macam zakat dan pembahasannya dapat bermanfaat.
 

Sumber : Tulisan Informasi Ahli :

– Elsi Kartika Sari, 2006. Pengantar Hukum Zakat dan Wakaf. Penerbit PT Grasido : Jakarta.
http://www.pengertianpakar.com/2015/01/zakat-harta-macam-macam-zakat-syarat-zakat-dan-manfaat-zakat.html
Gambar Macam Macam Zakat dan Pembahasannya

Gambar Macam Macam Zakat dan Pembahasannya

 
Macam Macam Zakat dan Pembahasannya | ali samiun |