Pengertian Syirkah, Rukun, Syarat dan Macam-macam Syirkah

Loading...

Hai Pembaca, kali ini informasi ahli akan membahas Pengertian Syirkah, Rukun, Syarat dan Macam-macam Syirkah.

Pengertian Syirkah, secara bahasa kata Syirkah (kerja sama) berarti al-ikhtilath (percampuran) dan persekutuan. Adapun yang dimaksud dengan percampuran disini yaitu seseorang mencampurkan hartanya dengan harta orang lain sehingga sulit untuk dibedakan.

Adapun menurut Istilah ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh ulama yaitu :
1. Menurut Ulama Hanifah
“Akad antara dua orang yang berserikat pada pokok harta (modal) dan keuntungan”.

2. Menurut Ulama Malikiyah
“Izin untuk bertindak secara hukum bagi dua orang yang bekerjasama terhadap harta mereka”.

3. Menurut Hasby as-Shiddiqie
“Akad yang berlaku antara dua orang atau lebih untuk saling menolong dalam suatu usaha dan membagi keuntungannya.

Jika diperhatikan dari tiga definisi diatas sesungguhnya perbedaan hanya bersifat redaksional, namun secara esensial prisipnya sama yaitu bentuk kerja sama antara dua orang atau lebih dalam sebuah usaha dan konsekuensi keuntungan dan kerugiannya ditanggung secara bersama. Syirkah (kerja sama) memiliki kedudukan yang sangat kuat dalam Islam, sebab keberadaannya diperkuat oleh AL-qur’an, hadis, dan Ijma ulama dan secara Ijma sumber hukum syirkah ulama sepakat yaitu boleh.

Rukun dan Syarat Syirkah
Rukun syirkah adalah sesuatu yang harus ada ketika syirkah itu berlangsung. Ada perbedaan pendapat terkait dengan rukun SYirkah. Menurut Ulama Hanafiyah, bahwa rukun syirkah hanya ada dua yaitu Ijab (ungkapan penawaran melakukan perserikatan) dan Kabul (ungkapan penerimaan perserikatan) istilah Ijab dan Kabul sering disebut sebagai serah terima. Jika ada yang menambahkan selain Ijab dan Kabul dalam rukun Syirkah seperti adanya seperti adanya kedua orang yang berakad dan objek akad menurut Hanafiyah itu bukan termasuk rukun tetapi termasuk syarat. Adapun menurut Abdurrahman al-Jaziri, rukun syirkah meliputi dua orang yang berserikat, shigat, objek akad syirkah baik itu berupa harta maupun kerja sedangkan adapun menurut Jumhur Ulama sama dengan apa yang dikemukakanoleh Jaziri di atas.

Jika dikaitkan dengan pengertian syirkah, rukun yang sesungguhnya maka sebenarnya pendapat al-Jaziri atau jumhur ulama lebih tepat sebab didalamnya terdapat unsur-unsur penting bagi terlaksananya syirkah yaitu dua orang yang berserikat dan objek syirkah. Adapun pendapat Hanafiyah yang membatasi rukun syirkah pada ijab dan kabul saja itu masih bersifat umum karena ijab dan kabul berlaku untuk semua transaksi.

Adapun syarat syirkah merupakan perkara penting yang harus ada sebelum dilaksanakan syirkah. Jika syarat tidak terwujud maka transaksi syirkah batal.
Menurut Hanafiyah Syarat-syarat syirkah terbagi menjadi empat bagian :
1. Syarat yang berkaitan dengan semua bentuk syirkah baik harta, maupun lainnya. Dalam hal ini, terdapat dua syarat: Pertama, berkaitan dengan benda yang akadkan (ditransaksikan) harus berupa benda yang diterima sebagai perwakilan. Kedua, berkaitan dengan keuntungan, pembagiannya harus jelas dan disepakati oleh kedua belah pihak, misalnya setengah, dan sepertiga.

2.Syarat yang terkait dengan harta (mal). Bahwasanya Dalam hal ini ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu pertama modal yang dijadikan objek akad syirkah adalah dari alat pembayaran yang sah (nuqud) seperti riyal, rupiah, dan dollar. Kedua, adanya pokok harta (modal) ketika akad berlangsung baik jumlahnya sama atau berbeda.

3. Syarat yang terkait dengan syirkah mufawadhah yaitu (a) modal pokok harus sama, (b) Orang yang ber-syirkah yaitu ahli kafalah, (c) Objek akad disyaratkan syirkah umum, yaitu semua macam jual beli dan perdagangan.

Selain syarat-syarat di atas ada syarat lain yang perlu dipenuhi dalam syirkah. Menurut Idris Ahmad, syarat tersebut meliputi:
1. Mengukapkan kata yang menunjukkan izin anggota yang berserikat kepada pihak yang akan mengendalikan harta itu.

2. Anggota serikat saling memercayai. Sebab, masing-masing mereka merupakan wakil yang lainnya.

3. Mencampurkan harta sehingga tidak dapat dibedakan hak masing-masing, baik berbentuk mata uang atau yang lainnya.

Malikiyah, menambahkan bahwa orang yang melakukan akad syirkah disyaratkan merdeka, baligh, dan pintar.
Macam-macam Syirkah, para ulama membagi syirkah menjadi dua macam :
1. Syirkah amlak (perserikatan dan kepemilikan)
Menurut Sayyid Sabiq, yang dimaksud dengan syirkah amlak adalah bila dari satu orang memiliki suatu jenis barang tanpa akad baik bersifat ikhtiari atau jabari. Artinya, barang tersebut dimiliki oleh dua orang atau lebih tanpa didahului oleh akad. hak kepemilikan tanpa akad itu dapat disebabkan oleh dua sebab:

a. Ikhtiari atau disebut syirkah amlak ikhtiari, yaitu perserikatan yang muncul akibat tindakan hukum orang yang berserikat, seperti dua orang sepakat membeli suatu suatu barang atau keduanya menerima hibah, wasiat, atau wakaf dari orang lain maka benda-benda ini menjadi harta serikat (bersama) bagi mereka berdua.

b. Jabari (syirkah untuk jabari) yaitu perserikatan yang muncul secara paksa bukan keinginan orang yang berserikat artinya hak milik bagi mereka berdua atau lebih tanpa dikehendaki oleh mereka. Seperti harta warisan yang mereka terima dari bapaknya yang telah wafat. Harta warisan ini menjadi hak milik bersama bagi mereka yang memiliki hak warisan.

Hukum Syirkah Amlahk, menurut para fuqaha hukum kepemilikan syirkah amlak disesuaikan dengan hak masing-masing yaitu bersifat sendiri-sendiri secara hukum. Artinya seseorangtidak berhak untuk menggunakan atau menguasai hak milik mitranya tanpa izin dari yang bersangkutan. Kerena masing-masing mempunyai hak yang sama, atau dengan istilah Sayyid Sabiq seakan-akan mereka itu orang asing.

2. Syirkah al-Uqud (perserikatan berdasarkan aqad)
Yang dimaksud dengan Syirkah Uqud adalah, dua orang atau lebih melakukan akad untuk bekerja sama (berserikat) dalam modal dan keuntungan. Artinya kerja sama ini didahului oleh transaksi dalam penanaman modal dan kesepakatan pembagian keuntungannya.

Sekian dari Informasi Ahli mengenai tulisan Pengertian Syirkah, Rukun, Syarat dan Macam-macam Syirkah, semoga tulisan tentang Pengertian Syirkah, Rukun, Syarat dan Macam-macam Syirkah dapat bermanfaat bagi pembaca.

Sumber buku : dalam penulisan Fiqh Muamalah
– Ghazaly Rahman Abdul, dkk. 2015. Judul : Fiqh Muamalah. Penerbit Prenadamedia Group : Jakarta

Gambar Pengertian Syirkah, Rukun, Syarat dan Macam-macam Syirkah