Signifikansi Perdagangan Dan Alat Pertukaran Pada Awal Pemerintahan Islam

Loading...
Hai pembaca kali ini informasi ahli, akan memberikan informasi mengenai Signifikansi Perdagangan Dan Alat Pertukaran Pada Awal Pemerintahan Islam
 
Sebelum islam hadir sebagai sebuah kekuatan politik, kondisi geografis daerah hijaz sangat strategis dan menguntunkan karena menjadi rute perdagangan antara Persia dan roma serta daerah jajahan keduanya, seperti syam (suriah), Etopia dan  Yaman. Di samping itu, selama berabad-abad wilayah selatan dan timur jazirah arab juga menjadi rute perdagangan antara roma dan india yang terkenal sebagai rute perdagangan selatan. Hal ini menimbulkan munculnya pedagang-pedagang musiman di sepanjang rute ini (Yaman, Hijaz dan Syam terutaman di San’a diibukota Yaman, Yastrib dan Makkah), para khalifah dagang memperoleh keuntungan dan dapat melakukan perdagangan. Perdagangan merupakan dasar perekonomian di jazirah arab sebelum islam datang, prasyarat untuk melakukan transaksi adalah alat pembayaran yang dapat dipercaya. Jazirah Arabia dan wilayah-wilayah tetangganya berada langsung dibawah kekuaasaan Persia dan Roma atau minimal berada dalam pengaruh keduanya. Mata uang yang dipergunakan Negara-negara tersebut adalah dirham dan dinar. Dengan kian kuatnya politik kedua Negara tersebut, alat pembayarannya pun makin dipercaya diwilayah kekuasaannya. Karena faktor itulah, bangsa Persia dan Romawi menjadi mitra dagang utama orang-orang Arab.
 
Demikian pula halnya dengan rute perdagangan lain yang melewati wilayah utara Jazirah Arab. Dalam perkembangan yang penting seiring  dengan mulai sepinya rute perdagangan sebelumnya, sejak saat itu barang-barang perdagangan dari India dikirim ke Oman dan dari sana dibawa melalui jalur darat melintasi wilayah utara Jazirah Arab dan Syia menuju Roma. Di sepanjang rute perdagangan ini, pasar-pasar musiman didirkan  dan pemerintahan diwilayah setempat banyak bergantung pada berbagai aktivitas perdagangan ini. Dalam wilayah singkat, kota Lakm, al Kindah dan Ghasan (terutama Hira, Doumatul-Jandal dan Basrah) menjadi pusat perdagangan bagi para kafilah dagang yang melewati jalur perdagangan wilayah ini.  
 
Disamping rute perdagangan Selatan dan Utara, ada rute ketiga yang terletak diantara Yaman dan Syam yang dibangun pada saat Hasyim mengambil alih kepemimpinan bangsa Quraisy. Perdagangan melalui rute ini merupakan hasil usaha Hasyim untuk mendapatkan perjanjian dan izin dari raja-raja Roma, Persia, Ethiopia dan Yaman bagi suku Quraisy. Selanjutnya, perdagangan melalu rute ini berkembangn dan suku Quraisy mendapatkan banyak keuntungan dan kekayaan. Makkah, sekali lagi, berperan penting sebagai pusat perdagangankarena Ka’bah terletak disana dan suku-suku di Arab datang setahun sekali untuk menunaikan ibadah haji disana, sebelum melaksankan ibadah haji, suku-suku itu mempunyai kesempatan untuk berdagang. Sebagi tempat suci, Ka’bah memberikan keamanan yang penting bagi usaha perdagangan. Perang dan pertumpahan darah dilarang selama empat bulan tertentu setiap tahunnya, dan secara kebetulan ibadah haji berlangsung pada periode yang sama.
 
Situasi ini memberikan jaminan yang pasti bagi para khalifah dagang, baik dalam perjalanannya menuju Makkah maupun perjalanan pulang ke tujuannya masing-masing. Tingkat keamanan dikota Makkah semakin tinggi , bahkan melebihi tingkat keamanan dimasa-masa sebelumnya, menyusul dilakukannya perjanjian Hilf al-fudhul antara suku-suku Arab. Dengan suasana yang kondusif ini, perdagangan menajadi aktivitas yang paling penting dalam perekonomian bangsa-bangsa Arab.
 
Karena kondisi iklimnya, sektor pertanian tidak mungkin dikembangkan di Jazirah Arab, kecuali di Yaman. Hanya beberapa Oasis di Hijaz dan bagiantengah jazirah Arab, termasuk Yastrib, terdapat kegiatan pertanian dalam jumlah yang terbatas. Jumlah tenaga kerja yang terampil dan para pedagang semakin lama semakin terbatas. Dengan alasan ini, suku-suku Arab yang tidak bermigrasi dan tidak secara konstan berperang dan melakukan perjalanan, kemudian menukarkan atau memberikan jasa-jasa komersial kepada para kafilah dagang tersebut.
 
Hal tersebut menjadi bukti bahwa perdagangan merupakan dasar perekonomian di Jazirah Arabia sebelum Islam datang. Prasyarat untuk melakukan transaksi adalah adanya alat pembayaran yang dapat dipercaya, seperti yang telah dijelaskan di atas Jazirah Arabia dan wilayah-wilayah tetangganya berada langsung di bawah Persia dan Roma atau minimal berada dalam pengaruh keduanya. Mata uang yang dipergunakan Negara-negara tersebut adalah dirham dan dinar. Dalam transaksi bisnis di Arabia, kedua jenis mata uang ini juga diterima. Dengan kian kuatnya politik kedua Negara tersebut, alat pembayarannya pun makin dipercaya di wilayah yang berada di bawah pengaruh kekuasaannya. Karena factor itulah, bangsa Persia dan bangsa Romasi menjadi mitra dagang utama orang-orang Arab.
 
Koin dirham dan dinar mempunyai berat yang tetap dan memiliki kandunga emas yang tetap. Akan tetapi pada masa-masa selanjutnya (dinasti Umayyah dan Abbasiyah) beratnya berubah demikian juga di Persia sendiri, Secara alamiah transaksi yang berada di daerah kekaisaran Romawi menggunakan dinar sebagai alat tukar, sedangkan di kekaisaran Persia menggunakan dirham. Ekspansi Persia dan Romawi menyebabkan ini menyebabkan pertukaran uang meningkat. Bahkan pada masa Ali, dinar dan dirham merupakan satu-satunya mata uang yang dipergunakan. Pada masa sesudah Islam, kandungan perak koin-koin dirhm berbeda antara wilayah yang satu dan lainnya, namun pada periode awal Islam sudah tetap. Pada saat ini, jumlah zakat emas dan perak seperti yang disebutkan dalam Alquran didasarkan pada beratnya koin dirham dan dinar yang ditetapkan pada masa awal periode Islam. Nilai satu dinar sama dengan sepuluh dirham.
 
Secara alamiah transaksi yang berada di daerah Mesir atau Syam menggunakan dinar sebagai alat tukar, sementara itu dikekaisaran Persia menggunakan dirham. Ekspansi yang dilakukan Islam ke wilayah kekaisaran Persia (Irak, Iran, Bahrain, Transoxania) dan kekaisaran Romawi (Syam, Mesir, Andalusia) menyebabkan perputaran mata uang ini meningkat. Bahkan pada masa pemerintahan Imam Ali, dinar dan dirham merupakan satu-satunya mata uang yang digunakan.
 
Dirham dan dinar memiliki nilai yang tetap. Karena itu tidak ada masalah dalam perputaran uang, jika dirham dinilai sebagai satuan uang, nilai dinar adalah perkalian dari dirham : dan jika diasumsikan dinar sebagai unit moneter nilainya adalah sepuluh kali dirham. Walaupun demikian, dirham lebih umum digunakan dari pada dinar karena hampir seluruh wilayah kekaisaran Romawi yang memiliki mata uang dinar dapat dikuasai Islam. Karena itu, mata uang dirham lebih popular di dunia usaha bangsa Arab.
 
Hal penting lainnya adalah pada masa Khalifa Umar Bin Khattab, administrasi keuangan kaum Muslim didelegasikan kepada orang-orang Persia. Pada saat itu mempekerjakan ahli pembukuan dan akuntan orang Persia dalam jumlah besar untuk mengatur pemasukan dan pengeluaran uang di Baitul Mal pembendaharaan Umum). Mereka juga menggunakan satuan dirham untuk membantu meningkatkan sirkulasi uang.
 
Selain menggunakan dinar dan dirham, alat pembayaran yang digunakan pada awal epriode Islam adalah kredit. Selain memiliki kelebihan dari dinar dan dirham sebagai alat pembayaran, kredit memiliki keuntungan lainnya. Misalnya untuk melakukan transaksi yang nilainya cukup tinggi tentu diperlukan koin-koin yang banyak untuk membayar, tentu tidak praktis karena hal itu berat dan olume yang dimiliki koin-koin itu mengurangi daya tariknya sebagai media pertukaran dan mungkin juga pada saat melakukan transaksi tidak mudah menyediakan dinar dan dirham secara mudah dan cepat.
 
Biasanya para pedagang yang berpengalaman dan bereputasi tinggi, akan menggunakan surat wesel dagang dan surat utang dalam transaksi bisninsya. Meningkatnya perdagangan antara Syam dan Yaman, yang berlangsung paling tidak dua kali setahun sebelum masa kenabian dimulai, menciptakan kemungkinan untuk menerbitkan dan menerima surat wesel tagih, cek, atau surat utang di antara pedagang-pedagang Quraisy dan Yaman. Tidak mungkin semua transaksi komersial di periode awal Islam menggunakan uang kas. Penyebarluasan penggunaan transaksi kredit sebelum Islam, dan fakta bahwa cara transaksi ini  dengan beberapa modifikasi diperbolehkan pada masa sesudah turunnya Islam, dan fakta bahwa cara transaksi turunnya Islam, merupakan indikasi semakin seringnnya transaksi jenis ini digunakan. Pada perkembangan selanjutnya, dalam transaksi yang dilakukan secara kredit kedua pelaku saling menyerahkan bukti penerimaan sebagai peraturan kredit. Jika surat-surat utang ini juga digunakan oleh pedagang-pedagang lain, bukti penerimaan itu dapat diterima sebagai alat pembayaran dan sama nilainnya dengan uang.
 
Surat-surat utang ini umum digunakan. Bahkan pada masa kekhalifaan Umar, diterbitkan surat pembayaran cek yang penggunaannya diterima oleh masyarakat. Umar menginstruksikan untuk mengimpor sejumlah barang dagangan dari Mesir ke Madinah. Karena barang yang diimpor jumlahnya cukup besar, pendistribusiannya menjadi terhambat. Oleh karena itu, Umar manerbitkan sejumlah cek kepada orang-orang yang berhak dan rumah tangga sehingga secara bertahap setiap orang dapat pergi ke bendahara kaum Muslimin dan mengumpulkan hartanya. Penggunaan sejumlah cek oleh Umar yang diterima oleh publik menunjukkan penggunaannya sebagai alat pembayarn pada awal Islam.
 
Metode lainnya yang digunakan dalam melakukan transaksi di Arabia, yang jga diterima oleh Islam dengan beberapa modifikasi adalah pembelian utang seseorang atau obligasi oleh pihak lainnya. Pada transaksi ini, biasanya surat utang dipertukarkan. Legitimasi yang diberikan Islam pada jenis transaksi ini menunjukkan penggunaannya pada awal periode Islam dan itu merupakan bukti lain adanya penggunaan kredit pada masa itu.
 
Pada saat yang sama, tidak bisa diasumsikan bahwa volume kredit, dibandingkan dengan jumlah uang dalam sirkulasi, cukup besar jumlahnya. Tingkat penggunaan instrument kredit terbatas pada beberapa pedagang. Keberagaman suku, peperangan yang berkepanjangan antarmereka, jarak yang jauh antara wilayah-wilayah bagian utara, tengah dan selatan dan kesulitan-kesulitan yang ditemukan dalam perjalanan, menunjukkan bahwa ada ketidakpastian di area itu akibatnya timbul rasa enggan untuk menerima alat pembayaran kredit.
 
Sekian tulisan dari informasi ahli mengenai Signifikansi Perdagangan Dan Alat Pertukaran Pada Awal Pemerintahan Islam, semoga tulisan dari informasi ahli terkait Signifikansi Perdagangan Dan Alat Pertukaran Pada Awal Pemerintahan Islam dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian.
 
Sumber Buku : Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam (Edisi Ketiga)
– Karim Azwar Adiwarman, 2016. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Penerbit : PT RajGrafindo Persada ; Jakarta.
Gambar Signifikansi Perdagangan dan Alat Pertukaran pada Awal Pemerintahan Islam