Pengertian Puasa Ramadhan, Niat dan Dasar Hukumnya

Loading...
Hai Pembaca, Kali ini Informasi Ahli akan membahas mengenai pengertian puasa ramadhan, dasar hukum puasa ramadhan dan niat puasa ramadhan.
 
 
Pengertian Puasa Ramadhan adalah suatu ibadah yang wajib dilakukan setiap umat muslim dengan cara menahan hawa nafsu (makan, minum, hubungan suami isteri, marah, dengki, iri dan lain sebagainya) selama bulan ramadhan. Puasa Ramadhan merupakan ibadah yang diwajibkan oleh Allah SWT pada tahun Ke-2 Hijriah. Kewajiban ini didasarkan pada dalil Alquran, Hadits dan Ijma’.
 
 
Puasa Ramadhan ini mulai diisyaratkan pada tanggal 10 Sya’ban tahun kedua Hijriah atau satu setengah tahun setelah umat Islam berhijrah dari Mekah ke Madinah. Atau, setelah umat Islam diperintahkan memindahkan kiblatnya dari Masjid Al Aqsa ke Masjidil Haram.
 
 
Pensyaratan puasa ramadhan ini didasarkan pada firman Allah SWT di dalam Surah Al Baqarah ayat 183. Dari situlah dapat dipahami bahwa ibadah puasa pada dasarnya sudah ada pada masa-masa sebelum masa kerasulan Muhammad. Hanya saja, praktiknya tidak sebagaimana yang ditetapkan pada syariat Islam seperti sekarang ini. Setelah turun ayat ini, Puasa Ramadhan menjadi kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim yang mukalaf, sehat, serta berakal, selama satu bulan penuh dengan memenuhi syarat dan rukun yang telah diatur oleh syariat.
 
 
Puasa yang pertama kali dilaksanakan oleh Rasulullah SAW adalah Puasa Asyura’ pada bulan Asyura’, yaitu puasa yang dilaksanakan masyarakat Quraisy ketika itu dan setibanya di Madinah, Nabi pun memeritahkan puasa pada bulan tersebut. Setelah turun perintah berpuasa pada bulan Ramadhan, Rasulullah SAW memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa bagi siapa saja yang menghendaki. Dalam fase ini, mereka boleh berpuasa boleh tidak, dan bagi yang tidak berpuasa diharuskan membayar fidyah. Puasa bulan Ramadhan ini menjadi kewajiban bagi setiap umat Islam, kecuali bagi mereka yang mempunyai uzur syar’i.
 
 
Perintah puasa ini terdapat di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda : “…Sesungguhnya, telah datang bulan Ramadhan, bulan yang diberkati. Allah SWT telah memerintahkan kepada kalian untuk berpuasa di dalamnya …(HR. Ahmad dan Nasa’i).
 
 
Seseorang yang hendak berpuasa Ramadhan wajib berniat puasa sebelum fajar tiba. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Hafshah, Rasulullah SAW bersabda :… Barangsiapa tidak berniat puasa sebelum terbit fajar, tidak (terhitung) puasa baginya …(HR. Abu Daud). Hal ini berbeda dengan puasa sunnah yang niatnya boleh dilakukan setelah terbit fajar, sesuai dengan sabda Rasulullah SAW : “Suatu hari Rasulullah SAW masuk rumah kami dan beliau bertanya : Apa Kalian memiliki makanan ?. Kami menjawabnya : Tidak ada. Rasulullah pun bersabda : Kalau begitu aku akan berpuasa(HR. Muslim). Dari hadits ini dapat diambil kesimpulan bahwa orang yang berpuasa sunnah boleh berniat pada siang hari, dan tidak diwajibkan untuk berniat ada malam harinya seperti puasa wajib.
 
 
Niat adalah syarat sahnya semua ibadah. Tanpa adanya niat, semua jenis ibadah tidak sah hukumnya dilakukan. Seseorang yang akan melaksanakan puasa Ramadhan, harus berniat pada malam harinya, sebelum terbit fajar. Dan, jika ia tidak berniat pada malam harinya, dalam hal ini para ulama menyatakan bahwa ibadah puasa orang tersebut tidak sah karena tidak adanya niat sebelumnya.
 
 
Niat tidak harus diucapkan sebab tidak ada satu keterangan juga dari Rasulullah yang menyebabkan mengenai perintah melafalkan niat. Jadi, ketika seseorang akan berpuasa dan dilakukan dengan sengaja di dalam hatinya bahwa dirinya akan melakukan puasa, itu sudah masuk di dalam kategori niat.
 
 
Sebaliknya, seseorang yang melafalkan niat, tetapi hatinya tidak berniat maka ia belum dikatakan berniat. Jadi, jika ada seorang guru mengajarkan praktik shalat kepada orang lain dengan lafal-lafal yang benar, ia tidak biasa dikatakan sedang melaksanakan shalat, sebab sang guru itu disamping niatnya mengajarkan, juga tidak berniat mengerjakan shalat. Demikian juga jika ada seseorang merekam suara niat puasanya, belum tentu keesokan harinya ia melaksanakan puasa. Sebaliknya, seseorang yang mungkin saja berniat untuk puasa esok harinya, meski lidahnya tidak melafalkan apa pun, dan keesokan harinya ia benar-benar puasa, puasanya tetap sah. Sebab, memang tempat niat itu di dalam hati.
 
 
Jika anda berniat berpuasa ramadhan, maka Niat Puasa Ramadhan yang dilafazkan sebagai berikut :
Nawaitu sauma ghadin an’adai fardhi syahri ramadhana hadzihizanaati fardha lillahita’ala” yang artinya : “Sengaja aku berpuasa esok hari untuk menunaikan puasa pada bulan ramadhan wajib karena Allah SWT.
 
 
Dan Niat ketika Buka Puasa : Allahummalakasumtu wabika aamantu wa’alarizqika afthortu birohmatika yaa arhamarrahimin, yang artinya : Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezki-Mu lah aku berbuka, Maha Besar Allah SWT yang maha pemurah lagi maha penyayang.
 
Sekian tulisan informasi ahli mengenai pengertian puasa ramadhan, dasar hukum puasa ramadhan dan niat puasa ramadhan, semoga tulisan informasi ahli mengenai pengertian puasa ramadhan, dasar hukum puasa ramadhan dan niat puasa ramadhan dapat bermanfaat.
 

Sumber : Tulisan Informasi Ahli :

– M. Anis Sumaji dan M. Najmuddin Zuhdi, 2008. 125 Masalah Puasa. Yang Menerbitkan PT Tiga Serangkai : Solo.
Gambar Pengertian Puasa Ramadhan, Niat Puasa Ramadhan dan Dasar Hukum Puasa Ramadhan
Gambar Pengertian Puasa Ramadhan, Niat Puasa Ramadhan dan Dasar Hukum Puasa Ramadhan