Loading...

Hikmah Jual Beli, Manfaat dan Bentuk-bentuk Jual Beli yang Dilarang

Hai pembaca, kali ini informasi ahli akan membahas Hikmah Jual Beli, Manfaat dan Macam-macam Jual Beli yang Dilarang.

Manfaat Jual Beli yaitu :
a. Jual beli dapat menata sistem dapat menata struktur kehidupan ekonomi masyarakat yang menghargai hak milik orang lain.
b. Penjual dan pembeli dapat memenuhi kebutuhannya atas dasar kerelaan atau suka sama suka.
c. Masing-masing pihak merasa puas. Penjual melepas barang dagangannya dengan ikhlas dan menerima uang, sedangkan pembeli memberikan uang dan menerima barang dagangan dengan puas pula. Dengan demikian, jual beli juga mampu untuk saling bantu-membantu antara keduanya dalam kebutuhan sehari-hari.
d. Dapat menjauhkan diri dari memakan atau memiliki barang yang haram (bathil).
e. Penjual dan pembeli mendapat rahmat dari Allah Swt.,
f. Menumbuhkan ketentraman dan kebahagiaan. Keuntungan dan laba dari jual beli dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan hajat sehari-hari. Apabila kebutuhan sehari-hari dapat dipenuhi, maka diharapkan ketenangan dan ketentraman jiwa dapat pula tercapai.
Hikmah Jual Beli, dalam garis besar adalah Allah Swt., mensyariatkan jual beli sebagai pemberian keluangan dan keleluasaan kepada hamba-hambanya, karena semua manusia secara pribadi mempunyai kebutuhan berupa sandang, pangan, dan papan. Kebutuhan seperti ini tak pernah putus selama manusia masih hidup. Tak seorangpun dapat memenuhi hajat hidupnya sendiri, karena itu manusia dituntut berhubungan satu sama lainnya. Dalam hubungan ini, tak ada satu hal pun yang sempurna dari pada saling tukar, dimana seseorang memberikan apa yang ia miliki untuk kemudian ia memperoleh sesuatu yang berguna dari orang lain sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.

Bentuk-bentuk Jual Beli yang Dilarang
Jual beli yang dilarang terbagi dua : pertama, jual beli yang dilarang dan hukumnya tidak sah (batal), yaitu jual beli yang tidak memenuhi syarat dan rukunnya. Kedua, jual beli yang hukumnya sah tetapi dilarang, yaitu jual beli yang telah memenuhi syarat dan rukunnya, tetapi ada beberapa faktor yang menghalangi kebolehan proses jual beli.

1. Jual beli dilarang karena tidak memenuhi syarat dan rukun. Bentuk jual beli yang termasuk dalam kategori ini sebagai berikut :
a. Jual beli yang zatnya haram, najis, atau tidak boleh diperjualbelikan. Barang yang najis atau haram dimakan haram juga untuk diperjualbelikan, seperti babi, berhala, bangkai dan khamar (minuman yang memabukkan). Adapun bentuk jual beli yang dilarang karena barangnya yang tidak boleh diperjualbelikan adalah air susu ibu dan air mani (sperma) binatng. Para ulama fiqh berbeda pendapat dalam masalah jual beli air susu ibu. Imam Syafi’i dan Imam Malik membolehkan dengan mengambil analogi dan alasan seperti air susu hewan. Adapun imam Abu Hanifah melarangnya, alasannya karena air susu merupakan bagian dari daging manusia yang haram untuk diperjualbelikan. Bentuk jual beli diatas dilarang karena mengandung kesamaran. Akan tetapi boleh menganwinkan binatang ternak dengan jalan meminjam pejantan tanpa ada keharusan pembayaran.

b. Jual beli yang belum jelas, sesuatu yang bersifat spekulasi atau samar-samar haram untuk diperjualbelikan, karena dapat merugikan salah satu pihak, baik penjual, maupun pembeli. Yang dimaksud dengan samar-samar adalah tidak jelas, baik barangnya, harganya, kadarnya, masa pembayarannya, maupun ketidakjelasan yang lainnya. Jual beli yang dilarang karena samar-samar antara lain :
1) Jual beli buah-buahan yang belum tanpak hasilnya. Contohnya, menjual putik mangga untuk dipetik kalau telah tua/masak nanti.
2) Jual beli barang yang belum tanpak. Misalnya, menjual ikan dikolam/laut, menjual ubi/singkong yang masih ditanam , dan menjual anak ternak yang masih dalam kandungan induknya.

c. Jual Beli yang bersyarat, jual beli yang ijab kabulnya yang dikaitkan dengan syarat-syarat tertentu yang tidak ada kaitannya dengan jual beli atau ada unsur-unsur yang merugikan dilarang oleh agama. Contoh, jual beli yang bersyarat dan dilarang misalnya ketika terjadi ijab kabul si pembeli berkata : “Baik, mobilmu akan saya beli dengan syarat anak gadismu harus menjadi istriku”. Atau sebaliknya si penjual berkata : “ya, saya akan jual mobil ini kepadamu sekian asal anak gadismu menjadi istriku”.

d. Jual beli yang menimbulkan kemudharatan, segala sesuatu yang dapat menimbulkan namanya kemudharatan, kemaksiatan, bahkan kemusyrikan dilarang untuk diperjualbelikan, seperti jual beli patung, salib, dan buku-buku bacaan porno. Memperjualbelikan barang-barang ini dapat menimbulkan perbuatan-perbuatan maksiat. Sebaliknya, dengan dilarangnya jual beli macam ini, maka hikmahnya dapat mencegah dan menjauhkan manusia dari perbuatan dosa dan maksiat.

e. Jual beli yang dilarang karena dianiaya, segala bentuk jual beli yang mengakibatkan penganiayaan hukumnya haram, seperti menjual anak binatang yang masih membutuhkan (bergantung) kepada induknya. Menjual binatang seperti ini, selain memisahkan anak dari induknya juga melakukan penganiayaan terhadap anak binatang ini.

f. Jual beli muhaqalah, yaitu menjual tanam-tanaman yang masih disawah atau diladang. Hal ini dilarang agama karena jual beli ini masih samar-samar (tidak jelas) dan mengandung tipuan.

g. Jual beli mukhadarah, yaitu menjual buah-buahan yang masih hijau, mangga yang masih kecil-kecil. Hal ini dilarang agama karena barang ini masih samar, dalam artian mungkin saja buah ini jatuh tertiup angin kencang atau layu sebelum diambil oleh pembelinya.

h. Jual beli mulamasah, yaitu jual beli secara sentuh-menyentuh. Misalnya, seseorang menyentuh sehelai kain dengan tangannya di waktu malam atau siang hari, maka orang yang menyentuh telah membeli kain ini. Hal ini dilarang dalam agama karena mengandung tipuan dan kemungkinan akan menimbulkan kerugian dari salah satu pihak yang bersangkutan.

i. Jual beli munabadzah, yaitu jual beli yang secara lempar-melempar. seperti seseorang berkata “lemparkan kepadaku apa yang ada padamu, nanti kulemparkan pula apa yang ada padaku” setelah terjadi lempar-melempar terjadilah jual beli mengapa hal ini dilarang dalam agama ini karena mengandung tipuan dan tidak ada ijab kabul.

j. Jual beli muzabanah, yaitu menjual buah yang basah dengan buah yang kering. Seperti menjual padi kering dengan bayaran padi basah sedang ukurannya dengan ditimbang (dikilo) sehingga akan merugikan pemilik padi kering.

2. Jual beli terlarang karena ada faktor lain yang merugikan pihak-pihak terkait
a. Jual beli dari orang yang masih dalam tawar-menawar
Apabila ada dua orang yang masih tawar menawar atas suatu barang, maka terlarang bagi orang lain membeli barang itu, sebelum pemnawar pertama diputuskan.

b. Jual beli dengan menghadang dagangan diluar kota/pasar. maksudnya adalah menguasai sebelum sampai ke pasar agar dapat membelinya dengan harga murah, sehingga ia kemudian menjual di pasar dengan harga pasar. Jual beli hal ini dilarang karena dapat kegiatan pasar, meskipun akadnya sah.

c. Membeli barang dengan memborong untuk ditimbun, kemudian akan dijual ketika harga naik karena kelangkaan barang tersebut. Jual beli seperti ini dilarang karena akan menyiksa pihak pembeli disebabkan mereka tidak memperoleh barang keperluannya saat harganya masih standar.

d. Jual beli barang rampasan atau curian. Jika si pembeli telah tahu bahwa barang yang akan dibeli adalah barang curian/rampasan, maka keduanya telah bekerja sama dalam perbuatan dosa oleh karenanya jual beli semacam ini dilarang.

Sekian dari informasi ahli mengenai Hikmah, Manfaat dan Bentuk-bentuk Jual Beli yang Dilarang, semoga tulisan dari informasi ahli terkait Hikmah, Manfaat dan Bentuk-bentuk Jual Beli yang Dilarang dapat bermanfaat bagi pembaca.

Sumber buku : dalam penulisan Fiqh Muamalah
– Ghazaly Rahman Abdul, dkk. 2015. Judul : Fiqh Muamalah. Penerbit Prenadamedia Group : Jakarta.

Gambar Hikmah Jual Beli, Manfaat dan Bentuk-Bentuk JUal Beli yang Dilarang

Hikmah Jual Beli, Manfaat dan Bentuk-bentuk Jual Beli yang Dilarang | ali samiun |