Risiko Berinvestasi Di Pasar Modal Syariah Dan Strategi Pengembangan Pasar Modal Syariah

Loading...

Hai pembaca kali ini informasi ahli, akan membahas mengenai Risiko Berinvestasi Di Pasar Modal Syariah Dan Strategi Pengembangan Pasar Modal Syariah.

Risiko berinvestasi di Pasar modal, Pada prinsipnya berinvestasi dipasar modal semata-mata berkaitan dengan kemungkinan terjadinya fluktuasi harga (price volatility). Adapun risiko-risiko yang mungkin apat dihadapi investor tersebut antara lain sebagai berikut:

1. Risiko Daya Beli (purchasing power risk)
Investor mencari atau memilih jeni sinvestasi yang memberikan keuntungan yang jumlahnya sekurang-kurangnya sama dengan investasi yang dilakukan sebelumnya. Disamping itu, investor mengharapkan memperoleh pendapatan atau capital gain dalam waktu yang tidak lama. Akan tetapi, apabila investasi tersebut memerlukan waktu 10 tahun untuk mencapai 60% keuntungan sementara tingkat inflasi selama jangka waktu tersebut telah naik melebihi 100%, maka investor jelas akan menerima keuntungan yang daya belinya jauh lebih kecil dibandingkan dengan keuntungan yang dapat diperoleh semula. Oleh karena itu, risiko daya beli ini berkaitan dengan kemungkinan terjadinya inflasi yang menyebabkan nilai riil pendapatan akan lebih kecil.

2. Risiko Bisnis (business risk)
Risiko bisnis merupakan suatu risiko menurunnya kemampuan memperoleh laba yang ada gilirannya akan mengurangi pula kemampuan perusahaan (emiten) membayar imbalan (bunga dalam konvensional) atau dividen.

3. Risiko Tingkat Bunga (interest rate risk)
Ditengah-tengah sistem keuangan global yang masih dikelilingi oleh sistem bunga saat ini, naiknya tingkat bunga biasanya akan menekan harga jenis surat-surat berharga yang berpendapatan tetap termasuk harga-harga saham. Biasanya kenaikan tingkat bunga berjalan tidak searah dengan harga-harga instrumen pasar modal, risiko naiknya tingkat bunga misalnya jelas akan menurunkan harga-harga pasar modal. Oleh karena itu, investor dipasar modal syariah harus memposisikan dirinya sebagai rekan bagi perusahaan yang siap berbagi laba dan rugi.

4. Risiko Pasar (market risk)
Apabila pasar bergairah umumnya hampir semua harga saham dibursa efek mengalami kenaikan, sebaliknya apabila pasar lesu saham-saham akan otomotis pula mengalami penurunan. Perubahan psikologi pasar dapat menyebabkan harga-harga surat berharga anjlok terlepas dari adanya perubahan fundamental atas kemampuan perolehan laba perusahaan.

5. Risiko Likuiditas (liquidity rish)
Risiko ini berkaitan dengan kemampuan suatu surat berharga untuk dapat segera diperjualbelikan dengan tanpa mengalami kerugian yang berarti. 

Strategi Pengembangan Pasar Modal Syariah, dalam rangka mengakomodasi kebutuhan masyarakat yang memiliki motif investasi yang didasari prinsip syariah dan dilandasi akan keyakinan potensi berkembangnya pasar modal syariah yang akan menjadi salah satu pilar penunjang industri pasar modal syariah yang akan menjadi salah satu pilar penunjang industri pasar modal Indonesia, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), Departemen Keungan Republik Indonesia (RI) telah menyusun Master Plam Pasar Modal Indonesia (2005-2009). Di dalamnya terdapat dua strategi utama pengembangan pasar modal berbasis syariah, yaitu :

1. Penyusunan kerangka hukum yang dapat memfasilitasi pengembangan pasar modal berbasis syariah dan mendorong pengembangannya.
2. Mendorong pengembangan serta penciptaan produk-produk pasar modal berbasis syariah. Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Danareksa Investment Management (DIM) pada tahun 2000 telah meluncurkan Jakarta Islamic Index (JII) yang terdiri dari 30 saham yang sesuai dengan prinsip syariah.

Selanjutnya dua strategi uatam tersebut dijabarkan Bapepam-LK dalam implementasi strategi yaitu:
1. Mengatur penerapan prinsip syariah.
2. Menyusun standar akuntansi.
3. Melakukan sosialisasi penerapan prinsip syariah di pasar modal dalam rangka peningkatan pengetahuan dan pemahaman pelaku pasar.
4. Menciptkan produk pasar modal berbasis syariah yang baru.
5. Melakukan kerja sama pengkajian pengembangan produk pasar modal syariah antara regulator, DSN-MUI, dan pelaku pasar.

Sehubungan dengan pengembangan pasar modal berbasis syariah tersebut, pada tanggal 23 November 2006, Ketua Bapepam-LK Departemen Keuangan RI telah menerbitkan dua buah peraturan terkait pasar modal syariah, yaitu : (1) Peraturan No. IX.A.13 tentang penerbitan efek syariah, (2) Peraturan No. IX.A.14 tentang akad-akad yang digunakan dalam penerbitan efek syariah di pasar modal. Pada tahun berikutnya juga akan disusun ketentuan mengenai standar akuntansi dan sertifikasi profesi yang terkait dengan pasar modal syariah. Untuk pengembangan produk, Bapepam-LK telah bekerja sama dengan Dewan Syariah Nasional sehingga emiten tidak perlu lagi mendapatkan persetujuan DSN dalam proses penerbitan efek syariah. Disamping itu, untuk mendorong pengembangan produk berbasis syariah terutama untuk meberikan kesempatan yang lebih luas dalam berinvestasi, Bapepam-LK juga menerbitkan Daftar Efek Syariah (DES) secara periodik. Harus diakui jika dilihat dari segi aspek regulasinya, pasar modal syariah masih akan terus mengalami perkembangan.

Sekian dari informasi ahli mengenai Risiko Berinvestasi Di Pasar Modal Syariah Dan Strategi Pengembangan Pasar Modal Syariah, semoga tulisan dari informasi ahli terkait dengan Risiko Berinvestasi Di Pasar Modal Syariah Dan Strategi Pengembangan Pasar Modal Syariah dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Sumber Buku : Bank dan Lembaga Keuangan Syariah
– Soemitra Andri, 2014. Bank Dan Lembaga Keuangan Syariah. Kencana Prenadamedi Group : Jakarta.

Risiko Berinvestasi Di Pasar Modal Syariah Dan Strategi Pengembangan Pasar Modal Syariah