Pengertian Asuransi Syariah, Manfaat dan Risiko Asuransi Syariah

Loading...

Hai pembaca kali ini informasiahli akan memberikan informasi mengenai Pengertian Asuransi Syariah, Manfaat dan Risiko Asuransi Syariah.

Pengertian Asuransi Syariah, Istilah asuransi dalam perkembangannya di Indonesia berasal dari kata Belanda assurantie yang kemudian menjadi “asuransi” dalam bahasa Indonesia. Namun dalam istilah assurantie itu sendiri sebenarnya bukanlah istilah asli bahasa Belanda akan tetapi, berasal dari bahasa latin, yaitu assecurare yang berarti “meyakinkan orang” kata ini kemudian dikenal dalam bahasa Perancis sebagai assurance. Banyak pendapat mengenai pengertian asuransi antara lain :

1. Asuransi dapat pula diartikan sebagai suatu persetujuan dimana penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung dengan mendapat premi, untuk mengganti kerugian, atau tidak diporlehnya keuntungan yang diharapkan, yang dapat diderita karena peristiwa yang tidak diketahui lebih dahulu.

2. Secara umum pengertian asuransi adalah perjanjian antara penanggung (perusahaan asuransi) dengan tertanggung (peserta asuransi) yang dengan meneriman premi dari tertanggung penanggung berjanji akan membayar sejumlah pertanggungan manakala tertanggung:
a. Mengalami kerugian, kerusakan atau kehilangan atas barang/kepentingan yang diasuransikan karena peristiwa tidak pasti dan tanpa kesengajaan.
b. Didasarkan atas hidup atau matinya seseorang

3. Asuransi adalah suatu kemauan untuk menempatkan kerugian-kerugian kecil yang sudah pasti sebagai pengganti kerugian-kerugian besar yang belum pasti.

4. Asuransi atau pertanggungan menurut UU No.2 Tahun 1992 tentan Usaha Peransuransian adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengingatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan pergantian kepada tertanggung karena kerugian, atau kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan atau keuntungan yang diharapkan atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin yang mungkin akan diderita tertanggung yaitu timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.

5. Asuransi dalam sudut pandang ekonomi merupakan metode untuk mengurangi risiko dengan jalan memindahkan dan mengombinasikan ketidakpastian akan adanya kerugian keuangan. Menurut sudut pandang bisnis, asuransi adalah sebuah perusahaan yang usaha utamanya menerima/menjual jasa, pemindahan risiko dari pihak lain, dan memperoleh keuntungan dengan berbagai resiko diantara sejumlah nasabahnya. dari sudut pandan sosial asuransi sebagai sebuah organisasi sosial yang menerima pemindahan risiko dan mengumpulkan dana dari anggota-anggotanya guna membayar kerugian yang mungkin terjadi pada masing-masing anggota asuransi tersebut.

6. Asuransi syariah dalam fatwa DSN MUI adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan/atau Tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad yang sesuai dengan syariah. Akad yang sesuai dengan syariah yang dimaksud adalah yang tidak mengandung gharar (penipuan), maysir (perjudian), riba, zhulm (penganiayaan), risywah (suap), barang haram dan maksiat.

Asuransi syariah berbeda dengan asuransi konvensioanl, pada asuransi syariah setiap peserta sejak awal bermaksud saling menolong dan melindungi satu dengan yang lain dengan menyisihkan dananya sebagai iuran kewajiban yang disebut Tabarru’. Jadi sistem ini tidak menerima pengalihan risiko dimana tertanggung harus membayar premi, tetapi lebih merupakan pembagian risiko di mana para peserta saling menanggung kemudian akad yang digunakan dalam asuransi syariah harus selaras dalam hukum Islam.

Beberapa istilah pokok yang harus dipahami untuk bisa mengenal usaha peransuransian syariah antara lain:
1. Peserta Asuransi : adalah pihak pertama yang berbagi risiko dan mempunyai hak untuk menerima sejumlah uang dari perusahaan asuransi sebagai ganti rugi atas terjadinya suatu risiko sebagaimana tercantum dalam perjanjian. Dalam asuransi syariah peserta asuransi minimal dalam keadaan tertentu memiliki hak yang sama dengan perusahaan termasuk dalam hak perolehan keuntungan dari dana yang diasuransikan perusahaan asuransi konvensional disebut tertanggung yang melimpahkan risiko kepada perusahaan asuransi sebagai penanggung risiko kepada perusahaan asuransi sebagai penanggung risiko.

2. Perusahaan asuransi : sebagai pengelola risk sharing. Dalam asuransi syariah perusahaan asuransi adalah pengelola dana yang berhak memperoleh imbalan tertentu dalam bentuk fee dan/atau bagi hasil pengelolaan dana asuransi dapat dilakukan atas dasar akad wakalah bil ujrah, mudharabah dan/atau mudharabah musyarakah. Sedangkan dalam asuransi konvensional pengelola disebut penanggung karena menanggung risiko tertanggung. Akad yang digunakan adalah akad jual beli di mana perusahaan asuransi menjadi pemilik penuh dana yang disetor.

3. Al-kafalah : suatu kepentingan yang menjadi dasar berlakunya suatu pertanggungan asuransi, yaitu adanya kepentingan terhadap kepentingan seseorang, benda atau terhadap tangung gugat kepada pihak lain. Objek asuransi dapat berupa benda dan jasa, jiwa dan raga, kesehatan manusia, tanggung jawab hukum serta semua kepentingan lainnya yang dapat hilang, rusak, rugi dan/ atau berkurag nilainya.

4. Underwriting : yaitu proses penafsiran jangka hidup seorang calon peserta yang dikaitkan dengan besarnya risiko untuk menentuksn besarnyan premi. Atau dengan kata lain, merupakan proses seleksi yang dilakukan oleh perusahaan asuransi jiwa untuk menentukan tingkat risiko yang akan diterima dan menentukan besarnya premi yang akan dibayar. Penentuan dan pengklasifikasian risiko calon peserta terkait dengan besar kecilnya risiko untuk menentukan diterima atau ditolaknya permohonan calon pemegang polis (peserta).

5. Polis Asuransi : yaitu surat perjanjian antara pihak yang menjadi peserta asuransi dengan prusahaan asuransi, polis asuransi sendiri merupakan bukti autentik berupa akta mengenai adanya perjanjian asuransi.

6. Premi Asuransi : sejumlah uang yang harus dibayarkan peserta asuransi untuk mengikat kewajiban pengelola dalam membayar ganti rugi atas terjadinya risiko. Dalam asuransi syariah premi disebut dengan istilah kontribusi yaitu meupakan dana peserta secara bersama-sama setelah dikurangi fee pengelola. Umumnya premi asuransi erbagi 3 yaitu premi tabungan, premi Tabarru’, dan premi biaya. Dalam asuransi konvensional premi merupakan harga yang dibayar tertanggung untuk membeli asuransi kepada penanggung yang telah mengambil alih risiko tertanggung oleh karenanya premi menjadi pendapatan penuh perusahaan.

7. Jangka waktu pertanggungan yang menunjukkan lamanya suatu perjanjian asuransi berlaku, masa pertanggungan akan habis saat jangka waktu yang ditetapkan habis.

8. Tanggal dikeluarkan polis adalah tanggal yang tercantum pada polis saat dikeluarkan atau diterbitkan oleh perusahaan asuransi.

9. Manfaat asuransi atau jumlah uang pertanggungan merupakan jumlah uang yang dinyatakan dalam polis sebagai proteksimaksimum yang akan dibayarkan perusahaan asuransi kepada peserta sebagai ganti rugi atas terjadinya suatu risiko.

10. Agen asuransi adalah seseorang atau badan hukum yang kegiatannya memberikan jasa dalam memasarkan jasa asuransi untuk dan atas nama perusahaan asuransi.

11. Aktuaria adalah pegawai asuransi yang bertugas utama melaksanakan perhitungan keuangan perusahaan.

12. Reasuransi pada prinsipnya adalah pertanggungan ulang atau pertanggungan yang diasuransikan atau sering disebut asuransi dari asuransi. Reasuransi merupakan suatu sistem penyebaran risiko di mana penanggungan yang ditutupnya kepada penanggung yang lain.

Manfaat Dan Risiko Asuransi
1. Manfaat Asuransi Syariah, asuransi pada dasarnya dapat memberi manfaat bagi para peserta asuransi antara lain:
a. Rasa aman dan perlindungan. Peserta asuransi berhak memperoleh klaim (hak peserta asuransi) yang wajib diberikan oleh perusahaan asuransi sesuai dengan kesepakatan dalam akad. Klaim tersebut akan menghindarkan peserta asuransi dari kerugian yang mungkin timbul.
b. Pendistribusian biaya dan manfaat yang lebih adil. Semakin besar kemungkinan terjadinya suatu kerugian dan semakin besar kerugian yang mungkin ditimbulkannya makin besar pula premi pertanggungannya. Untuk menentukan besarnya premi perusahaan asuransi syariah dapat menggunakan rujukan, misalnya tabel mortalita untuk asuransi jiwa dan tabel morbidita untuk asuransi kesehatan, dengan syarat tidak memasukkan unsur riba dalam perhitungannya.
c. Berfungsi sebagai tabungan. Kepemilikan dana pada asuransi syariah merupakan hak peserta. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya secara syariah. Jika pada masa kontrak peserta tidak dapat melanjutkan pembayaran premi dan ingin mengundurkan diri sebelum masa reversing, period, maka dana yang dimasukkan dapat diambil kembali, kecuali sebagian dana kecil yang telah diminatkan untuk Tabarru’ (dihibahkan).
d. Alat penyebaran risiko. Dalam asuransi syariah risiko dibagi bersama para peserta sebagai bentuk salng tolong-menolong dan membantu diantara mereka.
e. Membantu meningkatkan kegiatan usaha karena perusahaan asuransi akan melakukan investasi sesuai dengan syariah atau suatu bidang usaha tertentu.

2. Risiko, risiko dalam industri peransuransian diartikan sebagai ketidakpastian dari kerugian finansial atau kemungkinan terjadi kerugian Risiko selalu melibatkan dua istilah, yaitu ketidakpastian dan peluang kerugian finansial. Jenis-jenis risiko yang umum dikenal dalam usaha peransuransian antara lain:
a. Risiko Murni, bahwa ada ketidakpastian terjadi ya suatu kerugian atau dengan kata lain hanya ada peluang merugi dan bukan suatu peluang keuntungan. Risiko murni adalah suatu risiko yang bila terjadi akan memberikan dan apabila tidak terjadi, tidak menimbulkan kerugian akan tetapi juga tidak memberikan keuntungan.

b. Risiko Investasi, yaitu risiko yang berkaitan dengan terjadinya dua kemungkinan yaitu peluang mengalami kerugian finansial atau peluang memperoleh keuntungan. Perbedaan risiko murni dan risiko investasi adalah dalam risiko murni kerugian terjadi atau tidak terjadi sama sekali, Sedangkan dalam risiko investasi kemungkinan terjadi kerugian atau keuntungan.

c. Risiko individu

d. Risiko tanggung gugat, adalah risiko yang mungkin dialami sebagai tanggung jawab akibat merugikan pihak lain. Jika seseorang menanggung kerugian orang lain, maka dia harus membayarnya sehingga hal ini merupakan kerugian finansial.

3. Risiko Yang Diasurangsikan (Insurable Risk), Pihak yang dapat mengasuransikan suatu benda adalah pihak yang memiliki Insurable Risk lalu persolan selanjutnya risiko apa saja yang dapat diasuransikan. Insurable Risk merupakan semua risiko yang dapat diasuransikan, ada beberapa karakteristik risiki yang dapat diasuransikan yang biasanya disingkat dengan LURCH yaitu:
a. Loss-Unexpected (kerugian tidak terduga), risiko yang dapat diasuransikan harus berkaitan dengan kemungkinan terjadinya kerugian (loss). Kerugian tersebut ada yang dapat diukur dan dipastikan waktu dan tempatnya dan ada yang tidak, oleh karena itu terjadinya kerugian haruslah merupakan kecelakaan atau karena diluar kotrol atau kemampuan seseorang dan bukan hal yang dapat direncanakan.
b. Reasonable (beralasan), risiko yang diasuransikan adalah risiko yang memiliki nilai.
c. Catastropic (kemungkinan bencana besar), risiko yang diasuransikan haruslah tidak akan menimbulkan suatu kemungkinan rugi yang sangat besar yaitu jika sebagian besar pertanggungan kemungkinan akan mengalami kerugian pada waktu yang bersamaan yang disebabkan oleh suatu bencana.
d. Homogeneous (sama/serupa), barang yang diasuransikan haruslah homogen dalam arti ada banyak barang yang serupa atau sejenis. Oleh karena itu, jika ingin mengetahui besarnya kemungkinan kerugian suatu benda, maka harus ada jenis yang serupa sebagai bahan perbandingan untuk memperkirakan kerugian yang mungkin terjadi tersebut.

4. Cara mengelola Risiko, dalam menangani risiko ini sekurang-kurangnya ada 5 hal yang dapat dilakukan antara lain:
a. Menghindari risiko, untuk menghindari risiko jangan melakukan kegiatan apa pun yang memungkinkan dapat menimbulkan kerugian.
b. Mengurangi risiko, yaitu sedapat mungkin memperkecil kemungkinan terjadinya kerugian. Mengurangi risiko ini dapat dilakukan dengan dua cara, pertama mengurangi peluang terjadinya kerugian, kedua mengurangi jumlah kerugian yang mugkin terjadi.
c. Retensi risiko, berarti kita tidak melakukan apapun terhadap risiko resebut.
d. Membagi risiko, konsep ini merupakan konsep yang diterapkan dalam asuransi syariah, terkadang suatu risiko tidak dapat dihindari dan rtensi akan memberi peluang kerugian yang amat besar, maka dapat dilakukan pembagian kerugian
e. Mentransfer risiko, merupakan risiko konsep usaha asuransi kerugian konvensional, yaitu berarti memindahkan risiko kerugian kepada pihak lain, biasanya kepada perusahaan asuransi yang bersedia dan mampu memikul beban risiko. Pengalihan atau pemindahan tersebut dapat berupa risiko investasi maupun risiko murni.

Sekian dari informasi ahli mengenai Pengertian Asuransi Syariah, Manfaat Dan Risiko Asuransi Syariah, semoga tulisan dari informasi ahli terkait Pengertian Asuransi Syariah, Manfaat Dan Risiko Asuransi Syariah dapat bermanfaat bagi pembaca.

Sumber Buku : Bank dan Lembaga Keuangan Syariah
– Soemitra Andri, 2014. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah. Kencana Prenadamedia Group : Jakarta.

Pengertian Asuransi Syariah, Manfaat Dan Risiko Asuransi Syariah