Loading...

Tata Cara Perhitungan Zakat Harta dan Dasar Perhitungannya

Hai Pembaca, kali ini Informasi Ahli akan membahas mengenai tata cara perhitungan zakat harta dan dasar perhitungannya.
 
 
1. Emas, Perak dan Uang (Simpanan)
 
Emas dan perak merupakan logam mulia yang merupakan tambang elok, sering dijadikan perhiasan dan juga dijadikan mata uang yang berlaku dari waktu ke waktu. Semua ulama sepakat bahwa harta yang berupa emas dan perak ini harus dikeluarkan zakatnya, karena secara syariat Islam memandang emas dan perak potensial hidup dan berkembang, sesuai dengan Firman Allah SWT yang berbunyi : “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan erak dan tidak menafkahkan pada jalan Allah maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengan dari mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu“. (Alquran Surah At Taubah 9: 34-35).
 
 
Hadist Nabi SAW, “Tiadalah bagi pemilik emas dan perak yang tidak menunaikan hak (zakat)nya, melainkan di hari kiamat ia di dudukkan di atas pedang batu yang lebar di dalam neraka. Maka dibakar di dalam jahannam, disetrika dengan pipi, kening, dan punggungnya. Setiap api itu padam, maka dipersiapkan lagi baginya (hal serupa) untuk jangka waktu 50 (lima puluh) ribu tahun, hingga selesai pengadilan umat manusia semuanya. Maka ia melihat jalannya, apakah ke surga atau ke neraka“. (HR. Muslim dari Abu Hurairah).
 
 
Nishab zakat emas untuk 20 Dinar, yaitu setara dengan 85 gram emas murni, sedangkan untuk nishab zakat perak adalah 200 dirham, yaitu setara dengan 672 gram perak, artinya jika seseorang telah memiliki emas atau perak yang nilainya mencapai 20 dinar atau 200 dirham dan telah memiliki selama satu tahun maka sudah terkena kewajiban membayar zakat sebesar 2,5%, sesuai dengan Hadist Nabi mengalami ulang tahun (haul), maka zakatnya 5 dirham. Dan kamu tidak mempunyai kewajiban apa-apa (maksudnya mengenai emas), sehingga kamu telah memiliki 20 dinar dan telah mengalami ulang tahun, maka zakatnya 1/2 dinar. Jika lebih, maka diperhitungkanlah seperti itu”. (HR. Abu Daud dari Ali Bin Abi Thalib ra).
 
 
Perhiasan wanita yang khusus untuk pemakaian pribadi tidak wajib dizakati selama tidak melebihi batas kewajaran antara wanita-wanita lain yang berada di dalam status sosial yang sama, sedangkan perhiasan yang melebihi batas kewajaran harus dibayar zakatnya karena kepemilikan perhiasan sama dengan menimbun dan menyimpan sesuatu harta. Seorang wanita harus membayar zakat perhiasan yang sudah tidak dipakai lagi karena sudah lama atau sebab-sebab lainnya.
 
 
Perhiasan emas yang dipakai atau dimiliki oleh lelaki harus dilakukan pembayaran zakatnya, seperti gelang dan jam tangan, begitu juga wanita yang memakai perhiasan lelaki harus membayar zakatnya karena haram bagi dirinya, sementara cincin perak tidak dikenakan kewajiban zakat karena halal dipakai oleh lelaki. Banyaknya zakat untuk perhiasan emas dan perak 2,5 %.
 
 
Untuk segala macam bentuk simpanan uang seperti tabungan, deposito, cek, obligasi, saham atau surat berharga lainnya termasuk di dalam kategori penyimpanan emas dan perak, sehingga penetapan nishab dan besarnya zakat disetarakan dengan ketentuan zakat pada emas dan perak. Artinya jika seseorang memiliki bermancam-macam bentuk harta dan jumlah akumulasinya lebih besar atau sama dengan nishab (85 gram emas/ 672 gram) maka ia telah terkena kewajiban zakat (2,5 %).
 
 
Demikian juga terhadap harta kekayaan lainnya seperti rumah, villa, tanah, kendaraan dan lain-lain yang melebihi keperluan menurut syara’ atau dibeli atau dibangun dengan tujuan investasi dan sewaktu-waktu perniagaan atau perdagangan itu, jika cukup satu nishab maka wajib dibayarkan zakatnya.
 
 
Bentuk-bentuk kekayaan yang dimiliki oleh suatu badan usaha tidak akan lepas dari salah satu atau lebih dari tiga hal, yaitu :
a. kekayaan di dalam bentuk barang.
b. uang tunai atau simpanan bank.
c. piutang.
 
 
Jadi, yang termasuk harta perniagaan yang wajib dizakati yaitu ketiga bentuk harta di atas setelah dikurangi dengan kewajibannya seperti pajak dan hutang yang harus dibayar ketika sudah jatuh tempo.
 
 
 
2. Hasil Pertanian
 
Hasil tumbuh-tumbuhan atau tanaman yang bernilai ekonomis seperti : padi; biji-bijian (jagung, kedelai); umbi-umbian (ubi kentang, ubi kayu, ubi jalar, jahe); sayur-sayuran (bawang, mentimun, kol, bit, wortel, petai, bayam, sawi, cabai); buah-buahan (kelapa, pisang, durian, rambutan, duku, salak, apel, jeruk, pepaya, nanas, kelapa sawit, mangga, alpukat, pala, lada, pinang); tanaman hias (anggrek, segala jenis bunga termasuk cengkeh); rumput-rumputan (sere atau minyak sere, bambu, tebu); daun-daunan (teh, tembakau, vanili); kacang-kacangan (kacang hijau, kedelai, kacang tanah) sesuai dengan Firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (ke jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu“. (Alquran Surah Al Baqarah 2: 267).
 
 
Dan dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermancam-macam buahnya, zaitun, dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), serta tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah engkau berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan“. (Alquran Surah Al An’am 6: 141).
 
 
Nishab Zakat hasil pertanian ini yaitu lima wasq yang setara dengan 653 Kg gabah/ 520 kg beras. Jika hasi pertanian merupakan makanan pokok seperti beras, jagung, gandung, kurma dan lain-lain maka nishabnya setara dengan 653 kg gabah/ 520 kg beras dari hasil pertanian tersebut, akan tetapi jika hasil pertanian berupa buah-buahan, sayur-sayuran, daun, bunga dan lain-lain maka nishab disetarakan dengan harga nishab makanan pokok yang paling utama di negara yang bersangkutan.
 
 
Untuk kadar zakat hasil pertanian jika diairi dengan air hujan, sungai dan mata air, maka kadar zakatnya adalah 10% (sepuluh persen), sedangkan diairi dengan sistem irigasi karena memerlukan biaya tambahan, maka kadar zakatnya adalah 5% (lima persen) sesuai dengan Hadist Nabi SAW, “Tidak ada sedekah (zakat) pada biji dan buah-buahan, sehingga sampai banyaknya lima wasaq“. (Riwayat Muslim).
 
 
Dari Jabir, Nabi MUhammad SAW bersabda, “Pada biji yang diari dengan air hujan maka zakatnya 1/10 bagian dan yang diairi dengan kincir atau ditarik oleh binatang, zakatnya 1/20(HR. Ahmadi, Muslim da Nasa’i).
 
 
Dalam sistem pertanian dewasa ini komponen biaya yang dikeluarkan oleh petani tidak hanya sekedar air tetapi biaya-biaya lain seperti insektisida, pupuk, perawatan dan lain-lain. Oleh karena itu, kadar zakat tanaman dan buah-buahan yang wajib dikeluarkan berbeda-beda mengikuti sistem yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan air (pengairan) yaitu :
a. Jika pengairannya dilaksanakan tanpa mengeluarkan pembiayaan, kadar zakat yang wajib dikeluarkan 10%.
b. Jika pengairannya dilaksanakan dengan mengeluarkan pembiayaan yang tinggi, seperti mengikutsertakan tenaga manusia untuk mengatur sirkulasi airnya dengan menggunakan peralatan atau harus membeli air, kadar zakat yang wajib dikeluarkan 5%.
c. Jika pengairan dilaksanakan dengan menggunakan kedua sistem di atas, kadar zakat wajib dikeluarkan adalah berdasarkan pada sistem yang lebih banyak digunakan, yaitu 7,5%.
 
 
Sekian tulisan informasi ahli mengenai tata cara perhitungan zakat harta dan dasar perhitungannya, semoga tulisan informasi ahli mengenai tata cara perhitungan zakat harta dan dasar perhitungannya dapat bermanfaat.
 

Sumber : Tulisan Informasi Ahli :

– Elsi Kartika Sari, 2006. Pengantar Hukum Zakat dan Wakaf. Penerbit PT Grasido : Jakarta.
Gambar Tata Cara Perhitungan Zakat Harta dan Dasar Perhitungannya

Gambar Tata Cara Perhitungan Zakat Harta dan Dasar Perhitungannya

 
Tata Cara Perhitungan Zakat Harta dan Dasar Perhitungannya | ali samiun |