Pengertian Khiyar dan Macam-macam Khiyar

Loading...

Hai pembaca, kali ini informasi ahli akan membahas mengenai Pengertian Khiyar dan Macam-macam Khiyar.
Pengertian Khiyar, Menurut Hanafiyah para ahli fikih, khiyar adalah hak yang dimiliki salah satu atau seluruh pihak akad untuk melanjutkan akad atau membatalkannya baik karena alasan syar’i atau karena kesepakatan pihak-pihak akad. Atau lebih jelasnya khiyar, adalah “hak pilih bagi salah satu atau kedua belah pihak yang melaksanakan kontrak untuk meneruskan atau tidak meneruskan kontrak dengan mekanisme tertentu”.

Definisi tersebut sesuai dengan makna khiyar dalam bahasa Arab yang berarti pilihan seseorang terhadap sesuatu yang dipandangnya baik. Sesuai dengan definisi di atas, khiyar dibagi ke dalam dua bagian :
1. Hak khiyar yang timbul karena kesepakatan pihak akad (khiyar Iradiyah). Jadi, hak khiyar ini tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi terjadi karena keinginan pihak-pihak. Jika pihak-pihak akad tidak menginginkan dan tidak menyepakati ada khiyar, maka hak khiyar menjadi tidak ada, dan selanjutnya akad berlaku efektif dan tidak bisa dibatalkan. Khiyar yang termasuk dalam kategori ini adalah khiyar syart dan khiyar ta’yin.

2. Hak khiyar yang melekat dalam akad (khiyarat hukmiyah). Khiyar ini diadakan untuk memenuhi hajat (maslahat) pihak akad, maka khiyar ini ada tanda membutuhkan persetujuan pihak-pihak akad. Khiyar yang termasuk dalam kategori ini adalah khiyar ru’yah dan khiyar ‘aib.

Perlu ditegaskan bahwa khiyar itu terjadi setelah terjadi Ijab qabul, jika terjadi sebelum ijab qabul itu dinamakan dengan tawar-menawar (musawamah).
1. Khiyar Ru’yah
Khiyar Ru’yah adalah hak pilih bagi salah satu pihak yang berkontrak-pembeli misalnya untuk menyatakan bahwa kontrak yang dilakukan terhadap suatu objek yang belum ia lihat ketika kontrak berlangsung dilanjutkan atau tidak dilanjutkan. atau leboh jelasnya khiyar ru’yah yaitu hak yang dimiliki pihak akad yang melakukan transaksi pembelian barang, tetapi belum melihat barang yang dibelinya untuk membeli atau membatalkannya (tidak jadi membeli) saat membeli barangnya.
Jadi, dalam transaksi jual beli tersebut jika barang yang dilihatnya sesuai dengan pesanan dan kriteria yang disepakati saat jual beli, maka pembeli harus melanjutkan akadnya. Tetapi jika barang yang dilihatnya sesuai dengan pesanan dan kriteria yang disepakati saat jual beli, maka pembeli harus melanjutkan akadnya. Tetapi jika barang yang diterimanya itu tidak sesuai dengan yang dipesannya maka pembeli memiliki hak khiyar ru’yah yaitu hak untuk melanjutkan dan menerima cacat barang atau membatalkannya dan mengambil kembali harga yang telah diberikan kepada penjual.

Khiyar ini dimaksudkan agar pihak akad ridha dan setuju dengan objek akad tersebut karena objek akad (ma’ud alaih) yang tidak sesuai dengan yang disepakati menjadi cacat ridha. Adapun syarat-syarat Khiyar Ru’yah adalah sebagai berikut :
a. Menurut Mazhab Hanafiyah, hak khiyar ru’yah dimiliki oleh pihak akad secara otomatis tanpa membutuhkan kesepakatan di majlis akad dan hak khiyar ini tidak bisa dibatalkan. Jadi, jika seseorang akan memesan barang untuk dibelinya, maka secara otomatis si pembeli memiliki hak khiyar.
Berbeda dengan Malikiyah yang berpendapat bahwa hak khiyar ru’yah harus disyaratkan. Jiak tidak disyaratkan, maka pihak yang berkepentingan tidak memiliki hak khiyar.
b. Objek akad (ma’qud alaih) boleh berupa benda atau aset, tetapi tidak boleh berbentuk utang, seperti akad salam.
c. khiyar ru’yah berlaku dalam akad -akad yang memungkinkan fasakh (dibatalkan) ataupun infisakh (batal dengan sendirinya), seperti akad ba’i, ijarah, qismah, dan sulh.
Akad Ba’i menjadi batal dengan sendirinya jika pembeli mengembalikan barang yang dibelinya, akad ijarah menjadi infisakh jika penyewa mengembalikan barang yang disewanya, akad sulh dalam gugatan harta menjadi infisakh ketika harta sulh-nya dikembalikan qismah menjadi insfisakh ketika bagiannya dikembalikan.
d. Pihak akad belum melihat objek akad.
e. Hak khiyar dimiliki ketika sudah melihat barang (ma’qud alaih) setelah memastikan objek akad itu sesuai dengan pesanan atau tidak.

2. Khiyar ‘Aib
Setiap pembeli yang melakukan akad itu memiliki hak khiyar ketika melihat atau mengetahui cacat dalam barang tersebut. Yang dimaksud dengan khiyar ‘aib yaitu hak untuk membatalkan atau melangsungkan kontrak bagi kedua belah pihak yang berakad apabila terdapat suatu cacat pada objek kontrak, dan cacat itu tidak diketahui pemiliknya ketika kontrak berlangsung.

Misalnya seorang pembeli yang belum melihat barangnya, kemudian melihat cacat pada barang sebelum terjadi serah terima (taqabudh) dan pembeli belum mengetahui cacat tersebut di majlis akad dan ia tidak ridha dengan kondisi barang tersebut, maka ia memiliki hak khiyar ‘aib. Adapun syarat-syarat khiyar ‘aib adalah sebagai berikut :
a. Pihak yang memiliki hak khiyar tanpa harus disyaratkan dalam akad karena salah satu substansi akad akad adalah barang itu tidak boleh bercacat. Jika objek jual ada cacatnya, maka pembeli memiliki hak khiyar. Hak khiyar ini menjadi gugur, ketika penjual mensyaratkan kepada pembeli bahwa ia tidak bertanggung jawab terhadap setiap cacat yang terjadi pada mabi’ dan syarat ini disetujui oleh pembeli.
b. Cacat yang terjadi telah mengurangi harga obajek jual. yang menjadi standar dalam hal ini adalah tradisi pasar atau pendapat ahli (khabir).
c. Cacat itu ditemukan sebelum akad atau setelah akad (sebelum) barangnya diserahkan). Jika cacat itu itu terjadi setelah itu, maka khiyar ‘aib menjadi gugur.
d. Pembeli tidak mengetahui cacat barang, jika penjual memberitahukan cacat dalam barang tersebut, maka hak khiyar-nya menjadi gugur.

3. Khiyar Syart
Khiyar syart adalah maknanya, hak yang dimiliki salah satu atau seluruh pihak akad atau bagi orang lain untuk melanjutkan akad atau men-fasakh-nya dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan dalam akad. Adapun syarat-syarat Khiyar Syart adalah :

a. Menurut Jumhur, hak khiyar itu berlaku dengan disyaratkan dan disepakati dalam akad. Imam Malik memiliki pendapat yang lebih longgar, hak khiyar ini dengan disyaratkan atau karena kebiasaan masyarakat.
b. Khiyar Syart ini berlaku dalam akad-akad yang lazim yang bisa di fasakh dan tidak disyaratkan ada serah terima di majlis (seperti akad sharf dan salam), baik sifat luzum itu menjadi hak seluruh pihak akad atau sebagian pihak akad.
c. Para Fuqaha sepakat, bahwa khiyar ini harus dibatasi waktunya hingga waktu tertentu. Apabila jangka waktu khiyar tidak jelas atau tanpa batasan, maka khiyar menjadi tidak sah.
d. Abu Hanafiah membatasi waktu khiyar ini selama tiga hari, Hanabiah dan sebagian fuqaha Hanafiyah menentukan batasan disepakati oleh pihak-pihak akad, sedangkan Malikiyah menyerahkan kepada kesepakatan pihak akad dengan catatan tidak melebihi kebiasaan.

4. Khiyar Ta’yin
Khiyar Ta’yin adalah hak pilih bagi pembeli dalam menentukan barang yang menjadi obejk kontrak pada waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan. Khiyar ta’yin berlaku apabila objek kontrak hanya satu dari sekian banyak barang yang berbeda kualitas dan harganya dan satu pihak pembeli misalnya diberi hak menentukan mana yang akan dipilihnya.
Dengan kata lain khiyar ta’yin dibolehkan apabila identitas barang yang menjadi objek kontrak belum jelas. Oleh sebab itu, khiyar ta’yin berfungsi untuk menghindarkan agar kontrak tidak terjadi terhadap sesuatu yang tidak jelas (majhul). Adapun syarat-syarat khiyar ta’yin adalah :

a. Khiyar ta’yin harus disebutkan dan disetujui dalam akad.
b. Objek akad termasuk qimiyat, harga barangnya diketahui dengan jelas, khiyar ini ada manfaatnya, harga barang tidak boleh mahjul.
c. Masa waktu khiyar harus jelas. Abu Hanafah membatasi tiga hari, sedangkan dua muridnya menyerahkannya kepada kesepakatan kedua belah pihak.
d. Hak khiyar ini tidak boleh dipersyaratkan bagi penjual dan pembeli dalam waktu yang sama, karena ada faktor jahalah (tidak jelas) yang berpotensi menimbulkan perselisihan.

Ulama Hanfiyah yang membolehkan khiyar ta’yin, mengemukakan tiga syarat untuk sahnya khiyar ini, yaitu :
a. Pilihan dilakukan terhadap barang sejenis yang berbeda kualitas.
b. barang itu berbeda harganya
c. Tenggang waktu untuk khiyar al-ta’yin itu harus ditentukan. Khiyar ta’yin menurut ulama Hanfiyah hanya berlaku dalam transaksi yang bersifat pemindahan hak milik yang berupa benda dan mengikat bagi kedua belah pihak seperti jual beli.

5. Khiyar Majlis
Khiyar Majlis adalah hak pilih bagi kedua belah pihak yang berkontrak untuk meneruskan atau tidak meneruskan kontrak selama keduanya masih dalam tempat akad. Khiyar ini hanya berlaku dalam kontrak yang bersifat mengikat kedua belah pihak sperti jual beli dan sewa menyewa. Jadi apabila suatu kontrak telah dilaksanakan dan dipenuhi semua rukun syaratnya, serta kedua belah pihak sudah saling rela dan sepakat tidak menggunakan hak khiyar, maka kontrak telah sah dan tidak ada lagi pilihan di tempat itu untuk membatalkan kontrak. Menurut ulama Hanfiyah dan Malikiyah sesensi yang penting adalah selesai atau tidaknya akad jual beli bukan persoalan telah terpisahnya orang-orang dari tempat akad.

Sekian dari informasi mengenai tulisan Pengertian Khiyar dan Macam-macam Khiyar, semoga tulisan dari Informasi ahli tentang Pengertian kHiyar dan Macam-macam Khiyar dapat bermanfaat bagi pembaca.

Sumber Tulisan : Fiqh Muamalah (Dinamika Teori Akad dan Implementasinya dalam Ekonomi Syariah

Sahroni Oni, Dkk. 2016. Fiqh Muamalah (Dinamika Teori Akad dan Implementasinya dalam Ekonomi Syariah. Penerbit :PT RajaGRafindo Persada : Jakarta.

Pengertian KHiyar dan Macam-macam Khiyar